ADAT BATAK

 

Oleh JOHN B PASARIBU

Adat Batak indah dalam segala segi kehidupan manusia Batak, walaupun demikian ada saja yang menentang dan membenci Adat Batak tersebut dengan berbagai alasan dan beragam argumentasi. Tanpa mengulang-ulang hal terkait dengan adat Batak, maka salah satu yang memerpoleh sorotan masa kini terutama di kota Jakarta adalah : bagaimana melaksanakan adat Batak yang efisien.

 

Efisiensi berhubungan dengan dua hal utama, yaitu:

a. waktu,

b. Uang.

 

Uraian berikut ini adalah acuan yang boleh diterima dan tetap akan mendapatkan suara pro dan kontra, maka simaklah idenya dan pertimbangkan untuk ikut melaksanakannya.

 

  1. i. Ide Efisiensi.

Ketika kegiatan sosial kemasyarakatan menjadi bagian dari kepedulian insan Indonesia, maka salah satu bidang khusus yang menarik perhatian adalah Adat. Kebiasaan yang menjadi Adat melambangkan suka cita dan kepuasan jiwa karena dengan cara  memenuhi semua hal yang ditentukan oleh Adat maka warga masyarakat merasakan betapa tugas dan kewajibannya sebagai anggota Adat telah terlaksanakan dengan baik. Semua pihak yang terkait dengan Adat tersebut memberikan dukungan moral atas pelaksanaan Adat yang lengkap dan dilaksanakan dengan partisipasi aktif para warga Adat yang menjadi warga dari satu rumpun atau suku adat dan budaya tertentu. Masa lalu, bahkan juga beberapa tahun lalu, pelaksanaan Adat terkait dengan tiga hal utama:

 

  1. memenuhi nasehat dan kebiasaan tetua Adat
  2. memberikan kontribusi sebagai lambang dan bukti dari kepatuhan pada kebiasaan atau adat tersebut
  3. mewariskan nilai luhur kebiasaaan kepada generasi baru

 

Namun hal itu saja tidak lagi cukup untuk masa abad 21 ini. Ada dua hal lainnya yang harus dipertimbangkan dan menjadi bahan pembicaraan umum masyarakat Adat. Dalam hal ini yang dibahas dan diuraikan adalah Adat Batak. Anggota masyarakat Adat Batak abad duapuluh satu sudah mempunyai dua kelompok utama, yaitu:

 

  1. kelompok yang lahir sebelum tahun 1965
  2. kelompok yang lahir setelah tahun 1965

 

Kelompok pertama masih kental dengan nuansa Adat Batak sendiri, terasa kehausannnya pada Adat Batak yang utuh, dengan alasan:

 

  1. Adat Batak yang dapat dilaksanakan secara utuh menjamin keberadaannya dalam masyarakat Adat itu sendiri.
  2. Nasehat dan pelaksanaan Adat yang sempat dilihat dan diikutinya bersama orang tuanya memberikan kesan baik bagi dirinya, karena tatanan Adat yang membentuk dan melanggengkan kekerabatan persaudaraan lebih banyak positifnya dibandingkan dengan negatifnya, semisal: seperasaan dan sepenanggungan itu masih kuat dalam kehidupan keseharian mereka.

Kelompok kedua sudah mulai jauh dari Adat dan pelaksanaannya, karena dua hal:

 

  1. bahasa Adat adalah Bahasa daerah (Batak), yang tata-krama bahkan ucapan serta petuah dalam pepatah-petitihnya sudah tidak ada lagi dalam kamus mereka. Sedang mempelajari bahasa Batak sangat sulit.
  2. waktu yang tersedia untuk menggeluti Adat itu sendiri sudah tidak ada, karena suami dan isteri sudah sibuk dengan karirnya masing-masing serta urusan rumah tangga perhatian dan waktu untuk adat tidak lagi seutuh sebelumnya.

 

Dalam hubungan itulah terbersit keinginan dan hasrat masyarakat Adat Batak untuk menyatu dalam kelompoknya yang masih menyatu di dalam organisasi Adat Batak. Setiap warga adat Batak yang beragam kelompoknya memberikan perhatian akan setiap kegiatan dan aktivitas kelompoknya yang merupakan kerinduannya bersatu dalam kebersamaan Adat. Tetap saja mereka terobsessi untuk suatu pelaksanaan acara dan upacara adat Batak yang lebih sederhana alias efisien serta yang dapat dilaksanakan serta diikuti semua warga Adat Batak. Dapat diterima dan dilaksanakan secara nasional maupun dalam bentuk pelaksanaan Adat yang bersifat kewilayahan.

Hal yang utama adalah dalam dua pokok acara Adat Batak, yang sering membutuhkan waktu yang lama, yaitu:

 

  1. Adat Pernikahan
  2. Adat Kematian, khususnya kematian Orang yang sudah tua.

 

Dengan kepedulian demikianlah maka suatu konsep efisiensi pelaksanaan Adat Batak disusun secara sederhana. Tujuannya adalah melestarikan Adat dan Budaya tersebut tanpa beban khusus bagi generasi penerus. Adat memang selalu dibutuhkan karena Adat adalah lambang keteraturan.

 

Dengan memahami dan melaksanakan Adat maka setiap warga Adat akan merasa aman dan nyaman. Persaudaraan serta kekerabatan akan terasa akrab dan rasa kepedulian sebagai implementasi kasih sesama akan terlaksanakan dengan baik dan benar.

 

Sungguh teryakini bahwa melestarikan Adat bukan dengan mengajarkan secara teori dan melalui buku bacaan, melainkan dengan cara menyertakan semua pihak warga Adat itu sendiri untuk ikut serta melaksanakannya, baik sebagai situan na torop (undangan umum) maupun sebagai suhut (tuan rumah) terutama sebagai perangkat kegiatan Adat itu sendiri ( raja parhata dan yang bertugas memberikan sambutan).

  1. ii.            Melaksanakan Adat dengan beriman.

 

Sifat dan tujuan hidup dan kehidupan manusia  adalah keteraturan menuju suka cita dan damai sejahtera. Untuk itu Adat adalah salah satu sarana, dan iman mengikatnya dalam kasih sesama.

Memang dengan memadukan Adat (yang baik dan positif) dengan  Iman – Agama yang lebih mengarah pada pedoman hidup yang teratur dalam kisi-kisi nyata dan fakta, sesuai dengan kehendak Tuhan Bapa Surgawi, hidup dan kehidupan manusia akan sejahtera.

 

Memahami fungsi dan makna Adat Batak secara mendasar dapat mendorong setiap warganya untuk secara patuh mengikuti dan melaksanakannya dengan sepenuhnya. Mengapa? Karena Adat sebagai kebiasaan secara nyata memang menata dan menjamin keteraturan dalam pergaulan kemanusiaan antar sesama warga Adat baik kedalam maupun keluar. Dengan demikian maka warga Adat memerlukan pemahaman mendasar tentang Adat Batak yang menjadi perekat kerukunan diantara sesamanya.

 

Memenuhi syarat kelengkapan Adat memberikan jaminan kepada warganya atas suatu keserasian hubungannya dengan sesama warga. Serta memberikan kepastian akan hak dan kewajibannya sebagai warga Adat. Kepenuhan syarat dan kelengkapan ketentuan Adat yang dilaksanakan memberikan rasa sejahtera jiwa bagi warga Adat.

 

Oleh sebab itu sangat tidak suka warga Adat kalau mengingkari atau ada rasa bersalah kalau warga Adat mengabaikan tata kehidupan adatnya. Pengingkaran terhadap Adat memang keras hukumnya disebut dengan orang yang tidak ber-adat, atau  na so marAdat. Julukan na so maradat, menyudutkan seseorang pada suasana yang mirip dengan pengucilan, karena hak dan kewajibannya sebagai warga Adat telah gugur dengan sendirinya.

 

Tentu saja menjadi suatu cacat warga Adat apabila seseorang sempat disebut sebagai orang yang tidak beradat atau na so maradat. Penempatan seseorang di dalam kelompok ini adalah suatu sanksi yang sangat keras, karena dengan predikat demikian seseorang tersebut hilang haknya dalam pergaulan Adat sekaligus tidak ada kewajibannya dalam tatanan Adat tersebut. Keadaan dan situasi demikianlah yang memaksa keadaan sehingga pada awalnya tidak ada seorangpun yang mau menjadi orang yang tidak tahu Adat disebut na so maradat. Halnya dengan pergaulan Adat yang ketat dengan pertemuan dan perjumpaan sehari-hari di kawasan desa tempat tinggal warga adalah juga salah satu penyebab mengapa setiap warga desa bersehati untuk ikut dan patuh pada Adat itu.

 

Pada dasarnya, di perantauan (bagi yang merantau) atau di setiap pelosok dunia bagi mereka yang memang sudah lahir di tempat tinggalnya sekarang, akan halnya dengan pemenuhan syarat dan ketentuan Adat sudah semakin longgar. Warga Adat selalu rindu akan kebersamaan dan antusias untuk pertemuan. Kebersamaan dan pertemuan yang masih tersisa era abad 21 ini, khusunya di perkotaan hanyalah Pesta Adat itu, disamping adanya kumpulan atau Arisan berkala. Keduanya baik acara dan upacara Adat maupun Arisan keluarga bagi generasi era tahun 1970-an bukan lagi hal yang menarik bahkan sudah jauh ditinggalkan oleh masyarakat Adat itu sendiri. Masa peralihan ini kemungkinan masih berlangsung hingga duapuluh tahun kedepan, yaitu sekitar tahun 2025.

Setelah tahun 2025, maka warna Adat Batak akan berubah dari warna padat serta ketat menjadi warna samar dan transfaran. Maka kerinduan warga Adat di mana saja mereka berada, selain warga yang masih tinggal di kawasan Tapanuli. Warga Adat Batak yang di perkotaan sudah merasakan kebutuhan baru akan Adat itu. Bagaimana generasi muda tetap maradat dan melaksanakannya dengan baik tanpa mengorbankan banyak waktu dan uang.  Intinya adalah adanya pemikiran manusia modern adalah agar Adat dan Imanku dapat berlangsung dengan baik, seiring dan sejalan. Kearah itu jugalah konsep efisiensi Adat ini diarahkan agar menjadi bahan dan bahasan menarik bagi generasi muda Adat serta dapat berkiprah pada pergaulan mereka sehingga Adat Batak itu dapat memiliki nilai tersendiri bagi mereka. Kalau pembaca buku ini tahun 2009 adalah mereka yang berusia 35 tahun keatas, maka pada tahun 2025 kemungkinan usia mereka sudah menjadi 52 tahun keatas bahkan sudah akan ada yang kembali kepangkuan Bapa Surgawi. Perlu digaris bawahi sejak dini bahwa sesungguhnya Adat dan Agama adalah dua nadi Orang Batak, yang satu menunjukkan kekerabatan-pergaulan sesama warga Adat dan yang satu lagi mengindahkan dan melaksanakan firman Tuhan yang tujuan keduanya adalah sejahtera umat manusia dan pujian bagi Sang Pencipta yaitu Tuhan yang Maha Kuasa.

  1. iii. KONSEP EFISIENSI ACARA ADAT BATAK.

Latar Belakang  ide efisiensi.

Dari sekurangnya ada 12 acara dan upacara Adat Batak, maka ada dua acara yang paling menonjol pemborosan waktunya sekaligus paling mahal ongkosnya, yaitu:

 

1.   Adat Pernikahan

2.  Adat kematian tetua Adat.

 

Pemborosan terjadi karena empat  hal:

  1. Jumlah pihak yang terlibat cukup banyak serta kehadiran warga masing-masing pihak juga cukup banyak.
  2. Acara dan upacara untuk masing-masing pihak yang hadir mengakumulasikan waktu yang banyak.
  3. Pelaksanaan Adat memang membiasakan sopan santun dengan peyediaan hidangan dan makanan yang cukup buat banyak orang (kadang kala ribuan) juga hal terkait dengannya berupa: ulos, makanan, uang dan acara hiburan.
  4. Adanya kebutuhan uang yang menggambarkan hamoraon yang didukung oleh hagabeon dan hasangapon, seakan berpesan: inilah sa’at berbagi karunia Tuhan yang diterima oleh yang melakukan pesta perhelatan (tidak hanya di kala ada suka juga di kala ada duka, karena kematian orang tetua Adat).

 

Sesungguhnya, ada juga keinginan warga Adat untuk berlama-lama menghadiri semua acara Adat yang berlangsung. Alasannya, mereka tidak memiliki tempat atau acara lain yang seakrab dan sebebas bicara dengan keakraban dalam acara Adat. Pertemuan dengan kerabat lama, dari segala sudut kehadirannya, memberikan kesempatan untuk mengucapkan: horas, atau halo, atau apa kabar?

Proses kehidupan manusia memang sudah ditetapkan oleh Tuhan yang Maha esa, sejak lahir ada proses yang harus dilalui, tanpa kecuali. Maka di perkotaan, mereka yang sudah lansia diatas 56 tahun, sudah kurang aktivitas dan kadang kala ada kecemasan akan kehampaan hidupnya. Maka salah satu arena menyambung suka cita kehidupan adalah menghadiri acara dan upacara Adat.

 

Disamping memenuhi kewajiban sebagai anggota Adat maka mereka juga dapat menerima sapaan selamat di kala bertemu dan bersua dengan sahabatnya dan teman lama, yang rata-rata sudah cukup berumur. Maka pertanyaan yang esensinya sangat kena mengena dengan efisiensi adalah:

 

  1. efisien untuk siapa
  2. mengapa dibutuhkan efisiensi itu
  3. apa saja yang dapat dihemat dan dilaksanakan

 

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, penghematan atau efisensi ini akan semakin bermanfaat pada generasi yang lahir sesudah tahun 1970-an. Mereka yang lahir tahun 1970-an tentu saja pada tahun 2025 diperkirakan sudah berumur 55 tahun keatas. Dengan demikian implementasi efisiensi Adat dalam konsep ini kiranya akan bisa dilaksanakan sekitar 15 atau 20 tahun kedepan.

 

Hal itu dimungkinkan karena kondisi dan situasi perantauan semakin mengerucut pada warga Adat yang lahir di perkotaan.

