BARITA
BOA-BOA
PESTA
PARSERAHAN
LAPO
GORGA
OHOP
HUTA
SOARA
ADAT
MARGA
UMPASA
YAYASAN PUSUK BUHIT
INDEX
Minggu, 05 September 2010
sihorus nalobi sigohi nalonga  
WWW.PUSUKBUHIT.COM MEMBUTUHKAN REPORTER DAN BAGIAN IKLAN DI SELURUH KOTA SE-INDONESIA. SILAKAN KIRIM LAMARAN DAN BIO DATA KE EMAIL, REDAKSI@PUSUKBUHIT.COM. DITUNGGU, HORAS  
SILAKAN KIRIM BERITA, INFO APA SAJA DARI ANDA SEMUA: BOA-BOA, BARITA SIAN HUTA DLL KE PUSUKBUHIT.COM. KIRIM MELALUI EMAIL: REDAKSI@PUSUKBUHIT.COM. ATAU SMScENTER: 0819 600 0819 MAULIATE.  
HORAS ..... !!!  
LEGENDA TERJADINYA DANAU TOBA
Kamis, 18 Maret 2010 | 10:51:12
pusukbuhit - PADA suatu ketika, di sebuah pedalaman Sumatera di bawah gunung Pusuk Buhit, hiduplah seorang pria lajang yang sudah yatim piatu bernama Parsulangat. Usianya sebenarnya sudah matang untuk menikah. Tetapi hingga saat itu Parsulangat belum juga menemukan seorang gadis yang mampu menjadi tambatan hatinya. Pekerjaaannya sehari-hari adalah berkebun dan menangkap ikan.
Suatu hari dia membuat sebuah bubu yang sangat besar dengan harapan sekali pasang bubu itu akan mampu memerangkap banyak ikan. Namun setiap kali bubu tersebut dipergunakan ternyata tidak pernah mendapatkan seekor ikanpun. “Mungkin bubu-nya terlampau besar,” pikirnya dalam hatinya dan dia bermaksud hendak memperkecil bubunya tersebut.
Namun dia mendengar suara bisikan di kupingnya yang mengatakan agar dia jangan memperkecil bubu itu. Oleh karena itu Parsulangat pun membatalkan niatnya untuk memperkecil bubu tersebut dan dia kembali memasang bubu itu di sebuah sungai kecil yang ada di bawah gunung Pusuk Buhit.
Ia meninggalkan bubu besar tersebut di sungai kecil selama satu malam, dan besoknya ketika dia pergi mengangkat bubu itu betapa terperanjatnya dia melihat seekor ikan yang amat besar di dalam bubu itu. “Dari mana gerangan datangnya ikan sebesar ini di sungai yang kecil ini,” katanya dalam hati dalam penasaran bercampur senang.
Lalu Parsulangat bermaksud ingin pulang ke rumahnya tetapi memutuskan untuk tidak memperlihatkan ikan itu kepada siapapun. Oleh karena itu diam-diam dia lalu bermaksud menyembunyikan bubu dan ikan itu di soponya (rumah kecil di tengah ladang) sambil mencari orang yang bersedia membeli ikan itu dengan harga mahal.
Keesokan harinya, dia kembali ke sopo itu untuk melihat ikan besar tersebut. Ketika tiba di sopo itu betapa terkejutnya dia tidak menemukan lagi ikannnya di dalam bubu tersebut. Sebaliknya dia malah menemukan seorang wanita muda yang cantik dan jelita sedang membersihkan dirinya dari keping-keping uang yang menempel di kulitnya yang halus. Keping - keping uang tersebut rupanya adalah sisik-sisik ikan tersebut.
Namun Parsulangat tidak berbahagia melihat semuanya itu.
“Milik siapakah wanita berparas cantik ini?” pikirnya. Seandainya dia bersedia menjadi isteriku, hidupku pasti Akan sangat bahagia” pikirnya.
Ia lalu memberanikan diri untuk bertanya kepada wanita itu.
”Adinda berasal dari mana? Mengapa dinda berada di sini?” tanya Parsulangat dengan harap-harap cemas.
“Akulah ikan yang kakanda tangkap di dalam bubu itu,” kata perempuan itu dengan suara yang sangat lembut dan membuat Parsulangat semakin takjub. “Aku adalah puteri dewata dari sebuah negeri di khayangan yang terkutuk karena tidak sudi menjadi permaisuri seorang penguasa langit yang berhati jahat. Tetapi berkat doa orangtuaku aku ditakdirkan akan menjadi manusia dan bisa menjadi penghuni bumi jika seorang lelaki menemukanku,” katanya dengan sinar muka bahagia.
“Oleh karena itu aku ingin mengucapkan terimakasihku kepada kakanda”. Ijinkanlah aku untuk tinggal di sopomu ini.
