BARITA
BOA-BOA
PESTA
PARSERAHAN
LAPO
GORGA
OHOP
HUTA
SOARA
ADAT
MARGA
UMPASA
YAYASAN PUSUK BUHIT
INDEX
Selasa, 07 September 2010
sihorus nalobi sigohi nalonga  
WWW.PUSUKBUHIT.COM MEMBUTUHKAN REPORTER DAN BAGIAN IKLAN DI SELURUH KOTA SE-INDONESIA. SILAKAN KIRIM LAMARAN DAN BIO DATA KE EMAIL, REDAKSI@PUSUKBUHIT.COM. DITUNGGU, HORAS  
SILAKAN KIRIM BERITA, INFO APA SAJA DARI ANDA SEMUA: BOA-BOA, BARITA SIAN HUTA DLL KE PUSUKBUHIT.COM. KIRIM MELALUI EMAIL: REDAKSI@PUSUKBUHIT.COM. ATAU SMScENTER: 0819 600 0819 MAULIATE.  
HORAS ..... !!!  
APA YANG MENGUBAH BATAK?
Sabtu, 31 Juli 2010 | 15:19:53
Oleh Suhunan Situmorang
KERAP saya bertanya: gerangan apakah kiranya yang menyebabkan sifat dan perilaku orang Batak hingga dinilai ‘kasar’, terutama oleh non-Batak? Sementara, bila dicermati, masyarakat Batak sesungguhnya berasal dari sebuah komunitas yang kuat dikurung tata-krama dan sopan-santun hasil ajar-ajar para leluhur. Hampir semua bidang kehidupan punya aturan, termasuk sapaan dan panggilan, yang tak sembarang diucapkan.
Mari kita mulai dari kata 'santabi' yang menampakkan rasa hormat pada pihak lain dan diucap dalam interaksi sehari-hari masyarakat hingga saat acara resmi keluarga dan adat (loloan natorop).
Bila seseorang mau tanya arah jalan atau suatu tempat, marga seseorang, atau saat mengaju pendapat dalam acara adat atau rapat keluarga-kerabat, lazim didahului kata santabi. Bahkan dalam hubungan yang bersifat mistis atau takhayul, ketika melintasi alam atau tempat yang dianggap keramat, tak lupa menyebut kata yang satu ini. Kata santabi begitu penting hingga seseorang akan dianggap lancang, tak beradat, bila abai menyebut dalam suatu kesempatan atau permohonan yang melibatkan pihak lain.
Selain 'marsantabi', orang Batak dituntut pula menjaga tata-krama saat melakukan kontak atau hubungan sosial, baik di lingkungan keluarga inti (batih), famili, kerabat, tetangga (dongan sahuta), dan pemerintah (zaman dahulu: raja huta, raja bius, dan raja-raja lain yang tidak sama persis pengertiannya dengan raja dalam kerajaan atau kingdom).
Panggilan atas diri seseorang bukanlah asal sebut dan terbangun begitu saja, melainkan berdasarkan status dalam keluarga dan hubungan perkerabatan (partuturon) dengan pihak lain. Kata-kata yang digunakan pun pilihan, bukan yang biasa terucap, lebih halus derajatnya macam kromo inggil dalam masyarakat Jawa. Beberapa kata kerja, kata benda, kata sifat, kata keterangan, dalam Bahasa Batak, mengenal derajat, dan itu menunjukkan kualitas seseorang.
Dahulu, orang Batak pun amat hormat pada alam, hingga untuk menebang sebatang pohon, umpamanya, harus permisi dan menyebut alasan menebang.
Demikian halnya lahan yang digunakan untuk menanam padi, mata air (mual) dan danau untuk keperluan tanaman dan hajat hidup, dirawat dan dihormati. Pekerjaan dan keahlian seseorang pun dihormati, mulai petani, peternak, nelayan, penenun, pandai besi, pengukir, hingga pemain musik gondang sabangunan (pargonsi). Bila meminta satu repertoar, misalnya, terlebih dahulu 'paminta' atau protokol acara tortor, mengajukan permohonan berisi pujian kepada pargonsi dengan tekanan frasa 'pande bolon' (ahli yang sungguh hebat).
Syarat utama untuk memilih seorang pemimpin pun lebih karena pertimbangan sikap, perilaku, terutama cara bicara yang santun dan bermutu tinggi hingga piawai memberi petuah dan argumentasi, yang disuarakan secara tegas namun menyisipkan kerendahatian (mangelek).
Tata-krama, termasuk cara bicara, ternyata begitu penting bagi manusia-manusia Batak pemula. Tentulah mereka punya maksud tersendiri kenapa sedemikian ketat membuat aturan yang melingkupi aktivitas dan kehidupan setiap insan, yang esensinya memelihara respek atau penghormatan bagi orang lain dan alam, termasuk menciptakan sebuah nasehat (poda) yang berkata: 'Pantun hangoluan, tois hamagoan' (terjemahan bebas: sopan-santun sumber keberhasilan, sementara sikap congkak akan menimbulkan kerugian atau masalah).