 

Faktor yang mendorong mereka menanyakan efisiensi adalah antara lain:

  1. suami dan isteri sudah sama-sama bekerja dan berkarya tidak ada lagi waktu senggang bahkan untuk keluarga atau anak sekalipun sudah sangat minim, yang tersisa adalah sabtu, Minggu dan hari libur.
  2. Pesta Adat biasanya dirancang dan dilaksanakan pada hari Jumat, Sabtu dan hari libur.
  3. Mengikuti setiap tahapan acara dan upacara dengan posisi sebagai hadirin atau situan na torop melelahkan dan menjadi pemborosan waktu
  4. Tahapan Adat yang paling mengena pada esensi dan inti Adat boleh saja dilaksanakan agar memenuhi syarat Adat tetapi pada dasarnya raja parhata banyak membuang waktu dengan asyik sendiri.
  5. Acara adat dan upacaranya masih asli bahasa batak sehingga mereka yang sudah kurang banyak berbahasa Batak merasa kaku dalam mengikutinya apalagi kalau diajak untuk memberikan kata sambutan atau mandok hata

v Efisiensi Adat Pernikahan.

 

Secara Adat kebiasaan maka pernikahan Adat Batak dilaksanakan dalam lima tahap, yaitu:

 

  1. Tukar cincin
  2. Patua Hata
  3. Marhusip
  4. Marhata sinamot
  5. Marunjuk

 

Ketika Injil memasuki tanah batak, maka pernikahan menjadi sah apabila kedua syarat pernikahan dilaksanakan, yaitu:

  1. pernikahan Adat
  2. pernikahan Agama

 

Oleh sebab itu pada tahapan pernikahan adat yang lima tahap, harus disisipkan dua tahapan Agama yaitu:

  1. martuppol
  2. manjalo pasu-pasu pardongan saripeon..

Oleh sebab itu Adat Pernikahan menjadi lebih panjang karena sam-sama penting maka tidak boleh ada yang tertinggal, urutannya menjadi:

v  Tukar cincin

v  Patua hata

v  Marhusip

v  Martuppol

v  Manjalo pasu-pasu pardongan saripeon

v  Marhata Sinamot

v  Marunjuk.

 

Dalam melaksanakan ke-tujuh langkah Adat dan Agama tersebut lalu apakah yang harus dilaksanakan, karena akan timbul pertanyaan tentang hal berikut ini:

  1. yang mana yang bisa dipersingkat
  2. dalam hal apa efisiensi bisa dilaksanakan
  3. siapa pelaku efisiensi itu
  4. bagaimana dengan kelanjutannya.

 

Memahami langkah atau tahapan Adat tersebut tentu saja membutuhkan kehati-hatian tentang memilih dan memilah apa saja yang bisa dan dapat dipertimbangkan untuk penghematan dan apa saja yang harus tetap apa adanya. Langkah yang tujuh tersebut akan dilaksanakan secara lengkap tetapi ada proses yang semakin padat sehingga terdapat penyempurnaan dalam arti efisiensi.

 

Efisiensi akan berpotensi dilakukan dengan dan dalam hal sebagai berikut:

  1. a. Tukar Cincin.

Pada dasarnya, tukar cincin sudah seakan tahap yang bisa dilupakan. Oleh sebab itu acara ini hanya memiliki arti khusus apabila kedua belah pihak merasakan ikatan tukar cincin itu justru membuka wawasan penjajakan kesesuaian diantara mereka. Kemudiannya acara ini bisa secara umum ditiadakan.

  1. b. Patua Hata.

 

Tahapan ini masih memiliki arti dan makna yang sangat strategis karena dengan acara inilah para pihak (laki dan perempuan) menjadi saksi hidup atas kata kesepakatan calon mempelai untuk membentuk rumah tangga baru. Dan para pihak yang hadir serta ikut menjadi saksi sa’at melaksanakan patua hata akan memegang janji diantara mereka untuk menjaga dan menasehati kedua calon mempelai agar tetap memegang janjinya serta memelihara keimanannya masing-masing.

Sejak langkah ini maka kedua pihak orangtua sudah mempunyai hubungan kekeluargaan yang walapun masih bersifat awal dan malu-malu tetapi hubungan dan ikatan itu sudah menjadi ikatan yang diadatkan oleh para anggota Adat karena patua hata adalah langkah awal adat pernikahan.

  1. c. Marhusip.

 

Kegiatan marhusip ini (atau ada yang mengatakan marhori-hori dinding) adalah pembicaraan awal tentang syarat dan ketentuan pelaksanaan pernikahan dalam tatanan Adat yang mengikat para pihak.  Secara umum, patua hata dan marhusip sudah dilaksanakan menjadi satu acara yang berkelanjutan, setelah restu orangtua diberikan pada rencana pernikahan calon mempelai maka pihak calon mempelai pria akan memohonkan pembicaraan Adat lanjutan (melangkah pada) pada acara parhusipon.

Marhusip sering dipilih pada hari libur atau hari tertentu agar para warga yang diundang dapat hadir tanpa beban tersendiri, sekaligus calon penganten yang  biasanya sudah memiliki pekerjaan tetap dapat leluasa mempersiapkan diri untuk hadir pada acara tersebut. Hal yang menjadi ikatan dalam marhusip adalah lima hal utama yaitu:

  1. jumlah sinamot (nantinya)
  2. julah ulos herbang
  3. waktu atau tahapan untuk hari martuppol dan mamasu-masu
  4. tempat acara Adat (pesta unjuk dimana)
  5. jumlah undangan berapa bagi tamu yang akan hadir

 

Walau masih ada hal lain yang dibicarakan namun inti pokoknya adalah kelima materi tersebut. Kesepakatan harus dimeteraikan dengan suatu acara penutup yang bermakna, yaitu masing-masing harus memenuhi janjinya.

Pada sa’at itulah ikatan Adat mulai bergulir, mulai dari sajian makanan dan pemberian uang muka sinamot. Bagi semua hadirin ada acara membagikan uang saksi yang disebut dengan ingot-ingot. Pantun dan pepatah yang biasanya diungkapkan adalah :

 

Togu urat ni bulu tumoguan do urat ni padang

Togu ni dok i uhum toguan do nidok ni padan

Dison tabagi ma ingot-ingot laos taolophon ma rap mandok: ” Ingot-ingot”.

  1. d. Martuppol.

Acara martuppol memerlukan pencatatan di gereja dimana acara akan dilaksanakan yang tentu saja syarat untuk itu sudah harus dipenuhi, terutama:

  1. surat parhuriaon masing-masing calon pengantin
  2. surat sidi
  3. surat baptis

 

Ketika acara partuppolon berlangusng maka ada salah satu pihak yang terbeban dengan penyediaan makanan ringan beserta. Partuppolon lebih sering dilaksanakan sore hari, sehingga gangguan kantor dan pekerjaan para pihak bisa diatasi dengan baik sanggahan dan keberatan dapat diajukan oleh pihak manapun yang terkait atau tertang janji apabila ada, namun suatu kenyataan selama ini hampir tidak ada yang mau mengikat janji di depan orangtua dan didepan gereja untuk menikah apabila ada ikatan lain dengan orang lain. Maka usai dengan martuppol, langkah Adat yang dilakukan kedua belah pihak adalah martonggo atau marria raja. Dalam acara Adat ini, masing-masing pihak menyelenggarakan rembukan untuk:

 

  1. membagi tugas diantara para keluarga yang menjadi petugas dalam acara unjuk nantinya.
  2. menentukan lingkup tanggung jawab masing-masing pihak dalam kegiatan pernikahan pada tanggal yang ditetapkan untuk menerima pemberkatan gereja dan dilanjutkan dengan acara Adat unjuk.

 

Kegiatan ini menjadi sangat resmi, karena para anggota keluarga dari dalihan Na Tolu ditambah pihak ke-empat (sihal-sihal) harus jelas peranan dan kontribusi mereka sehingga pelaksanaan nantinya tidak semrawut, atau perlu ada keteraturan agar aliran acara berjalan hikmat dan penuh suka cita.

 

Oleh sebab itu sudah menjadi suatu kebiasaan baru, bahwa sa’at selesainya martuppol maka acara martonggo raja atau marria raja dilaksanakan. Marria raja bagi tetamu pada acara unjuk dan martonggo raja bagi keluarga tuan rumah acara unjuk. Dalam hal ini ada dua kemungkinan,, yaitu:

 

  1. dialap jual, maka pihak parboru menjadi bolakan amak atau tuan rumah.
  2. ditaruhon jual maka pihak paranak bolahan amak atau tuan rumah. Dalam hal berlakunya (a), maka setelah martuppol acara yang dilakukan parboru adalah martonggo raja, sedang paranak marria raja. Sedang dalam hal (b), pihak paranak martonggo raja dan pihak parboru marria raja.

c.      marunjuk setelah manjalo pasu-pasu pardongan saripeon.

Pada sa’at acara di gereja, sedikit saja peran Adat yang berlangsung tetapi sangat tinggi esensinya yaitu menjemput penganten wanita dari rumah orang tuanya atau disebut dengan sibuha-buhai.

 

Sa’at sibuha-buhai inilah momen terakhir bagi calon mempelai wanita hadir sebagai gadis anak perempuan di rumah orangtuanya. Kunjungan berikutnya dia sudah membawakan nama baru, nyonya marga dari  suaminya. Nasehat dan petatah-petitih mengalir dari orang tua wanita setelah suguhan makanan yang menjadi tradisi adat batak  terhidang dengan lengkap yaitu: namargoar dan dekke simudur-udur.

 

Pelaksanaan pemberkatan nikah dilaksanakan oleh gereja melalui parhalado dengan pemberkatan dilakukan oleh pendeta atau partohonan yang bertugas untuk itu. Acara pemberkatan nikah bisa lama bisa juga cepat kalau disederhanakan. Tetapi hal ini tetap terpulang kepada minat dan niat para pihak terkait. Pada umumnya acara pemberkatan akan selesai mejelang tengah hari dan sudah tiba di gedung acara sebelum jam 13.00 – sehingga acara makan siang sudah dapat dilakukan pada jam tersebut.

 

  1. iv.        Tahapan Adat Pernikahan yang dapat dilakukan langkah efisiensi:

 

  1. Makan siang.

 

Hendaklah acara makan siang dapat dilaksanakan sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak tanpa molor karena ada pihak yang belum hadir. Kalau makan siang disepakati jam 12.30 biarlah doa sudah diucapkan pada jam tersebut, sehingga para tetamu dapat menikmati makan siang dengan suka cita. Karena menunggu dan menunggu bukan hanya pemborosan waktu tetapi juga pemborosan keteraturan karena tetamu yang sudah hadir sejak jam-jam sebelumnya banyak yang sudah lapar dan mereka bisa saja langsung makan tanpa menunggu doa makan dilaksanakan. Hal demikian itu harus dihindarkan.

 

  1. Ucapan selamat kepada pengantin.

 

Para tetamu atau hadirin yang ingin menyampaikan ucapan selamat kepada pengantin hendaklah melakukannya bersamaan di kala paranak menyampaikan hasrat mereka untuk menerima dukungan dana (tumpak) dari para pihak yang diundang.

Janganlah ada lagi pihak yang mengucapkan selamat kepada penganten secara terpisah, hendaklah bersama-sama saja. Sehingga aliran acara bisa berjalan dengan  baik tanpa gangguan apapun.

 

  1. Marbagi parjambaran.

 

Para pihak harus sudah siap melanjutkan acara makan setelah serah-serahan namargoar dan dekke untuk marbagi parhjambaran, dengan mengacu kepada daftar para tetamu yang berhak menerima jambar sesuai dengan daftar yang disediakan di kala melaksanakaan  tonggo raja atau ria raja.

Kalau bisa langsung diantarkan kepada pihak yang menerima dengan panggilan satu kali saja, dan petugas menurut tonggo-raja atau ria-raja sudah mengecek sebelumnya dimana para pihak yang menerima jambar tersebut duduk, agar jambar dapat diantarkan langsung.

 

  1. Marhata sinamot.

 

Adalah suatu penghematan waktu yang sangat berarti apabila marhata sinamot tidak lagi berpanjang-panjang, raja parhata harus to the point. Pepatah, umpasa-umpama boleh saja mewarnai Adat itu, tetapi jangan lagi terhenyak dalam kesenangan dan kenikmatan sendiri. Kesepakatan waktu marhusip hendaklah dinyatakan secara jujur jangan ada yang ditutupi lagi, karena marhusip sudah bagian awal dari marhata sinamot.

 

Hal-hal yang sudah disepakati ketika ada acara marhusip adalah juga hal yang dipertegas kembali di kala ada acara marhata sinamot. Hanya saja pada sa’at marhata sinamot dilaksanakan jumlah sinamot yang sudah disepakati harus diserahkan kepada para pihak yang wajar menerimanya.

 

  1. Penyerahan sinamot.

 

Masih saja ada kesan bahwa penyampaian sinamot yang suhi ni ampang na opat ditambah dengan ratusan envelop, yang maknanya sudah tidak jelas. Serahkanlah suhi ni ampang na opat secara hikmat dan benar, sedang yang lainnya, apapun namanya bisa diserahkan secara kelompok di kala pihak paranak menyerahkan parjambaran sebelum dekke siuk.

  1. Ulos herbang.

Ada kesepakatan cukuplah 17 ulos herbang diserahkan par boru kepada paranak, dan kalau bisa cukup 7 saja. Walaupun demikian kalau masih berkutat pada jumlah 17 ulos herbang hendaklah itu dituruti,jangan lagi marak kemana-mana sehingga jebakan Adat bisa dihindarkan. Kalau hati nurani sudah tidak lagi merasa sejahtera akan serahan ulos itu, maka eloklah ulos yang 17 saja. Bahkan, akan sangat indah kalau nyang menerima ulos herbang adalah mereka yang vtercantum sebagai npengundang dengan urutan hingga nomor tujuh atau sebelas saja. Kalau ada tambahan tentu saja harus sangat selektif.

  1. Ulos kepada pengantin.

Pada dasarnya disinilah orang Batak terjebak dengan adatnya yaitu mereka menyerahkan ulos herbang diikuti musik yang maha panjang menyebabkan hadirin lupa bahwa jam berputar terus. Saran adalah:

 

Serahkanlah uang dalam envelop pada sa’at menyerahkan ulos, cukup ulos herbang dari pihak yang dituakan saja, yang muda-muda dan yang punya hepeng lebih baik menyerahkan ulos hepeng saja, sehingga acara musik pun akan berkurang.    Memang ada pihak yang sangat dominan dalam Adat Batak yaitu hula-hula dan rombongannya yang sering berjumlah sangat banyak sehingga waktu yang mereka pergunakan menyerahkan ulos itu sangat lama, sehingga eloklah kiranya kalau:

 

  1. tulang penganten secara langsung menyerahkan sejumlah ulos sesuai dengan jumlah tulang yang hadir.
  2. Kelompok tulang dan lainnya cukuplah satu saja dari satu kelompok atau dari satu rombongan hula-hula atau tulang. Tanpa mengurangi rasa hormat parboru dan paranak kepada hula-hulanya dan tulangnya maka satu ulos dari setiap kelompok sudah menjadi suka cita tersendiri bagi yang melaksanakan pehelatan tersebut. Biarlah yang lainnya menyerahkan envelop berisikan  uang saja, sehingga tidak memakan waktu lama.