Dalam keterpesonaannya mendengar cerita perempuan itu Parsulangat kemudian berkata, “Oh tentu … tentu… Silahkan tinggal di sini selama adinda inginkan…”
Setelah itu Parsulangat sudah ingin melangkah keluar meninggalkan sopo tersebut. Tetapi tanpa disadarinya mulutnya berkata kepada perempuan itu, “Maukah dinda menjadi isteriku?. Kalau dinda mau aku akan sangat bahagia seumur hidupku”.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Perempuan itu ternyata mengangguk tanda bersedia menjadi isteri Parsulangat. Tetapi dia berkata, “Hanya dengan satu syarat. Kakanda harus berjanji bahwa apapun yang terjadi nanti di dalam keluarga kita, kakanda tidak boleh menyebutkan asal usulku yang berasal dari seekor ikan”.
Dengan cepat Parsulangat mengangguk tanda menyetujui syarat itu dan berjanji akan menjaga perjanjian itu dengan baik.
Setahun kemudian, kebahagian keluarga baru itupun bertambahlah dengan kelahiran seorang anak laki-laki. Sayangnya sejak lahir anaknya itu seringkali rewel sehingga membuat Parsulangat ayahnya kewalahan untuk membujuk dan mendiamkannya. Ini terjadi berulang-ulang sehingga sering membuat Parsulangat kehilangan kesabarannya dan menumpahkan kemarahannya kepada anaknya itu.
Suatu hari anaknya kembali rewel. Dan saat itu Parsulangat tidak dapat lagi menahan amarahnya dan lupa dengan perjanjian yang dibuatnya terhadap istrinya dan mengatakan kepada anaknya “Anak tak tau diri. Dasar kamu anak seekor ikan”.
Istrinya yang saat itu mendengar perkataan Parsulangat sangat terkejut dan bersedih hati. Perempuan itu lalu berkata kepada Parsulangat bahwa dia sudah ingkar janji untuk tidak pernah membocorkan asal usulnya.
“Tinggallah kamu beserta anakmu itu, aku akan pergi dari sini selamanya.”
Perempuan itu kemudian melompat ke sungai kecil dimana Parsulangat dulu menangkapnya dalam bubu dan perempuan itupun segera berubah menjadi ikan lalu menghilang dan tidak pernah kelihatan lagi.
Tiba-tiba kilat, petir, gemuruh dan hujan yang begitu deras bahkan angin puting beliung terjadi seketika itu. Tanah di sekitar itu menjadi terbelah oleh guncangan seekor naga yang selama ini berdiam di bawah gunung pusuk Pusuk Buhit. Lalu air mengalir dari bawah tanah dengan deras menenggelamkan banyak kampung di sekitar gunung Pusuk Buhit hingga menjadi sebuah danau yang sangat besar dengan sebuah pulau di tengah-tengahnya.
Danau itulah yang menjadi Danau Toba yang indah itu, dan pulau di tengah-tengahnya itulah yang menjadi Pulau Samosir. « WAWANCARA HARDONI SITOHANG DENGAN TRIBUN BATAM - FACE BOOK PETRUS SITOHANG - en*
foto:
Desa Harian Boho di tepi Danau Toba kampung kelahiran musisi tradisional Batak Sitohang bersaudara: Martogi Sitohang, Hardoni Sitohang dan Martahan Sitohang dipandang dari perbukitan Tele. *petrus sitohang*
Bagikan
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*
:
Email Anda*
:
Website Anda
:
Komentar Anda*
:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
+
INDAH BANGET KAMPUNGMU INI
+
APA YANG MENGUBAH BATAK?
+
PATUT MALU PADA LELUHUR ORANG BATAK
+
ARKEOLOG: TIDAK SEMUA BENDA KUNO MASUK BCB
+ Index
+
WISATAWAN ASING TERJEBAK DI KOTA POTOSI-BOLIVIA
+
55 TURIS KORSEL DISELAMATKAN SETELAH TERJEBAK...
+
SATU ORANG TEWAS, 42 CEDERA AKIBAT KERETA...
+
DUBES THAILAND TAWARKAN KERJA SAMA PARIWISATA...
+ Index
+
LAGUBOTI HASILKAN TAPIOKA 250 TON PER HARI
+
IKAN MALAS 'SIOTO' DANAU TOBA BERPOTENSI EKSPOR
+
SUWANDY PURBA : HARGA JAGUNG PIPIL DI SUMUT...
+
AMRI TAMBUNAN: JEPANG TAWARKAN BANTUAN AHLI...
+ Index
+
MUSEUM SONOBUDOYO DIRANCANG JADI BERTARAF...
+
BENNY PASARIBU, ANTON SIHOMBING, GALUMBANG...
+
KONFLIK LAHAN ITU MENGERUCUT KE PELECEHAN...
+
PROF PARIMARTHA: BANGUNAN MEGAH ABAIKAN NILAI...
+ Index
+
TOBA PULP KUCURKAN DANA CD RP57 MILIAR
+
HARGA MATI UNTUK PENYELAMATAN DANAU TOBA
+
PELUANG INVESTASI DI KABUPATEN SAMOSIR TERBUKA...
+
LIMA MENTERI TINJAU MUSEUM BATAK DI BALIGE
+ Index
Copyright © © 2010 | All Rights Reserved | PUSUK BUHIT | Powered by: Mimient