Lalu, kenapa perkembangan selanjutnya, khususnya di rantau, banyak orang Batak gagal mempertahankan tata-krama dan sopan santun hingga kemudian dicap orang lain (terutama etnis lain), Batak itu suku yang kasar? Apakah sebenarnya faktor yang membuat banyak orang Batak terputus dari nilai-nilai budaya yang seharusnya justru membuat mereka punya kelebihan dibanding masyarakat lain, apalagi sudah bertambah bekal dengan menganut agama dan pendidikan yang diyakini membawa pencerahan dan peradaban yang lebih modern?
Apakah faktor kemiskinan di masa lampau dan perjuangan supaya bisa 'survive'—karena populasi kian bertambah di tengah lahan yang amat terbatas—membuat banyak orang Batak perlahan-lahan menanggalkan nilai-nilai adat, norma sosial, dan bahkan norma agama? Apakah perubahan yang tak menggembirakan itu dibawa para perantau yang begitu keras bertarung di ranah jauh, yang tak sadar mereka tebarkan ketika kembali ke 'Bonapasogit'?
Bila memang karena faktor-faktor yang disebut di atas, lalu kenapa tak demikian halnya, katakanlah, orang Jawa yang dahulu juga rata-rata miskin dan banyak merantau, bahkan lebih jauh dari perantauan orang Batak. Apakah karena perantau orang Batak mendapat tantangan yang lebih keras, terutama karena perbedaan keyakinan dan budaya yang amat tajam dengan masyarakat lain yang ditemui? Atau, ini menyangkut karakter dasar yang sudah sejak semula disadari para leluhur hingga dibuat begitu banyak aturan dan norma, termasuk menekankan betapa penting mencapai derajat 'anakni raja' dan 'boruni raja'?
Coba sama-sama kita pikirkan, tapi jangan bilang: tanyalah rumput yang bergoyang, karena itu bukan jawaban.***
* Dimuat di Koran Batak Pos, Sabtu 31 Juli 2010
Bagikan
Ada 1 Komentar
dirmansu sitompul
| 11/08/10. 10:08:32
Izinkanlah saya memberi komentar sebagai berikut: Orang Batak itu memahaminya seringkali harus dari keBATAKannya. Faktor genetika memegang peranan penting, dipadukan dgn lingkup alam yg keras serta marwah dan budaya yg memang totaliteir minded. Untuk kela
Silahkan Beri Komentar.
Nama Anda*
:
Email Anda*
:
Website Anda
:
Komentar Anda*
:
Redaksi tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang diberikan oleh pembaca.
Harap menggunakan bahasa yang SOPAN dalam memberi komentar.
+
INDAH BANGET KAMPUNGMU INI
+
APA YANG MENGUBAH BATAK?
+
PATUT MALU PADA LELUHUR ORANG BATAK
+
ARKEOLOG: TIDAK SEMUA BENDA KUNO MASUK BCB
+ Index
+
WISATAWAN ASING TERJEBAK DI KOTA POTOSI-BOLIVIA
+
55 TURIS KORSEL DISELAMATKAN SETELAH TERJEBAK...
+
SATU ORANG TEWAS, 42 CEDERA AKIBAT KERETA...
+
DUBES THAILAND TAWARKAN KERJA SAMA PARIWISATA...
+ Index
+
LAGUBOTI HASILKAN TAPIOKA 250 TON PER HARI
+
IKAN MALAS 'SIOTO' DANAU TOBA BERPOTENSI EKSPOR
+
SUWANDY PURBA : HARGA JAGUNG PIPIL DI SUMUT...
+
AMRI TAMBUNAN: JEPANG TAWARKAN BANTUAN AHLI...
+ Index
+
MUSEUM SONOBUDOYO DIRANCANG JADI BERTARAF...
+
BENNY PASARIBU, ANTON SIHOMBING, GALUMBANG...
+
KONFLIK LAHAN ITU MENGERUCUT KE PELECEHAN...
+
PROF PARIMARTHA: BANGUNAN MEGAH ABAIKAN NILAI...
+ Index
+
TOBA PULP KUCURKAN DANA CD RP57 MILIAR
+
HARGA MATI UNTUK PENYELAMATAN DANAU TOBA
+
PELUANG INVESTASI DI KABUPATEN SAMOSIR TERBUKA...
+
LIMA MENTERI TINJAU MUSEUM BATAK DI BALIGE
+ Index
Copyright © © 2010 | All Rights Reserved | PUSUK BUHIT | Powered by: Mimient