 

 

  1. Paulak une dan maningkir tangga.

 

Biasanya acara ini sudah standard, saling memberi dan saling menerima serta memanjatkan doa syukur dan permohonan kesehatan kepada Tuhan agar segalanya mendapat berkat dan penganten baru diberkati dengan segala kelimpahanNya, gabe, mamora dan marsangap.

 

Kedelapan urutan acara pada kegiatan marunjuk tersebut hendaklah dilaksanakan sesuai dengan makna dan esensinya. Penghematan waktu dan efisiensinya akan terasa dan indah manfa’atnya. Lain halnya dengan acara ”mangampu suhut kedua belah pihak” yang kelihatannya sudah standard langsung saja pada orang tua kedua mempelai.

Kalau ada yang masih memberikan kesempatan kepada sanak dan saudara dekat, hendaklah saling memahami inti mangampu adalah orangtua peganten saja. Hal ini secara rata-rata sudah tuntas dalam hitungan 15 menit saja atau kurang, sehingga kebosanan sangat terkendali dalam proses mangampu tersebut. Dengan acara yang singkat padat demikian maka semua hadirin merasakan suka cita penuh, acara selesai dalam suasana penuh makna Adat dan sejahtera semua yang hadir. Lagi pula, minat generasi muda juga akan tergugah untuk menghadirinya. Disamping mereka ikut sebagai pelaksana maka mereka juga menjadi pengamat yang mumpuni karena mereka melihat dengan mata sendiri dan mendengar dengan telinga sendiri dimanakah gerangan inti dan makna Adat itu.

 

 

¨    Efisiensi Adat Kematian.

 

Salah satu acara Adat yang padat dengan pemborosan adalah Adat untuk natua-tua yang meninggal dunia dalam konotasi:

 

  1. sari matua
  2. saur matua
  3. saur matua bulung.

 

Ada kelebihan orang Adat Batak, kalau seseorang sudah lanjut usia dan menerima karunia hagabeon sehingga bercucu dari anak laki dan anak perempuan. bahkan ada yang sudah bercicit, maka kepada orang tua tersebut dihadiahkan suatu acara kematian yang unik. Keunikan itu dalam arti: bagi na saur matua dan saur matua bulung, maka bukan airmata melepas mereka melainkan lagu dan tari (tortor) karena semasa hidupnya sudah menerima begitu indah karunia Tuhan dalam keturunan anak, cucu dan juga cicit. Tentu saja acara Adat semakin mengena dalam kekerabatan karena semua pihak akan datang dengan segala bentuk dan warna partisipasinya.  Dan pertanyaannya: Apa yang mau diefisienkan?

Pada dasarnya, acara saur matua dan saur matua bulung adalah acara menyampaikan ucapan terima kasih dari keturunan yang meninggal kepada semua kenalan dan sahabat satu keturunan Adat. Hal itu dikaitkan dengan kenyataan bahwa orangtua mereka semasa hidupnya telah memperoleh berkat Tuhan ingin dibagikan kepada sahabat dan warga Adat yang selama hidupnya menjadi sahabat dan rekan satu kegiatan adat.

 

Menekuni makna dari acara partuat ni na saur matua, maka pandangan akan tertuju pada dua hal:

 

  1. Kapan akan dimakamkan.. Pertanyaan ini sangat tepat, karena masa menunggu acara saur matua dan saur matua bulung bervariasi dari satu hari hingga tujuh hari.

 

  1. Apa boannya? Dalam hal ini sudah dimaklumi bahwa semakin banyak rejeki keturunannya semakin wah boan yang dikorbankan. Bahkan dilengkapi dengan beberapa ekor hewan sembelihan, bisa kerbau, sapi atau babi atau kombinasi daripadanya.

 

Maka dalam hal ini yang menjadi fokus perhatian untuk efisiensi adalah waktu dan biaya. Bagaimana waktu menunggu pada pemakaman dapat dipersingkat hingga maksimum tiga hari misalnya. Karena semakin lama menunggu, beberapa hari baru dimakamkan, maka akan semakin banyak biaya yang dikeluarkan. Biaya dimaksudkan adalah biaya untuk makanan dan minuman termasuk minuman yang menghangatkan di kala para tetamu bergadang menunggu di malam harinya. Sedang biaya acara puncak, disebut dengan acara maralaman, bisa dengan mudah terdeteksi dengan mengetahui dan menghitung berapa dan jenis apa hewan korban sembelihan, apakah:

  • kerbau saja,
  • lembu saja,
  • babi saja atau
  • kombinasi dari kerbau dengan babi atau
  • kombinasi lembu dengan babi atau
  • babi beberapa ekor.

 

Menunggu lebih lama sebenarnya ada alasan khusus. Alasannya adalah agar semua sanak keluarga dari seluruh penjuru nusantara sempat hadir memberikan penghormatan yang terakhir. Ada beberapa pertimbangan dalam hal waktu antara lain:

 

  1. di lokasi dimana manusianya sudah serba sibuk, maka tidak jarang kalau orang meninggal lebih dari satu malam, justru yang menunggu dan saling menghibur disana hanyalah kerabat dekat atau bahkan keturunan dari yang meninggal saja.

 

  1. Karena sudah direncanakan urutan acara maka sebahagian besar kerabat hanya datang pada dua cara saja, yaitu :
  1. Sa’at  mangarapot, dan
  2. Sa’at acara pemakaman dilaksanakan.

 

Memang menunggu kerabat dan keturunan yang meninggal dari seluruh penjuru memerlukan waktu yang lebih dari satu hari, namun kehadiran kerabat dari jauh lebih kena mengena apabila menyesuaikan dengan kesepakatan yang sudah diputuskan oleh mereka yang ada dan hadir sa’at acara mangarapot saja. Secara garis besarnya, masa menunggu acara penguburan akan sangat baik kalau disepakati menjadi rata-rata dan maksimum tiga hari saja. Akan halnya sifat dan keadaan khusus tentu saja tidak akan menghalangi warga Adat untuk menentukan jumlah hari yang paling sesuai dan disepakati para keturunannya terutama anak-anaknya sendiri.

Pengurangan jumlah hari dari maksimum 7 hari menjadi tiga hari cukup signifikan untuk efisiensi waktu, juga mempengaruhi biaya yang ditanggung pihak suhut.

 

Memang selama menunggu dalam hari dan malam sebelum pemakaman sangat umum dilaksanakan acara kebaktian berupa lagu dan nyanyian dan  doa serta diselingi oleh kata-kata penghiburan. Dalam hal ini memang Adat dan Iman sudah dipadukan menjadi bagian yang menyatu dalam acara Adat natua-tua ( demikian juga untuk usia yang lebih muda).

 

Kemudian yang dapat mempermudah komunikasi dari sudut dana, acara yang membutuhkan banyak dana tersebut memerlukan pemisahan secara khusus, dengan membagi beberapa komponen biaya yang harus dikeluarkan oleh suhut, yaitu:

 

a. biaya makanan dan minuman selama menunggu pemakaman, baik siang maupun malam yang biasanya terdiri dari makanan Adat berupa daging, ikan dan nasi serta lauk pauk lainnya.

b. korban sembelihan yang menjadi boan atau panjuhuti sesuai dengan adat partuat ni na saur matua tersebut. Umumnya adalah kerbau atau sapi ditambah dengan beberapa ekor babi menurut kesepakatan dalam acara tonggo raja.

c.   uang somba-somba kepada semua rombongan hula-hula

d.  biaya musik, gondang dan hiburan

e.   biaya pendukung lainnya.

 

Khusus untuk makanan ini, ada keterkaitan langsung dengan jumlah hari menunggu pemakaman, karena selama menunggu pemakaman tersebut tentu saja semua yang hadir harus disuguhi makanan dan minuman serta diberikan kesempatan mempergunakan  musik atau kelengkapannya demi memeriahkan acara dan mendukung penampilan atau partisipasi para kerabat yang memberikan penghiburan dimaksudkan.

Akan halnya dengan korban sembelihan, baiklah dikaji sedemikian rupa agar tidak ada kekurangan tetapi tidak ada juga berkelebihan. Dalam hal ini taksiran dan estimasi harus mendekati kebenarannya.

Dan yang paling utama adalah ketersediaan dana, yang menjadi tanggungan anak-anak dari yang meninggal tersebut.

 

Ada enam pokok himbauan utama dalam hal biaya tersebut:

 

  1. Laksanakan Adat dengan lengkap tetapi jangan lupa menyesuaikan kebutuhan biaya dengan keadaan keuangan sendiri.
  2. Sangat disarankan jangan sampai berhutang demi memenuhi hasrat untuk memberikan penghormatan terakhir secara besar-besaran., tapi janganlah pelit.
  3. Laksanakanlah Adat secara lengkap takarlah kemampuan.
  4. Susunlah anggaran agar usai acara tidak ada pihak yang menagih hutang dan tidak ada yang bersungut-sungut karena hal sekecil apapun itu harus diupayakan agar semuanya memperoleh kepuasan adatnya masing-masing.
  5. Janganlah terpola dan meniru secara tidak terkendali dengan mengacu kepada acara orang lain. Masing-masing memiliki kemampuannya sendiri-sendiri sehingga nyatakanlah diri sebagaimana adanya.
  6. Laksanakanlah adat itu dengan lengkap, bukan karena wahnya dalam biaya melainkan kesempurnaan acara adat yang memuaskan semua pihak.

 

Efisiensi waktu dan uang adalah sejalan. Memulai sesuatu yang baru selalu sulit karena banyak alasan. Tetapi kalau tidak pernah dimulai, maka efisiensi ini tidak akan terlaksanakan. Akibatnya pemborosan dan sungut-sungut selalu tumbuh subur. Marilah kita mulai dan marilah sepakat, karena kita adalah warga yang dipilih untuk hal-hal yang baik dan menyegarkan.

 

  1. v. ADATKU DAN IMANKU

 

    1. Kesamaan dan persamaan.

Berdasarkan literatur yang ada, ceritera yang berkembang di masyarakat dan penuturan para tetua Adat batak, maka salah satu hal yang yang tidak pernah lekang oleh hujan dan tidak hilang oleh panas matahari, adalah Adat. Masyarakat batak memiliki kebiasaannya sendiri dalam merekat persaudaraan diantara sesamanya. Kebiasaan masyarakat yang ketat dengan tatanan kekeluargaan tersebut berkembang dengan segala adaptasinya dan kebiasaan itu tetap disebut dengan Adat. Kebiasaan atau Adat itu padat dengan segala ikatan sesama dan penuh dengan keteraturan dalam tata-krama hubungan sesamanya.

 

Walau demikian tetap penuh rona dan warna kekeluargaannya, satu kepedulian – dalam makna sepenanggungan. Tatanan tersebut dikenal dengan Dalihan Na Tolu.

 

Ada tiga pilar komponen Adat yang hingga kini abad 21 - tetap sebagai pilar pemersatu dan penentu kedudukan warga Adat Batak dalam kehadirannya pada dan di dalam acara atau upacara Adat Batak tersebut. Ketiga pihak atau kelompok warga Adat Batak tersebut, adalah: (a) dongan sabutuha (sama-sama satu marga, (b) hula-hula ( satu marga dengan marga isteri) dan (c) boru (satu marga dengan suami anak perempuan). Marga adalah garis keturunan yang turun temurun dari kakek-moyang hingga keturunan kemudiannya. Maka sering disebut: nama marga atau family name.

Seakan tidak puas dengan tiga kelompok tersebut, maka belakangan dengan maraknya daerah perantauan, maka warga adat semakin mengenal kawan dan sahabat serta kalangan yang saling peduli serta mempunyai keterkaitan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka dibentuklah kelompok baru yang disebut dengan: sihal-sihal, kelompok yang memperkuat tiga kelompok inti, sehingga dalam pelaksanaan Adat tertentu kelompok keempat ini sudah mempunyai kedudukan yang pasti.

 

Iman dan agama Kristen memberikan keleluasaan bagi penganut Adat untuk melaksanakan Adatnya sepanjang tidak bertentangan dengan Agama. Yang paling utama adalah larangan adanya tuhan lain.selain. Di dalam masyarakat Adat itu sendiri, yang umumnya disebutkan dengan tiga pihak yang saling mendukung serta saling peduli bahkan menjadi umum disebut tiga dalam satu kesatuan bagaikan pepatah tua yang mengatakan: mereka tiga tetapi juga satu.

 

Dalam konsep trinitatis dalam konsep tiga tapi satu, memang ada tiga kelompok utama dalam Adat Batak, namun ketiganya menjadi satu. Ketiga kelompok tersebut melebur di kala ada hal yang menjadi kepentingan bersama, yaitu dalam keadaan suka dan duka dari segi Adat dan Budaya utuh.

 

Dengan demikian Adat yang didukung oleh tiga pilar kelompok Adat ditambah satu kelompok pendukungnya memang memiiliki kesamaan dengan Trinitatis yang adalah Tuhan yang mengasihi manusia dalam tiga peranan tapi dalam satu kesatuan ke-Ilahian. Tuhan adalah Allah Bapa, Tuhan adalah Yesus Kristus dan Tuhan adalah Rohul Kudus, keberadaannya utuh sebagai jamak menurut Kejadian 1, 26:” Befimanlah Allah: ”Baiklah kita menjadikan  manusia menurut gambar dan rupa kita ”.

Adat dan Iman memiliki kesamaan yang mengarah kepada ketenteraman dan keteraturan warganya, dan memiliki persamaan dalam tiga penampilan tetapi satu kepedulian yaitu kepedulian berlandaskan kasih sesama.

 

Karena kesamaan dan persamaan tersebut adalah tinggi nilainya maka ajaran dan pengajaran Kristus menyebutkan betapa perlunya saling mengasihi diantara sesama umat manusia apalagi dengan sesama rumpun warga Kristus. Hal itu juga berlaku bagi semua warga Adat yang mengatakan bahwa warganya (semua tanpa kecuali) harus saling peduli dan saling menghormati sesuai dengan posisinya di dalam tatanan Adat itu. Dengan kesamaan dan persamaan tersebutlah maka pada dasarnya dan menurut sifat hakikinya adat adalah perekat dan unsur percepatan penyebaran ajaran Kristus. Adat dan Iman yang dipayungi kasih Tuhan harus dilaksanakan dengan cara dan metode  sejalan dan seiring untuk ketenteraman warga dan umat manusia. Mereka, adalah manusia seutuhnya, yang harus  saling memberi dan saling menerima – seiring sejalan memenuhi panggilan jiwanya masing-masing dalam kisi-kisi kasih sesama.

 

Kearah demikianlah maka penuturan tentang efisiensi waktu, dana, daya dan upaya harus menjadi sesuatu yang perlu dimasyarakatkan dan dilaksanakan. Ketahuilah betapa indahnya kebersamaan yang saling menghormati (sesuai dengan Adat Batak), serta saling mengasihi (seturut ajaran Kristus) sehingga hidup dan kehidupan  manusia menjadi sejahtera dan penuh suka cita. Dalam kebersamaan adat yang saling menghormati kalau disirami oleh kasih sesama yang menjadi pilar ajaran Kristus, maka tidak ada lagi tingkah dan laku yang saling menyakitkan tetapi terpola suatu kehidupan dan peranan yang saling membutuhkan.

 

Dalam keadaan saling membutuhkan maka akan ada keyakinan yang mengatakan: yang ada adalah kita - bukan saya, bukan kami, bukan dia tetapi kita semua. Perjalanan hidup manusia dengan sikap dan sifat demikianlah yang berkenan bagi Tuhan serta sejahtera bagi semua umat manusia. Bukan sebatas satu kelompok etnis atau Adat atau suku melainkan secara menyeluruh atau universal. Berlaku bagi semua manusia di seluruh bumi pertiwi dan di seluruh persada bumi secara global.

    1. Adat dan kebutuhannya.

Adat adalah sarana untuk mempersatukan dan mensejahterakan warga Adat itu sendiri. Oleh sebab itu Adat membutuhkan sarana dan prasarana pendukung agar pelaksanaannya berjalan dengan baik dan benar.  Itulah sebabnya maka kebutuhan Adat sering dan bahkan selalu menjadi bahan pemikiran manusia terutama warga Adat itu sendiri.

 

Pada dasarnya Adat membutuhkan warga atau menuntut anggota masyarakatnya untuk meleburkan diri dalam kegiatan dan kepentingan Adat yang adalah sikap dan kebiasaan yang benar-benar mementingkan kebutuhan kesejahteraan warganya. Oleh sebab itu Adat tidak akan berarti apa-apa bilamana warganya tidak mematuhi dan melaksanakannya. Dengan demikian, kehkawatiran warga adat pada waktu atau masa tahun 2025 nanti adalah masalah yang memiliki arti khusus bagi warga adat, terutama bagi warga atau anggota muda adat itu. Di kala generasi era kemerdekaan sudah tiada digantikan oleh generasi globalisasi era tahun 1970-an, maka yang lebih menonjol kekhawatiran masyarakat Adat adalah warganya atau anggota Adat itu sendiri. Masih pedulikah mereka pada adat tersebut?.

 

Memang saat ini hingga lima atau sepuluh tahun kedepan kepedulian masyarakat adat masih akan berkisar pada efisiensi. Setelah duapuluh tahun kedepannya kekhawatiran bukan sebatas efisiensi saja melainkan menempatkan warganya sebagai pokok pemikiran utama, akan bagaimanakah warga adat pada saat itu. Dengan demikian secara nyata siapapun yang membicarakan Adat, maka sudah membicarakan hal dan pihak yang berkepentingan dengan Adat itu sendiri.

 

Sekurangnya Adat yang sejahtera dan memberikan kepuasan kehidupan pergaulan kepada anggotanya membutuhkan beberapa komponen utama yaitu:

  1. anggota masyarakat Adat harus ada – umumnya cukup banyak diatas ribuan bahkan jutaan.
  2. ada acara dan upacara yang harus dilaksanakan dalam tatanan Adat agar menjadikannya sebagai bagian utuh dari masyarakat Adat
  3. ada tempat dan waktu dimana Adat itu dibicarakan lalu  dilaksanakan dan digelar dengan utuh dengan melibatkan anggota masyarakat adatnya
  4. ada pihak atau orang yang memahami apa yang benar dan yang tidak benar dalam pelaksanaan Adat (biasanya Raja Adat)
  5. ada suka cita dan damai sejahtera yang dituju di kala melaksanakan kegiatan atau acara dan upacara Adat itu.

 

Mengapa kesemuanya itu dianggap sebagai yang dibutuhkan oleh Adat? Karena disanalah Adat berperan dan berlaku dengan segala tujuan  baiknya. Adat sama sekali tidak bertujuan negatif, melainkan mengantarkan para warganya menjadi warga yang memenuhi segala ketentuan Adat sehingga pergaulan dan persatuan serta kesatuannya dengan sesama anggota Adat menjadi lengkap, sejahtera dan penuh suka cita.

 

Tentu saja ada pertanyaan: buat apa Adat itu? Satu jawaban umum adalah :

 

Adat adalah tingkah laku dan tindakan masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Adat dalam memperoleh keanggotaan penuh sehingga keteraturan dan hubungan diantara anggotanya penuh kebersamaan yang akrab. Disana ada suasana kebersamaan dimana warganya menempati posisi yang damai, setara dan serasi.

 

    1. Holong dalam tatanan Adat Batak dikuatkan oleh kasih ajaran Kasih Kristus Yesus.

Pertemuan nyata antara holong mangalap holong Adat batak dengan kasih ajaran Kristus Yesus adalah dalam sosok warga Adat yang juga anggota atau warga Kristiani, dimanapun dan kapanpun mereka berbaur dalam kebersamaan. Tahapan awal adalah kehadiran dalam kemandirian seseorang anggota masyarakat yang mengaktualisasikan dirinya sebagai bagian dari budaya atau kultur tertentu yang adalah gambaran Adat. Dalam bertegur sapa dan bersama mengayuhkan hidupnya yang pertama dan menjadi utama landasannya adalah holong sesama anggota keluarga. Lalu Agama dengan ajaran Tuhan memberikan kepastian bahwa sesungguhnya holong demikian itulah sebagai jalur memahami ajaran Kristiani. Kasihilah sesamamu manusia, bukan sekedar warga Adat tertentu, melainkan siapa saja. Dengan demikian langkah keduanya adalah dalam warga Kristiani, yang lebih luas, antar adat dan antara suku dan antar negara dan seluruh bangsa di seluruh dunia.

 

Kalau di dalam rumah tangga ada tata krama antara suami isteri, antara anak dan orang tua dan antara orangtua dan anak, maka Adat memberikan kisi-kisi kewajaran dengan memacu setiap anggota keluarga menjadi orang yang beradat, jangan menjadi orang na so maradat. Karena tegur sapa, langkah keseharian, bahkan dalam meja makan anggota keluarga akan semakin nyata sejahtera apabila antara mereka sendiri sudah tertata suatu tatanan yang saling menghormati dan lebih lagi, mereka saling mengasihi.

 

Bahkan dalam Adat itu sejak awalnya menetapkan yang dua jiwa melebur menjadi satu. Bahkan lebih dahsyat lagi dua keluarga besar (dua marga) menjadi satu, dan ini lebih kena mengena mengapa pernikahan adat Batak dalam tatanan Adat sangat kuat ikatannya. Keluarga kedua belah pihak menjadi saksi pernikahan dan merekalah yang menjadi meterai kesejahteraan keluarga dan dalam hal ada perselisihan mereka menjadi juru damai. Hal yang sama dalam umat Kristiani, yang menjadi satu (dua jiwa menjadi satu) tidak boleh dipisahkan oleh siapapun.

Ada kecualinya yaitu kecuali dipisahkan kematian. Kepatutan dan kenyataan demikian memberikan jaminan hak dan kewajiban kedua belah pihak untuk melangkah bersama dan bersama-sama, sehingga wanita Adat senantiasa gigih memperjuangkan anak-anaknya untuk mencapai pendidikan yang tinggi. Pepatah adat mengatakan: Anak-anakku adalah kekayaan saya (Anakonhi do hamoraon di ahu). Dengan demikian dalam kebersamaan yang kelihatannya menjemukan dalam Pesta unjuk pernikahan sebenarnya menjadi gegap gempita Adat yang menjadikan rumah tangga baru memperoleh meterai kebersamaan seumur hidup.

 

Ingatlah semua hadirin dalam segala posisinya mempunyai hak untuk ikut campur dalam usaha  mempertahankan dan memelihara keutuhan keluarga baru. Mereka hadir dalam acara adat pernikahan, sekaligus mereka dinobatkan sebagai pengawal keutuhan rumah tangga baru hasil pernikahan itu.

 

Di kala ada kematian, tradisi lama adalah membunyikan lonceng gereja untuk pemberitahuan kepada warganya bahwa ada anggota gereja yang meninggal, adalah juga salah satu bukti betapa holong Adat dan kasih Kristiani menyatu dalam bentuk kepedulian sesama warga adat dan diantara warga gereja.

 

Tanpa diundang (kalau pernikahan ada undangan atau gokkon) maka dalam kematian siapa saja dan dari kelompok mana saja mereka akan datang memberikan penghormatan terkahir kepada yang meninggal.

 

Para warga adat datang memberikan penghormatan terakhir kepada yang meninggal dan sekaligus menyampaikan rasa simpati kepada keluarga yang ditinggalkan. Kemudian mereka juga memberikan penghiburan kepada keluarga yang ditinggalkan.

 

Kecemburuan sosial memang terjadi diantara anggota masyarakat bangsa dan negara Indonesia, karena dua hal:

 

  1. bagi orang meninggal pada umumnya semua acara masih dilaksanakan di rumah kediaman yang meninggal tersebut. Oleh sebab itu  jalanan dan kompleks perumahan sekitar rumah duka akan dan menjadi terganggu, apalagi kalau pemakaman akan membutuhkan beberapa hari sejak warga adat dan keluarga gereja tersebut meninggal.
  2. Setiap penguburan membutuhkan acara Adat dan acara gereja yang sekarang ini intinya adalah ajaran kasih Kristus dengan nyanyian, Firman dan petuah serta nasehat, yang kerap kali diiringi musik dengan suara yang hingar bingar sehingga mengganggu para tetangga.

 

Memang diperkirakan, suatau saat nanti, rumah duka atau rumah perkabungan kemungkinan akan semakin populer untuk acara adat dan acara gereja orang Batak-Kristen yang meninggal, dengan pertimbangan dan pemikiran kenyamanan serta mengarah juga pada efisiensi yang menjadi pokok pikiran bulan awal abad 21 ini. Kepedulian sesama warga adat batak memang sangat kental sejak awalnya.

 

Tangisan berupa andung serta airmata dan isak tangis senantiasa mewarnai acara penghiburan dan di kala kunjungan (melayat) para warga adat ke tempat duka dimana orang yang meninggal adalah warga Adat mereka. Bukan tidak jarang ada lelucon yang mengatakan bahwa emosi duka orang Adat Batak sering tanpa logika.lagi. Hal itu sebenarnya adalah bukti betapa mendalamnya kepedulian sesama warga Adat dalam hal suka terutama dalam hal duka, yang suka lebih menonjol pada acara Adat pernikahan dan acara duka pada peristiwa kematian.

 

Keadaan masa bad 21 bukan saja semakin menuntut efisiensi waktu dan dana, melainkan menuntut mutu kepedulian itu menjadi semakin meningkat dalam hal:

  1. kepedulian suka cita dalam acara Adat penikahan
  2. kepedulian duka dalam acara kematian

 

Dengan memahami secara imani betapa semua warga adat Batak memang menginginkan pernikahan sejahtera dan untuk life time. Para warga adat juga berdoa dan memohon kepada Tuhan melalui ungkapan pada setiap memberikan kata sambutan juga dalam pepatah dan umpama-umpasa yang dilantunkan. Keluarga baru hendaklah rukun, memperoleh anugerah Tuhan dalam rumah-tangganya berupa kelahiran anak laki-laki dan anak perempuan serta berkat harta serta tahta (hasangapon] yang penuh suka cita masa datang. Ada beberapa komponen kepedulian dalam acara suka tersebut, yaitu:

 

  1. Waktu. Pemilihan waktu adalah salah satu syarat yang memungkinkan maraknya acara suka tersebut, dengan memperhatikan bagaimana caranya di setiap acara suka para undangan dapat hadir, tidak terhalang oleh pekerjaan, sehingga para tetamu undangan hadir dengan suka cita. .
  2. Makanan. Bagaimana agar setiap tamu benar-benar bersantap, makan dan minum dengan puas, dikatakan: sagat marloppan juhut dan butong mangan indahan na las.
  3. Suka cita. Bagaimana para tetamu dapat bersuka cita memberikan tumpak atau kado baik uang maupun barang agar suka cita penganten beserta orangtuanya menjadi bertambah-tambah karena setiap tetamu peduli dan memberikan ungkapan doa restunya.
  4. Kekuatan holong atau kasih. Bagaimana para pihak yang memang dituakan (hula-hula dan tulang) dapat memberikan ulos, baik ulos herbang maupun ulos uang kepada kedua mempelai sehingga kasih – holong yang mengikat mereka semakin dikokohkan Tuhan dengan doa dan permintaan mereka ketika menyerahkan ulos tersebut.

 

Kepedulian tersebut secara naluri sangat sulit untuk dipersingkat dan bahkan urutan dan bentuk partisipasi para tetamu sulit untuk direkayasa dengan alasan:

  1. para undangan dari pihak manapun ingin menunjukkan kepeduliannya kepada pihak yang berpesta melalui kehadiran phisik dan ungkapan kasih dengan kata-kata. Bahkan dalam menyampaikan kata-kata nasehat, doa, umpama-umpasa, serta hal terkait lainnya, musik tor-tor dan lainnya sangat sulit untuk dipatok atau ditetapkan bentuk, isi serta waktunya.
  1. jumlah tetamu jujumlah  tetamu yang hadir sulit dibatasi jumlahnya karena dalam holong itu yang tidak diundangpun boleh hadir dan tidak akan ada larangan bagi mereka untuk ikut berpartisipasi menurut cara dan metode kepeduliannya masing-masing. Standarisasi kehadiran dalam waktu, tata-bahasa ungkapan dan ucapan selamat tidak dapat dilakukan.

Hal demikian tidak lain karena bahasa kasih yang beragam, hubungan kekeluargaan yang tidak sama maupun kedekatan kepada suhut juga berbeda.

  1. Kedatangan para undangan dalam kelompok demi kelompok sudah ditata sesuai dengan panggilan atau giliran yang disepakati dalam tatanan adat, tetapi semakin gabe pihak suhut maka akan semakin banyak pihak yang akan datang dengan rombongannya masing-masing. Kehadiran mereka tidak dapat dibatasi dan kasih atau holong mereka dalam ungkapan kata dan penyerahan benda tidak bisa dibatasi juga, sehingga jumlah dan banyaknya undangan dari masing-masing pihak bisa dan selalu berbeda antara satu keluarga adat dan keluarga adat lainnya.
  2. Para raja Adat dan raja parhata memiliki pola dan sikap tersendiri yang berpulang pada kemampuan dan bakat mereka masing-masing, sehingga dalam menata serta mengarahkan acara bisa saja waktu yang dihabiskan oleh raja parhata tidak terasa padahal dia sudah mendominasi acara dan menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dari para undangan lainnya.

Dengan kombinasi holong dan kasih demikianlah maka warga Adat yang juga warga Kristiani mampu menyebarkan salam sejahtera di kala mereka berbaur dalam acara suka dan acara duka karena kepedulian bukanlah paksaan melainkan suatu panggilan kasih itu sendiri.  Bukan lagi suatu hal yang memerlukan undangan kalau hanya dengan duka, cukup dengan informasi melalui telepon, radio atau dari mulut ke mulut.

 

Setiap berita duka akan memberikan dorongan holong  kasih kepada semua warga adat yang adalah juga warga gereja untuk segera bergegas memberikan penghormatan terakhir. Walaupun  di kala saur matua dan saur matua bulung mengedarkan undangan bisa dibutuhkan karena masa menunggu yang lama, tetapi biasanya setiap pihak yang berperan serta haruslah dapat mengatur waktunya kapan akan datang lagi.

 

Disebutkan bahwa mereka datang lagi, karena biasanya begitu kabar kematian diterima secara langsung para warga akan datang untuk memberikan penghormatan terakhir tersebut. Sedang undangan yang diterimanya belakangan atau diterima di kemudiannya adalah memberikan urutan acara serta urutan keluarga atau kelompok keluarga tertentu yang akan diterima suhut pada secara Adat. Keluarga yang berduka atau yang ditinggalkan orang yang meninggal tersebut, dalam pelaksanaan Adat Kematian menerima kedatangan para sanak saudara warga Adat Batak untuk memenuhi kewajiban Adat, sesuai dengan gokkon suhut bagi para hadirin yang hadir sa’at acara Adat tersebut. Ketika melihat betapa holong Adat berbaur dengan kasih Kristiani menurut ajaran Injil, maka sesungguhnyalah bahwa hidup orang Batak adalah hidup yang memuji Tuhan dalam kebersamaannya.

 

Tidak satu langkahpun acara dan upacara Adat yang akan berjalan dan berlangsung tanpa memanggil nama Tuhan untuk ucapan terima kasih serta mohon kasihNya mengalir bagi semua warga yang ada dalam acara dan upacara tersebut.

Maka Firman Tuhan yang mengatakan: “ bersuka citalah senantiasa dalam segala hal”, seakan menunjukkan implementasinya dalam acara dan upacara Adat Batak. Menangis dan tertawa berbaur bersama, sebagaimana duka dan suka menjadi satu karena:

 

  1. keyakinan bahwa orang yang meninggal adalah anak Tuhan, dan sa’at kematian adalah sa’at yang ditentukan oleh Tuhan. keyakinan dan iman percaya warga Kristani mengatakan bahwa Tuhan Yesus akan datang kelak.

KedatanganNya adalah untuk menghakimi orang yang hidup dan orang yang mati. Artinya yang masih hidup nanti dan yang sudah mati memperoleh kesempatan yang sama untuk menerima penghakiman dari Tuhan.

  1. kepercayaan warga dan keluarga Adat Batak bahwa sesungguhnya kematian adalah milik dari   semua orang, hanya saja waktunya (tingkian dohot sadiharina) ditentukan oleh Tuhan sendiri. Oleh sebab itulah semua umat Tuhan yang berbaur dan memahami Firman yang mengatakan: “ bersyukurlah senantiasa”.

Holong dan kasih demikianlah yang mengikat warga Adat Batak dan warga Kristiani untuk berbaur dalam pujian kepada Tuhan, baik dalam acara suka maupun acara duka. Semuanya terpusat pada Tuhan Yang Maha Esa. Keberadaan Adat yang menurut sejarah hadir lebih dahulu di tanah Batak, adalah tatanan atau sistim yang menjamin hak dan kewajiban warga Adat itu sendiri. Hal untuk memperoleh suka cita dalam segala hal serta menerima penghiburan dalam duka, menyatu dalam kebiasaan Adat tersebut, yang tanpa dikomando telah secara langsung menjadi sikap hidup warga Adat Batak. Kemudian ajaran Firman mengatakan betapa dua hal yang utama dalam firman Tuhan adalah juga sejalan dan seirama dengan holong tersebut, karena Tuhan Yesus mengatakan, dua perintah utama, yaitu:

  1. kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwa dan segenap kemampuan.
  2. kasihilah sesama umat manusia sebagiamana mengasihi diri sendiri.

 

Rangkuman tersebut menjadi kuat dan melekat tanpa lekang bagi warga Adat Batak juga warga Kristiani, karena dasar kehidupannya sudah diwarnai oleh holong atau kasih sesama itu. Maka sebaran dan ajaran Firman Tuhan yang bermuara pada kasih menjadi penguat kebersamaan serta perekat kekeluargaan dan kebersamaan masyarakat adat Batak.

Tentu saja harus diperhatikan benar, bahwa Adat tidak boleh mengalahkan Agama dalam hal ada pertentangan  pada cara dan upacara Adat yang dimenangkan adalah Agama. Salah satu yang paling utama, jangan menduakan Tuhan, dan jangan memangggil nama Tuhan secara sembarangan, panggillah namaNya dengan berdasarkan keimanan, karena Tuhan akan menghukum siapa saja yang menyalah gunakan nama Tuhan.

 

Ke-efisienan dan penghematan dalam setiap acara dan upacara Adat memang dirasakan tuntutannya namun tidak dapat dirumuskan dengan sederhana. Sebabnya adalah:

 

  1. pelaku Adat dan tetua Adat mempunyai  keyakinan Adat akan indah dalam kekeluargaan masyarakat Adat Batak dan semakin indah kalau dilaksanakan dengan landasan firman Tuhan, terutama misi kasih itu.
  2. warga Adat Batak memiliki tata-cara tersendiri dalam  implementasi setiap tahapan Adat yang banyak ditentukan oleh faktor ”X”, antara lain:
    • Jumlah anggota keluarga suhut
    • Jumlah harta suhut
    • Pergaulan dan  ketokohan suhut
  3. warga Adat walaupun terikat dengan Adat itu sendiri tetapi mereka bebas dalam aplikasi acara dan upacara Adat.

Tetapi harus mengikuti ketentuan bahwa tahapan Adat itu dengan acara intinya harus berlangsung dengan lengkap, sedang acara tambahan bisa saja diselipkan sesuai dengan keinginan dan hasrat suhut.

Dengan demikian secara nyata tidak ada lagi perselisihan pendapat tentang Adatku dan Agamaku, karena keduanya adalah ketentuan kehidupan manusia yang mengantar mereka pada suatu hidup yang teratur, saling mengasihi, penuh holong dan nyata kepeduliannya.

 

Memang banyak gejolak di masyarakat Adat Batak dalam berbagai prosesnya, baik waktu pelaksanaannya, demikian juga kelengkapannya serta alat peralatan pendukungnya. Salah satu alat pendukung pelaksanaan Adat yang sempat menjadi suatu polemik berkepanjangan adalah masalah ulos. Ulos hendaklah diterima sebagai salah satu lambang kasih sesama.

 

Ulos bukan dan sama sekali bukan lambang keberhalaan,  melainkan salah satu unsur budaya Batak yang asli dan murni sebagai hasil kerajinan tenun. Ulos tidak memiliki arti magis tetapi melambangkan kasih sesama umat Tuhan. Orang tidak akan memberikan ulos kalau dia tidak ada kasih, periksalah di tengah masyarakat tidak ada ulos yang dipergunakan untuk menyembah berhala atau menjunjung tuhan lain.

 

Ulos memberikan sejahtera Adat karena dengan ulos dicapai dapat dan telah diperoleh beberapa sasaran pergaulan dan kebersamaan masyarakat, antara lain :

  1. Ada alasan untuk memberikan ucapan selamat dalam berbagai kapasitas dan beragam kesempatan.

Biasanya setelah atau sebelum ulos diberikan ada hantaran kata yang disampaikan. Hantaran kata umumnya adalah kata-kata nasehat, penghiburan serta pinta dalam doa kepada Tuhan Yang Maha Esa akan berkat dan karuniaNya kepada yang menerima ulos tersebut.

 

  1. Ulos yang adalah kerajinan tangan masyarakat Adat Batak, pada sa’at alan dibuat (martonun) secara imani selalu didahului dengan doa agar pelaksanaan  tenunan  ulos tersebut kiranya dapat berlangsung dengan perlindungan dan menjadi curahan kasih Tuhan untuk menopang kehidupan umatNya. Pembuat (partonun) beroleh suka cita, bisa dijual dan memperoleh uang, serta yang menerimanya serta mempergunakan atau yang memakainya beroleh karunia Tuhan sejalan dengan pinta dalam dari orang yang menyerahkannya, (makanya di dalam banyak ulos ditulis:  selamat pakai, horas dan lainnya.

 

  1. Ulos pada awalnya memang sebagai lambang kebesaran holong yang dinyatakan pada setiap acara dan upacara suka dan duka, tanpa holong maka ulos tidak akan beredar.       Oleh sebab itu secara nyata dan sesuai dengan falsafah kehidupan, bahwa segala sesuatu disediakan Tuhan bagi suka cita umat manusia  dan lambang holong kasih itu adalah juga menjadi cara memuji dan memuliakan nama Tuhan. Kasih sesama menjadi nyata, karena segalanya beralaskan dan berlandaskan kasih Tuhan semata.

 

  1. Dengan ulos maka para pihak yang padat kasih dan kuat serta penuh peduli selalu berupaya memilih jenis dan warna ulos yang sesuai dengan  keadaan. Patut dicatat bahwa  orang yang menerima ulos sering meneteskan air mata karena terharu bahkan membayangkan betapa besar kasih atau holong orang atau pihak yang memberikannya.       Pemberian dan penerimaan ulos bisa berlangsung pada atau menjelang akhir acara Adat, setiap pihak selalu sabar menunggu gilirannya, bisa saja menunggu sejak pagi hari hingga kadang kala malam harinya..

 

  1. Ulos tenunan tangan adalah bisa juga dipergunakan sebagai kado (atau pemberian khusus) dalam segala kesempatan dalam berbagai bentuk pemberian.

 

Perlun diketahui dan dipahami benar bahwa ulos adalah barang halal dalam Adat Batak dan dalam Iman Krostiani.

Karena ulos memang dibuat (ditenun) dengan didahului oleh doa kepada Tuhan maka nilainya adalah nilai imani. Berbeda dengan  tekstil misalnya, yang sering didahului dengan mantera duniawi, karena kepercayaan orang atau pihak  yang membuat tekstil tersebut bukanlah warga Kristiani, maka beda dengan ulos buatan warga Kristiani. Padahal kita tahu bahwa tekstil adalah sangat umum dipergunakan sebagai kado atau pemberian. Tenunan ulos adalah tenunan orang Kristen, bagaikan selendang orang Yahudi, yang adalah sebagai perlambang kekerabatan dan makna ke-Yahudian yang sering juga dinyatakan di dalam firman Tuhan: ” dungi dijama ma ulosNa, g be malum ma dihilala”.

Oleh sebab itu, tidak perlu ada keraguan bagi siapapun untuk mempergunakan ulos sebagai kado pemberian dari siapa saja kepada siapa saja dalam tatanan Adat Batak, yang umumnya ulos itu adalah:

 

  1. pemberian dari hula-hula  kepada boru
  2. pemberian pihak yang dituakan kepada yang muda
  3. pemberian dari kelompok tertentu untuk kelompok lain yang dikasihi
  4. pemberian ulos dari Kelompok Adat Batak kepada siapa saja yang layak menerimanya, adalah sebagai simbol dari:
  • ucapan terima kasih
  • tanda kebanggaan
  • lambang suka cita atas kebersamaan
  • simbol kebanggaan akan sesuatu
  • pertanda dukungan doa atas langkah kedepannya bagi seseorang
  • simbol harapan yang dilengkapi dengan doa dan pinta kepada Tuhan.

 

Demikianlah keberadaan serta makna hakiki dari Adat Batak yang wajar dilanjutkan, diwariskan dan diwarisi oleh warga Adatnya.   Pelaksanaan Adat dalam segala kesempatan dan pada setiap  keragamannya hendaklah berlandaskan keimanan yang mengatakan bahwa sesungguhnya segala sesuatunya telah diciptakan oleh Tuhan demi dan untuk manusia ciptaanNya. Maka bersuka citalah dalam pelaksanaan Adat, karena Adat Batak sejalan dan seturut dengan perintah Kristus untuk saling mengasihi. Menyukai dan melaksanakan Adat adalah kunci dari keberhasilan pewarisan Adat. Oleh sebab itu warga Adat hendaklah sadar bahwa keberadaannya dalam kelompok Adat bukanlah sebagai paksaan melainkan warisan dari nenek moyang sendiri yang patut dan wajar kalau dilakonkan secara utuh dan benar.

 

Ketahuilah Adat adalah sikap keteraturan diantara warganya, mereka yang melaksanakan Adat dengan baik dan benar tetap mampu berjalan dalam ajaran Kristus. Karena memang warga Adat berbuat dan melaksanakannya dengan keimanan yang kuat dan kebersamaan yang setara diantara para warga Adat itu sendiri. Keluarga dan warga Adat Batak memang harus mematuhi ajaran Kristus yang padat dengan kasih serta terobsessi untuk kebersamaan yang penuh dengan iman sejati, iman kepada Tuhan sendiri. Itulah yang menjadi acuan pelaksanaan kegiatan kehidupan manusia, perintah dan hukum Tuhan adalah pedoman serta referensi untuk  pelaksanaan Adat Batak.

 

4. Akar Adat Batak.

    1. Memahami Adat Batak.

Memahami Adat adalah salah satu tugas yang unik dan khusus. Mempelajari Adat bukanlah dengan liuteratur, buku, tulisan dan sekolah. Mempelajari Adat adalah dengan praktek. Praktek Adat adalah dengan ikut mengambil bagian dalam acara dan upacara Adat itu. Bukan suatu yang aneh kalau tetua adat mengatakan:

Janganlah belajar atau mencari Adat dihalaman rumah, jangan menacari Adat didalam rumah, jangan mencari Adat dipartukkoan, tetapi pelajarilah Adat melalui praktek dengan mengambil bagian aktif dalam acara dan upacara Adat itu”.

Nasehat tetua Adat tersebut adalah benar adanya. Mengapa demikian? Karena ahli Adat sudah membaur dengan pelaku Adat. Ahli dan pelaku Adat memang menuliskan pedoman Adat di dalam berbagai buku sepanjang dan sebatas pemahaman penulis sendiri dalam praktek yang diikutinya. Sedang Adat itu sendiri beragam pola pelaksanaannya, bisa berbeda urutan dan rangkuman implementasinya, sepert  kata pepatah:

 

Asing padang asing sihaporna

Asing luat asing do nang Adatna

Alai di na asing i do boi masiparsangapan

Ala sude do mandok: sidapot solup do na ro.

Artinya Adat tetap utuh, walau tata cara pelaksanaannya bisa berbeda antara satu kelompok Adat dengan kelompok lainnya. Satu hal yang pasti bahwa semua perbedaan pasti dapat diselesaikan dengan memahami  prinsip adat Batak itu. Solusi adat Batak ditempatkan pada saling menghormati, dengan mempergunakan pepatah: masipaolo-oloan.

 

Dengan demikian warga adat batak selalu berprinsip baha: ”acara Adat harus disesuaikan dengan kebiasaan yaitu adat di tempat dimana acara dilaksanakan atau disesuaikan dengan pihak tuan rumah, disebut dengan sidapot solup do na ro”.

 

Oleh sebab itulah setiap melaksanakan Adat selalu dipergunakan pepatah penyesuaian: sidapot solup do na ro. Semua pihak harus dan sepenuhnya menyadari dan memahami sehingga menerima bahwa pelaksanaan Adat hendaklah berlangsung sesuai kebiasaan.. Pepatah Adat Batak mengatakan: sidapot solup do na ro, artinya Adat yang berlaku adalah Adat bolahan amak (yang punya hajat). Para undangan harus menyesuaikan diri.

 

Bagaimana mempelajarinya? Buku atau ajaran lisan dalam kelas atau dalam seminar yang bisa atau dapat diperoleh secara teori saja, artinya hanya sebatas tahapan dan kebiasaan pada kesempatan tertentu. Itulah sebabnya pepatah Batak juga mengatakan: “holong dialap holong”, artinya karena anda datang maka saya datang, atau saya sudah datang sekarang giliran anda datang (datang dalam arti memenuhi undangan dan atau menghadiri acara duka yang tanpa undangan itu).

 

3. Parjambaran Adat Batak.

 

Akan halnya parjambaran, walau ada perbedaan pada dasarnya memiliki banyak kesamaan. Parjambaran menurut “solup” bisa berbeda dengan parjambaran menurut kebiasaan undangan. Oleh sebab itulah maka praktek atau menghadiri dan berpartisipasi aktip sebagai latihan dan pembelajaran yang pas untuk memahami Adat itu. Memang dalam hal membagikan parjambaran, bagaimana bisa seseorang bisa melaksanakannya kalau hanya dihapal saja. Memahaminya harus dilaksanakan, lalu diingat untuk kelak dan di kemudian hari dipraktekkan.

 

Parjambaran ada tiga macam, yaitu:

 

  1. Jambar juhut.
  2. Jambar hata
  3. Jambar hepeng.

 

Keterangan ringkas mengenai parjambaran, dengan titipan efisiensi dari sudut waktu, pada sa’at marbagi parjambaran, disajikan erikut ini:

    1. Jambar hata.

Jambar hata mengacu kepada kemauan dan sikap tiap orang, serta bebas dalam ungkapan dan ucapannya. Apa saja yang menjadi pedoman? Tentu saja sifat dan makna acara Adat tersebut, yang menjadi pokok pembicaraan diantara para pihak, demikian juga di kala seseorang memperoleh giliran untuk menerima jambar hata. Dalam hal ini jambar hata biasanya menurut kelompoknya masing-masing, secara umum ada tiga kelompok, keempat dengan kelengkapannya, yaitu:

 

  • dongan tubu,
  • hula-hula
  • boru-bere
  • dongan sahuta

    1. Jambar hepeng.

Pada dasarnya jambar hepeng adalah ungkapan terima kasih dan demi memenuhi sinamot yang sudah disepakati di kala dilaksanakan marhata sinamot, atau sa’at ada martonggo-raja, mangarapot atau di kala menyampaikan undangan kepada pihak tertentu.

 

Jambar hepeng pada umumnya menurut kedudukan dan posisi masing-masing dalam acara dan upacara tersebut. Bisa jumlahnya ala kadarnya, tapi bisa juga dalam jumlah yang berarti (cukup banyak). Namun, jambar hepeng adalah pemberian suhut kepada para hadirin atau tetamu sesuai dengan apa yang menjadi horongnya atau kelompoknya.

 

Ketika diarahkan oleh raja parhata atau MC untuk tiba pada pemberian jambar hepeng, maka harus ada yang menyerahkan dan ada yang menerima, oleh sebab itu selalu dikatakan, siapa yang memberikan dan siapa yang menerimanya.

 

    1. Jambar juhut.

Jambar juhut memiliki syarat dan ketentuan tersendiri. Bagaimana bagian juhut dibagi tergantung dari jenis acara Adat dan sifatnya serta sejalan dengan jenis sembelihan adat yang disediakan, dalam arti: apa yang menjadi panjuhutinya atau apa yang disajikan dalam acara tersebut.

 

Sejak dahulu ada empat macam jenis juhut, yaitu:

 

  1. ayam
  2. babi
  3. sapi
  4. kerbau atau gaja Toba.

 

Pembagian jambar selalu berlangsung menurut arahan dua belah pihak yang berpesta atau sesuai dengan tonggo raja  atau dalam tahap persiapan acara (mangarapot) dengan detailnya atau rinciannya ditentukan oleh pambagi jambar yang adalah para pelaku Adat itu sendiri. Secara umum pembagian jambar dapat dilakukan dengan memperhatikan kebiasaan masing-masing kelompok Adat.

Karena kebiasaan masing-masing kelompok bisa berbeda karena daerah atau desa mereka dimana mereka lahir bisa menjadi kelompok adat sendiri. Namun dalam secara umum, pembagian parjambaran yang dilakukan banyak kelompok Adat adalah sebagai berikut:

 

    1. Juhut ayam.

Kalau juhut ayam, pembagiannya tidaklah sama dengan atau tidak  seketat jambar juhut pinahan lombu atau sapi dan kerbau, namun seekor ayam pada dasarnya bisa dibagi menjadi 12 potong, yaitu masing-masing sebagai berikut:

 

No Urut

Nama bagian jambar

No Urut

Nama bagian jambar

01

Kepala

07

Paha

02

Leher

08

Pangkal sayap

03

Punggung

09

Kaki

04

Ekor

10

Hati

05

Sayap

11

Empedu

06

Dada

12

Perut

Tabel-2: Pembagian jambar juhut ayam.

Bagian yang mana untuk siapa, tidak pernah ada yang standard, kecuali bagian dada, hati, kepala serta pangkal sayap biasanya diberikan kepada pihak yang dituakan atau yang menjadi kelompok hula-hula/tulang.

    1. Juhut  namarmiak-miak (babi).

Biasanya jambar namarmiak-miak terdiri dari tujuh kelompok tetapi masing-masing kelompok bisa dibagi menjadi beberapa potong lagi yang dilakukan untuk menyesuaikan jambar diterima oleh semua pihak yang hadir, dalam nama kelompoknya, bahkan  nama-nama perorangan seperti jambar hepeng.

Akan halnya bagian mana untuk siapa saja bagian tersebut, selalu mengacu kepada solup dari masing-masing saja. Dalam hal ini baiklah masing-masing mengacu kepada kesepakatan yang mengatakan:

”sidapot solup do na ro.

Oleh seba itu, kalau ada perbedaan pemahaman tentang bagian jambarvtertentu, baguan nmana untuk siapa, eloklah kalau dirembukkan secara bersama-sama, sangan sampai ada perbedaan pendapat yang tidak akan menyatu setelah berbicara secara Adat warga sesama keluarga adat Batak. Hal itu sangat penting agar Adat Batak benar-benar untuk mempersatukan dalam damai sejahtera, dimana semua pihak menerima dan memberikan sesuai dengan posisi serta sejalan dengan undangan pihak suhut. Setiap warga Adat Batak bisa saja menjadi hula-hula pada acara marga tertentu, tetapi menjadi boru pada marga lain, dan tetap dongan tubu sesama satu marga.  Potongan dan pembagian daging namarmiak-miak biasanya adalah sebagai berikut:

 

No Urut

Nama bagian jambar

Bisa dipotong lagi menjadi:

01

Osang ( Dagu)

Dua ( kiri dan kanan)

02

Namarngingi (rahang atas)

Dua ( kiri dan kanan)

03

Somba-somba ( rusuk)

Beberapa

04

Soit  (pangkal paha)

Empat ( sama dengan jumlah kaki, tapi bisa dimekarkan sesuai kebutuhan)

05

Aliang (leher)

Beberapa (sesuai  kebutuhan)

06

Ihurpihur (bagian ekor)

Satu potong, tapi biasanya dipotong lagi sesuai kebutuhan

07

Ate-ate

Satu, tapi bisa dipotong-potong lagi sesuai kebutuhan.

 

Tabel-3: Pembagian jambar pinahan lobu.

    1. Jambar Juhut sigagat duhut (sapi atau kerbau).

Pada umumnya Adat bagi orangtua yang sarimatua, saur matua dan saur matua bulung sudah umum dipergunakan sigagat duhut, bisa sapi bisa juga kerbau. Apabila sigagat duhut yang disajikan sebagai Adat, maka pada dasarnya parjambaran sigagat duhut umumnya dapat dibagi dalam lima belas bagian. Masing-masing bagian masih bisa dipotong atau dibagi lagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan kebutuhan. Hal itu dilakukan kalau jumlah yang hadir ternyata melebihi potongan jambar yang ada, atau yang menerima jambar melebihi ketersediaan potongan yang standard-umum

No Urut

Nama bagian jambar

Jumlah potong

01

Namarngingi, rahang atas

Dua, kiri dan kanan

02

Osang , dagu

Dua, kiri dan kanan

03

Somba-somba, rusuk

Delapan atau sesuai kebutuhan

04

Soit – pangkal paha

Bisa 20 termasuk tambirik

05

Tanggalan , leher

Sesuai kebutuhan

06

Pultahan, perut

Sesuai kebutuhan

07

Ungkapan pertemuan rusuk dan dada

Sesuai kebutuhan

08

Ojahan, tumit

Empat, atau sesuai kebutuhan

09

Tulang rinsan, paha kanan

Satu

10

Gonting, pinggang/punggung

Sesuai kebutuhan

11

Rimpur, ekor

Satu

12

Pusu-pusu, jantung dan  hati

Satu kelompok

13

Raoan pamultak, bagian usus

Satu kelompok

14

Holi-holi, tulang

24 atau banyak

15

Sibuk-sibuk , daging + tanggo-tanggo

Banyak, disesuaikan dengan kebutuhan

Tabel-4: Konsep pembagian jambar juhut sigagat duhut.

Pada dasarnya, apapun jenis acara dan upacaranya bagian jambar juhut adalah tetap sama, walaupun pembagiannya bisa ber beda-beda. Artinya bagian mana untuk siapa masih dirembukkan di kala berlangsungnya acara marbagi parjambaran. Hal itu merupakan warna adat Batak itu sendiri. Artinya ada perembukan diantara para pihak, sebelum dilaksanakan pembagian jambar tersebut. Sering dikatakan: sebelum diiris pisau eloklah di bagi mneurut rembukan kata atau : andorag so diseat raut denggan ma jolo diseat hata. Artinya, harus ada kesepakatan lebih dahulu barulah jambar tersebut dipotong-potong dan dibagikan.

 

    1. Efisiensi pada Adat Pernikahan.

Pada umumnya Adat pernikahan sudah dimulai sejak adanya kata kesepakatan antara calon mempelai wanita dan pria, dengan melangkah kepada tukar cincin, walau pada masa belakangan ini, acara tukar cincin sudah dilaksanakan pada saat menerima pemberkatan pernikahan, namun pada awalnya tukar cincin adalah ikatan dan tanda seseorang sudah ada yang punya.

 

Jenjang berikutnya adalah melaporkan hal tersebut kepada orangtua, sehingga ada acara patua hata, artinya menyatakan bahwa pertunanganan atau tukar cincin itu sekarang sudah dilaporkan kepada pihak orang tua. Sudah tidak boleh berubah lagi secara Adat. Kemudian Agama  menuntut adanya martuppol, yang meresmikan pertunanganan itu melalui mimbar gereja, dengan diberikan kesempatan kepada warga masyarakat (gereja) untuk mengajukan keberatannya – kalau ada. Pada acara  pemberkatan pernikahan selalu didahului dengan acara Adat sibuha-buhai, suatu acara pembuka kekerabatan baru antara penganten laki dan perempuan. Adat sibuha-buhai sangat khusus sifatnya, karena pada acara ini kedua belah pihak suhut diberikan waktu untuk secara intern saling bertegur sapa.

 

Acara ini diikat dengan makan pagi bersama, agar pada acara pemberkatan pernikahan di gereja bisa berjalan lancar tanpa ada merasa lapar. Usai pemberkatan pernikahan ada sambutan sebentar dari kedua belah pihak dan umumnya dilaksanakan juga photo bersama. Sesudah semuanya rampung kedua belah pihak suhut langsung menuju ke lokasi acara pesta unjuk. Pokok acara yang dimungkinkan untuk menghemat waktu antara lain adalah:

 

  1. acara makan harus tepat waktu
  2. memberikan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan kedua belah pihak disatukan dengan acara manjalo tumpak
  3. masisungkunan direfer kepada ulaon marhusip, dihindarkan masisungkunan masialusan yang bertele-tele..
  4. pasahat jambar, cukup mengacu kepada kesepakatan sa’at marhusip. Sedang jambar hepeng kepada parboru cukup untuk suhi ni ampang na opat, yang lainnya dibagikan di kala jambar torop dilaksanakan. Sebole-bolehnya hindarilah panandaion tambahan,tetapi kalau terpaksa cukup lima saja.
  5. Ulos herbang  mulai dari pansamot hingga ulos holong cukup 17 lembar atau malahan kurang dari 17 lembar saja.
  6. Ulos kepada penganten cukup perwakilan resmi saja, sabaiknya satu lembar dari satu kelompok, yang lainnya eloklah dengan ulos hepeng, kecuali pihak yang utama, antara lain:
  • Abang adek orangtua penganten wanita
  • Tulang atau paman  penganten wanita
  • Namboru kandung  penganten wanita
  • Tulang kandung penganten pria
  • Pengurus marga
  • Kumpulan arisan, parsahutaon, satu ompung dan satu adat bona pasogit dll.

 

Dengan demikian ulos diserahkan secara resmi akan diikuti oleh ulos hepeng, secara sendiri-sendiri atau berkelompok dengan mencantumkan nama-nama yang memberikannya di dalam daftar.

Daftar tersebut diserahkan kepada pihak penganten dan atau orangtuanya masing-masing. Penutup dengan sambutan orangtua penganten sebagaimana biasanya sudah bisa langsung kepada orang tua kandung penganten kedua belah pihak atau yang mangamai. Parboru masih bisa  memberikan nasehat kepada borunya, tetapi paranak hendaklah memberikan petuah dalam sambutan dirumah penganten pria saja.

 

Ulaon penutup, berupa maningkir tangga dan paulak une, sudah cukup baik dilaksanakan dengan langsung mengantarkan bawaaan masing-masing ketempat pihak penerima, lalu diberikan upa panaru. Acara ditutup dengan lagu Kristiani dan doa penutup. Itulah akhir dari acara Adat Pernikahan. Semuanya hendaklah selesai sekitar jam 16.00.

 

    1. Efisiensi pada Adat Kematian orang-tua.

Pada dasarnya yang utama dalam hal ini adalah jumlah hari kematian hingga pemakaman. Tradisi lama yang banyak membutuhkan waktu tujuh hari cukuplah tiga hari saja atau bahkan satu hari atau dua hari saja.Sedangkan acara dialaman, yang memberikan sambutan dan kata perpisahan setelah membaca Riwayat Hidup, dapat dihimbau agar secepatnya tampil dan berbuat tanpa dipanggil berkali-kali. Apapun bentuk Adatnya, baik sebagai jambar mangihut, marbagi parjambaran dan atau jambar panca, apabila penerima segera tampil sebagaimana mestinya, maka acara ini tidaklah memakan waktu yang lama. Lagipula dalam acara Adat natua-tua, sebahagian besar adalah ditentukan kesepakatan dalam acara mangarapot, karena disanalah dirancang dan disepakati para pihak terkait tentang segala sesuatu yang bertalian dengan pelaksanaan Adatnya.

Memang, ada niat dan minat beberapa kelompok tertentu untuk melangsungkan pemakaman setelah tujuh hari, namun adalah lumrah dan sepenuhnya memenuhi Adat kematian.

 

Apabila natua-tua dimakamkan satu hari setelah meninggal, asalkan para pihak dalam acara mangarapot ( dihadiri semua pihak Adat) dapat menyetujui dan mendukungnya, sebagai kesepakatan Adat resmi. Beberapa tahapan lainnya bagi orangtua-tua yang meninggal dalam Adat sari matua, saur matua dan saur matua  bulung, sudah umum dilaksanakan adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam hal  pelaksanaan Adat kematian.

 

Satu hal yang disoroti adalah dondon tua. Pihak suhut, yang menyediakan sipir ni tondi, sijagaron dan kelengkapannya dengan  melakukan acara tarian menghormati dan penghormatan terakhir kepada orangtua yang meninggal, pada dasarnya bukanlah acara sesat atau acara sipele begu, melainkan suatu acara Adat yang berpadu dengan agama, karena lagu yang diperdengarkan adalah lagu gereja, sebagai lagu yang mengiringi acara tarian dondon tua tersebut.

 

Falsafah utamanya adalah rejeki dan karunia Tuhan semasa hidup si orangtua, hendaklah turun bahkan meningkat bagi keturunannya. Pada tendensi baru belakangan ini, ada pelaksanaan acara keluarga dekat, yang memberikan kesempatan kepada keturunannya atau kerabat dekatnya untuk bernyanyi, berkata-kata bahkan berdoa, yang dilakukan pada sa’at sebelum acara di alaman. Menurut pendapat sementara orang, acara tersebut hendaklah dilakukan di kala malam hari, ketika tidak ada tamu atau ketika tidak ada anggota keluarga atau kerabat yang datang ke lokasi duka, sa’at itu dapat dikatakan sebagai ”sa’at hening diantara sesama anggota keluarga”.

 

Tidaklah perlu acara tersebut didengarkan oleh kerabat yang hadir karena acara tersebut sifatnya adalah internal keluarga dekat saja, sehingga acara yang sudah disepakati pada saat mangarapot dapat berlangsung dengan baik dan tepat waktu. Acara lainnya  baik berupa acara hula-hula (dipanakkok tu jabu), manuan ompu-ompu, marsipitu dai dan kedatangan para pihak memberikan penghiburan eloklah dilaksanakan sebagaimana mestinya, karena pihak yang terlibat sudah semakin kecil jumlahnya, cenderung terbatas pada keluarga dekat saja, maka efisiensi waktu, biarlah mereka sendiri yang memikirkannya, tidak menjadi bahan pemikiran secara umum dan tidak terpola secara seragam.

 

    1. Adat Pengikat kasih untuk keteraturan.

Adat sebagai pengikat keteraturan diantara anggotanya, tetap memiliki esensi yang  cukup dominan dalam pergaulan keseharian Adat Batak. Namun daya terima Adat tersebut bagi generasi muda sudah semakin menurun kadarnya bahkan bisa menjurus pada ketidak acuhan generasi muda akan peranan Adat Batak dalam hidup dan kehidupannya. Dugaan sementara mengatakan bahwa tahun 2025 nanti, Adat Batak sudah memiliki warna sendiri, tidak lagi mempunyai ikatan yang kental dalam menata kehidupan warga  dan kekeluargaan diantara marga Batak karena acara dan upacara Adat itu semakin tipis kadarnya serta menurun frekwensinya.

 

    1. Efisiensi yang terbuka.

Efisiensi yang didambakan oleh warga Adat Batak masa awal abad 21 juga sudah beragam interpretasinya, karena efisiensi yang dirindukan  hanya terpola pada dua hal saja, yaitu :

 

  1. Waktu
  2. Uang

 

Kesibukan anggota masyarakat Adat, dengan  kecenderungan suami dan isteri masing-masing berkarya dan bekerja untuk menghidupi keluarga serta kelanjutan dari pendidikan tinggi yang dialaminya sudah hampir dipastikan bahwa kesibukannya dalam karir dan pekerjaannya meningkat tinggi. Walau acara dan upacara Adat masih diikutinya, namun makna dan arti hakiki Adat sebagai sarana mencapai ketaraturan kekeluargaan tidak lagi menonjol peranannya.

Sebaliknya Agama dengan berbagai sistim dan metode layanan akan meningkat dan menjadi dambaan masa depan, karena tiga hal :

 

  1. jadwalnya pasti serta waktunya sangat terbatas.
  2. dalam acara pemujian, perjamuan kudus dan pertobatan banyak suka cita yang diperoleh melebihi suka cita dari acara Adat.
  3. kebaktian penyembuhan serta kebaktian serta pertemuan untuk solusi permasalahan pribadi menjadi semakin menarik serta menjadi sarana ketenteraman pribadi

 

    1. Adat Pernikahan pada tahun 2025.

Oleh sebab itu, efisiensi yang didambakan bahkan diseminarkan oleh banyak pihak dan lembaga masa awal abad 21, sudah hampir meluntur esensinya dimasa 20 tahun kedepan. Tapi perlu dicatat bahwa Adat akan tetap eksis walau minat anggota masyarakat Adat sendiri sudah semakin menipis dan menurun secara alami.

 

Acara Adat Pernikahan memberikan warna kerinduan tersendiri bagi warga Adat batak, karena semua harus menikah, sesuai dengan firman Tuhan. Setiap insan manusia harus meninggalkan para orang-tuanya dan membentuk rumah tangga baru serta melanjutkan  keturunan sesuai Firman Tuhan. Maka acara pernikahan yang utama akan berkonsentrasi pada pemberkatan di gereja sedang pengukuhan Adat bisa tetap berlangsung dalam acara dan upacara yang menjurus pada muatan baru yaitu:mendekati acara dan upacara resepsi saja. Kedepannya di duga kawin campuran antar budaya dan adat akan semakin meningkat dengan maraknya pergaulan di gereja maka peranan Adat bagi mereka yang bukan dari suku Batak juga akan nenpengaruhi pelaksanaan acara Adat Batak tersebut.

 

    1. Adat Kematian tahun 2025.

 

Perlakuan Adat bagi kematian yang memerlukan waktu yang cukup lama serta biaya yang lumayan mahal, secara alami akan menjurus pada pengurangan waktu tunggu pemakaman dan jenis serta beban suhut dalam penyediaan makanan dan minuman secara alami pula akan menurun dengan sendirinya. Penurunan terjadi, bukan saja karena   minat dan waktu luang generasi muda terbatas tetapi makna horja partuat ni natua-tua juga akan meluntur serta secara perlahan menurun drastis.

 

Pada waktunya, Adat kematian akan didominasi acara Kristiani, memperdengarkan lagu pujian kepada Tuhan, penghiburan dan doa serta arahan Firman Tuhan. Kemungkinan pakaian dan sikap suhut akan menjurus pada pola masa Israel pada Firman tuhan, bahwa kematian ditandai dengan pakaian serta kedukaan yang dilukiskan dengan puasa serta berhenti bekerja, cuti saja.

 

Dapat diduga, makam atau tugu masa sekarang yang menjadi bahan pergunjingan banyak orang, akan semakin merata di mana saja, karena penghormatan kepada orangtua tidak akan luntur sepanjang masa. Israel masa Yakub yang memperhatikan betapa tulang-belulang juga memerlukan pemeliharaan karena Yakub meminta anak-anaknya membawa serta tulang-belulangnya dari tanah Mesir. Penghormatan kepada orang tua yang demikian bisa semakin terpola pada masa datang.

 

Keterbatasan lahan diperantauan akan mengarahkan warga Adat Batak menempatkan tulang belulang leluhurnya di tanah aslinya.

Tanah asli yang dimaksudkan adalah di Tapanuli. Walaupun di Jakarta misalnya sudah disediakan lahan pemakaman di San Diego Hills, Krawang, namun masih ada keengganan sebahagian warga Batak untuk memanfa’atkannya sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

 

    1. Adat dan budaya Nasional.

Pengutaraan tentang adat dan budaya nasional dalam buku Adat ini lebih mengarah pada suatu kerinduan warga adat untuk ikut serta memberikan kontribusinya bagi pertumbuhan dan pengembangan bangsa dan negara Indonesia. Walaupun warga adat Batak terkesan menyebar dimana-mana, namun mereka tetap saja peduli akan negara dan bangsanya. Pejuang dan pahlawan warga adat Batak cukup tanggap akan kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia. Tanah tumpah darah Indonesia adalah tanah yang dibela serta dibangun secara sepenuh hati. Maka suatu catatan akan keadaan warga adat Batak pada dan menjalani tahun 2009 serta tahun-tahun berikutnya akan tetap konsisten untuk berpartisipasi dalam pembangunan serta mau dan rela berkorban demi kejayaan bangsa dan negara kesatuan yang utuh dalam kebhinekaan yang dipadu di dalam Bhineka Tunggal Ika dengan bingkai negara Pancasila.

 

  1. Warga Adat Batak dan suasana tahun  2009-2010.

Pada tahun 2009, sa’at pelaksanaan pemilihan umum untuk DPR serta pemilihan presiden serta wakil presiden yang dilaksanakan secara langsung oleh rakyat, terasa betapa posisi dan keberadaan warga adat Batak semakin merosot jumlahnya serta semakin mengecil perananannya. Bukan tidak banyak warga adat Batak yang memiliki ilmu pengetahuan yang diatas rata-rata, bahkan jumlah warga adat Batak yang berpredikat doktor cukup banyak.

Namun peranan mereka dalam pemerintahan cenderung semakin mengecil. Ada kekhawatiran bahwa posisi warga adat Batak akan berada pada tingkat rata-rata saja, sehingga piramida yang dahulu agak membanggakan maka pada sa’atnya nanti bisa menjadi datar dan merata. Kesempatan untuk jabatan tinggi dan tertinggi negara menurun tajam dan disikapi dengan rasa prihatin.

 

Penurunan itu, terutama untuk perwakilan di DPR secara alami memang akan mengecil karena demokrasi yang melaksanakan pemilihan langsung di hadapkan dengan jumlah warga adat Batak yang relatif sedikit, hanya mampu memberikan suara bagi wakilnya yang jumlahnya terbatas juga.

 

Menyoroti pemilihan umum misalnya, khusus pemilihan anggota dewan perwakilan rakyat (DPR), sebenarnya yang terjadi adalah persaingan diantara banyak organisasi politik (36 orpol) yang berlomba agar ikut berkiprah di Senayan. Namun hasil yang diperoleh adalah sembilan orpol yang memenuhi treshold 2,5 % suara, sehingga hanya 25 % saja yang mampu menempatkan wakilnya di DPR RI.

 

Lebih jauh lagi jumlah warga adat Batak yang ikut serta dalam kontes pemilihan umum 2009 cukup banyak juga, hampir semua kontestan atau orpol mengajukan calonnya masing-masing dan dalam daftar calon itu ada saja warga adat Batak. Namun yang  bisa tiba di Senayan hanyalah sejumlah kecil saja. Apa yang menjadi kendala? Sesama warga adat Batak memang bisa berkiprah pada orpol yang berbeda, jadi mereka bersaing secara sehat, walau nyata persaingan itu mengingkari harkat persatuan dan persaudaraan.

 

Kalau suara mereka, suara warga adat Batak bisa bulat dan kompak untuk memperjuangkan satu orpol memang akan jauh lebih banyak warga yang terpilih mewakili minoritas tersebut.

 

Tetapi hal itu tidak mungkin karena ideologi masing-masing telah berkembang dan bertumbuh subur menurut keyakinannya serta sejalan dengan pengalaman kehidupannya masing-masing. Lebih jauh lagi, kesepakatan demi kesepakatan diantara warga negara Indonesia masih dapat dilaksanakan menurut keinginan dan sejalan dengan prinsip masing-masing. Dalam hal itulah kena mengena pepatah yang mengatakan bahwa di dalam politik tidak ada yang abadi, hari ini bisa kawan tetapi besok menjadi lawan.

 

Justru itulah dinamikanya politik. Sesama warga adat Batak tetap bergairah dalam dinamika politik itu, serta mampu berperan dan bisa memberikan kontribusinya kepada partai dimana saja mereka menjadi pesertanya.

 

Perkembangan selalu terjadi di bidang politik setiap ada kegiatan pemilihan pimpinan nasional, baik pada tingkat dewan perwakilan rakyat maupun lembaga lainnya, dan pemilihan presiden adalah puncaknya. Kepedulian setiap partai politik pada persaingan pimpinan nasional sangat keras serta segala upaya akan dilaksanakan agar menjadi pemenang. Tentunya, tradisi lama yang membawakan pimpinan nasional sebagai komposisi Jawa dan non-Jawa sering menjadi tradisi yang ingin dilihat dan dipertahankan oleh banyak pihak.

 

Hanya saja hal itu tidak akan berlaku selamanya. Dan pada tahun 2009, sudah kelihatan secara nyata betapa komposisi Jawa dan luar Jawa sudah menipis. Hanya pasangan Jusuf Kala (Makasar) dan Wiranto (Jawa) yang menjadi pasangan nusantara. Entah kemudiannya akan ada perubahan baru, masih perlu dibuktikan oleh sejarah nasional.

 

Kemudian pendekatan kedepannya masih ditunggu untuk tetap berpijak pada kebhinekaan, yang beragam suku, bahasa, agama dan etnis, dipertahankan sebagai kekuatan nasional.

Kontribusi warga adat Batak di tingkat nasional kemungkinan besar akan semakin menurun dalam jumlah orangnya namun diharapkan akan semakin meningkat mutu dan bobot kontribusinya. Walau tetap dipergumulkan agar gerakan Islam transnasional menuju negara Islam tidak dilanjutkan dan tidak terjadi di Indonesia. Hal itu menjadi sering dikhawatirkan karena keberadaan minoritas sering menjadi bulan-bulanan program dari mereka yang merasa dominan dan yang kebetulan menjadi penguasa. Namun satu hal yang menjadi pegangan warga adat Batak, bahwa sesungguhnya keragaman itulah buah tangan Allah Bapa.

 

Tuhan meciptakan manusia di berbagai belahan dunia dalam keberagaman suku bangsa, agama, kepercayaan bahkan etnis serta kelompok yang satu sama lainnya sangat berbeda. Bagi bangsa Indonesia secara nyata sudah mendarah daging prinsip kenegaraan yaitu: Undang-undang Dasar 1945 dan landasan dasar negara Pancasila yang di tambah dengan pengakuan akan Bhineka Tunggal Ika.

 

Memang diakui bahwa warga adat Batak memiliki beberapa faktor minoritasnya. Secara suku jumlahnya memang sangat sedikit, sekitar kurang dari 10 juta orang. Dari segi agama, sebagai penganut agama Kristen Protestan hanya beranggotakan sekitar 5 juta orang dan selebihnya beragam aliran agama Kristen Protestan lainnya disamping agama Katholik. Keminoritasan itu  bukanlah suatu ganjalan bagi siapapun di negara Indonesia tercinta apabila setiap pihak memegang teguh prinsip Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Apabila semua komponen bangsa mematuhi setiap prinsip kenegaraan, bagaikan negara Amerika Serikat yang menghormati keberagamannya, maka minoritas tidak akan merasa terusik dan tidak terganggu dengan keadaan minoritasnya. Kekhawatiran sering timbul karena kelompok lain memegang sistim atau metode keakuan yang sangat tinggi, melebihi kewajaran dalam kerukunan. .
Seperti adanya sebuah aliran  yang merasa dan memproklamirkan tindakannya yang menjurus kepada pembenaran diri sendiri. Doa orang benar selalu didengar dan dikabulkan oleh Tuhan, oleh sebab itu minoritas Kristiani selalu memohon kepada Tuhan agar pimpinan negara dan bangsa Indonesia diberikan kearifan dan kebijaksanaan dalam memimpin negara sehingga minoritas nyata haknya dan dilindungi kepentingannya. Entah apa yang dilakukan serta direncanakan mereka yang mau membenarkan diri sendiri tidak menjadi pemikiran khusus bagi minoritas Kristiani, melainkan menjadi perekat kebersamaan untuk berdoa bersama kepada Tuhan  akan kasih dan karuniaNya.

 

Demi kelangsungan hidup berdampingan secara damai dengan siapa saja dia negara Republik Indonesia tercinta ini. Jauhlah kiranya segala sifat dan rasa benci membenci di negara ini, serta suburlah kiranya sikap hidup berdampingan secara damai demi kesatuan dan persatuan negara secara utuh dan berdaulat dalam kebersamaan yang merata.

 

Satu hal yang tetap menjadi kebanggaan warga adat Batak, terutama yang warga Kristiani adalah sikap yang mudah mema’afkan. Suka dan sering membantu dengan penuh kasih. Dan yang utama lagi, memiliki loyalitas yang tinggi. Itulah sebabnya kalau ada yang mencari mitra dengan syarat loyalitas maka warga adat Bataklah alamatnya.

 

Ketulusan serta kesungguhan memberi tanpa mengharapkan menerima balasan, sudah menjadi sikap warga adat Batak yang merata pada setiap lapisan masyarakat, terpola serta terealisir dengan tanpa rekayasa. Solidaritas yang tinggi memberikan dorongan kepada setiap warga adat Batak untuk merasa ada keharusan menghadiri acara dan upacara adat Batak di kala mereka menerima undangan untuk kegiatan dan perhelatan tersebut.

Rasa kebersamaan dan sikap toleransi sesama warga adat Batak, memberikan dua sisi pemikiran warga adat Batak masa abad 21 ini, yaitu:

  1. harus menghadiri acara dan upacara adat Batak sebagai sikap kebersamaan.
  2. Harus mempertimbangkan kegiatan rutinitasnya sebagai sikap umum umat manusia untuk mencari nafkah menghidupi diri dan keluarganya.

 

Dengan demikian semakin terasa bahwa kerinduan Warga Adat Batak khususnya generasi muda dalam mencari efisiensi waktu dan dana semakin mendesak. Sikap dan kerinduan efisiensi tersebut memang bermakna ganda, yaitu (a) hemat waktu dan (b) hemat dana atau hemat uang. Diperkirakan pada masa duapuluh tahun yang akan datang, kerinduan itu akan terealisir dengan sendirinya, secara alami, karena setiap warga semakin memahami esensi adat Batak dan menghargai waktu untuk keperluan diri serta keluarganya.

 

Tentu saja kepedulian akan efisiensi tersebut bukan hanya sebatas kepentingan kelompoknya saja melainkan mengarah kepada kepedulian dan kepentingan pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia juga. Sebagaimana disebutkan dan difahami secara umum, warga adat Batak adalah warga negara yang setia serta loyal kepada tugas dan tanggung jawabnya, sehingga tidak akan mudah untuk mengorbankan waktu pengabdian dalam tugas demi kebutuhan acara dan upacara adat semata.

 

Betapa seorang warga adat Batak membentuk dirinya sebagai sosok yang berprestasi dengan memegang prinsip kejujuran dan mengayuhkan hidupnya dengan keta’atan kepada perintah Tuhan dalam kepercayaan agamanya, antara lain: ”jangan berbohong dan jangan mencuri!”.

 

Prinsip itu saja sudah menjadikan sosok warga adat Batak pantas dan wajar untuk diberikan kepercayaan atas tugas dan tanggung jawab apapun, sehingga dalam pengabdiannya akan memberikan hasil serta menunjukkan prestasi yang berorientasi pada tugas secara merata dan tersebar keseluruh warganya. Sikap itu wajar dan memang murni. Proses kesana memang akan berlangsung dengan sendirinya, dan warga adat Batak dengan penuh pemahaman akan keberadaannya sebagai minoritas, memandang jauh kedepan dan menyadari bahwa banyak hal yang akan berproses secara alami, karena itu tidak perlu membentuk perlawanan dan tidak usah melakukan aksi apapun terhadap dan kepada pihak lain dan tidak ada niat menuntut atau menentang pemerintahan yang ada. Hal itu perlu dicermati karena hingga tahun 2009, belum ada muncul program pemerintah pusat untuk memberdayakan daerah.

 

Memang jumlah yang berkiprah di luar Tapanuli masih jauh lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang bekerja dan berkarya di daerah Tapanuli sendiri. Hal itu tidak mengherankan karena kesempatan di daerah perkotaan terutama ibu kota Jakarta jauh lebih menjanjikan dibandingkan kesempatan di daerah Tapanuli. Kedepannya memang warga adat Batak dituntut untuk semakin professional dalam segala bidang. Sebagai salah satu contoh, keberadaan danau Toba, yang sungguh sebagai anugerah Tuhan yang luar biasa, belum menjadi kebanggaan daerah dalam banyak hal. Ada beberapa ide lama yang pernah menjadi pemikiran sementara warga adat Batak  untuk mendaya gunakan danau toba menjadi kebanggaan tersendiri bagi daerah  Tapanuli antara lain:

 

  1. membangun jalan sekitar danau Toba, sehingga para turis yang berkunjung bisa mengelilingi danau Toba dengan menikmati poemandangan indah serta menjadi acara rutin para turis ke daerah itu. Jalan melingkar bisa diluar danau Toba, atau di pulau Samosir sendiri.
  2. Membangun sarana pariwisata dengan membangun cable-car dari Dolok Pusuk Buhit ke Samosir dan ke Parapat.
  3. Membangun Pulau Samosir menjadi kawasan wisata rohani dan wisata pertanian.
  4. Menjadikan danau Toba sebagai agenda pariwisata tahunan dengan acara yang sejalan dengan pesta Danau Toba.
  5. Menghidupkan lapangan terbang Silangit dengan layak dipergunakan pesawat jenis Boeing 737.

Dengan sarana tersebut maka wisatawan dapat langsung menuju objek wisata setempat tanpa menghabiskan waktu di jalan darat dari Medan ke Tapanuli dengan masa tempuh yang cukup lama ( 6 hingga 10 jam).

  1. Meningkatkan kawasan wisata yang sudah ada dengan objek wisata baru, seperti pemugaran makam Nomensen, pembangunan kawasan Silangit, pemberdayaan sumber air panas, peningkatan prasarana antar kecamatan, penyuluhan pertanian sehingga ada objek wisata pertanian dan lainnya.

 

Semua gagasan tersebut bukanlah pekerjaan mudah dan tidak pula murah. Namun suatu hal yang kemungkinan dapat dilakukan adalah keikut sertaan pemerintah pusat dalam meningkatkan potensi daerah untuk membenahi dirinya sendiri.

 

Hal itu belum pernah tercetus dari pemerintah Indonesia walau sudah merdeka lebih dari 64 tahun.   Namun bukanlah hal mustahil apabila dalam periode pemerintahan di masa datang ada gerakan nyata untuk pembangunan daerah dalam konsep ekonomi lidi. Artinya tiap daerah menjadi satu ikatan lidi dalam pemberdayaan daerah sesuai potensinya sehingga semua lidi tersebut diikat lagi dengan kepentingan dan program nasional sehingga ada road-map nyata kedepannya bagi siapa saja yang menjadi pimpinan nasional.  Memang  dalam pemikiran warga adat Batak sendiri, mencari  sumber penghidupan yang semakin baik adalah wajar.

Oleh sebab itu mereka semakin menyadari bahwa merantau dan berpindah ke perkotaan adalah wajar dan semakin umum. Memang masa lalu warga adat Batak umumnya terobsessi agar setelah meninggal hendaklah dimakamkan di tanah kelahirannya, bagaikan lagu: Pulau Samosir do, hatubuanku Samosir do, ......, ianggo bangkeku disi tanomonmu disi udeanku Samosir do!”

 

Bermakna bahwa kelahiran memang Pulau Samosir, dan makam untuk persemayaman kelak setelah meninggal juga di pulau Samosir, sebagai suatu pesan bahwa makam di daerah perantauan bukanlah pilihan mereka.

 

Walaupun setelah meninggal mereka sudah tidak tahu dimana dimakamkan, tetapi semasa hidup ada ungkapan keinginan agar dimakamkan di daerah kelahirannya. Masa abad 21 ini hal itu sudah ditingggalkan, bahkan banyak yang sudah dimakamkan di daerah perantauannya. Seakan ada lagu dan syair lagu baru yang sudah menjadi umum bagi masyarakat adat Batak, khususnya mereka yang lahir di Tapanuli. Kata-kata atau syairnya adalah sebagai berikut: ” huta ni damang hatubuan ndang marimbar tano hamatean, alai Tapanuli do ianggo pangulonan paima ro panguhuman ni Tuhan!”

Apa yang dinyatakan dalam hal ini, adalah keinginan mereka untuk dimakamkan di Tapanuli, walau meninggal di mana saja. Biarlah mayatnya di makamkan di Tapanuli, hingga akhir zaman tiba, di kala Yesus Kristus datang kembali untuk menghakimi orang mati dan orang yang hidup. Pemakaman San Diego Hill populer dan mahal, namun sebagai makam warga Batak masih sebagai alternatif.

 

Dalam hubungan itu, ajaran Kristiani memberikan pola pikir maju kepada warganya, dengan  mengatakan bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali adalah kedatangan untuk orang hidup dan orang mati, maka makam atau kuburan orang mati hendaklah ditata secara terencana.

Tujuannya, agar pada hari penghakiman itu mereka yang sudah mati layak bangun dari kubur yang dipeliharakan atau dirawat oleh anak cucunya dan keturunannya.

 

Makam Rachel dan Yakub misalnya masih dapat dilihat dan disaksikan di Yerusalem arah ke Betlehem. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus akan menghakimi mereka di kala Dia datang kedua kalinya.

UmatNya berseru: datanglah ya Tuhan Yesus,  kami selalu siap menerima kedatanganMu. Kehidupan kami adalah kehidupan yang peduli kepada sesama walau kami penuh dosa, tapi kami telah disucikan darahMu. Datanglah Tuhan Yesus, kami menunggu untuk ikut sertaMu kesana, kami siap mendiami kerajaan sorga, tempat yang Tuhan anugerahkan kepada semua orang percaya!”.

6. Mengapa peduli tentang peranan Adat Batak.

Ketika kepedulian warga adat Batak semakin padu dalam keinginan untuk berpartisipasi dalam era baru untuk negara tercinta Indonesia, maka warga adat Batak pada dasarnya ingin merenda kepeduliannya dengan mengajukan suatu konsep pembangunan sistim lidi. Masing-masing komponen bangsa diakui sebagai satu .lidi dari sekian banyak lidi untuk memperkuat dan menguatkan bangsa dan negara.

Memang lidi kalau sendiri sangat terbatas kekuatan dan daya dobraknya, walau diketahui sebatang lidi mampu untuk menopang kegiatan masyarakat luas. Namun dengan menyatukan lidi di dalam satu kesatuan kegunaan akan berlipat ganda serta dapat dikelompokkan dalam berbagai kelompok sehingga kelak menjadi satu kesatuan yang kokoh, kuat dan berdaya dobrak sangat kuat.

Tersebutlah misalnya konsep sistim ekonomi lidi yang memberikan suatu gambaran utuh menjadi satu konsep ekonomi nasional yang tangguh dan berdaya guna, lihat gambar-1. Komponen demi komponen menjadi satu dalam kordinasi pimpinan nasional atau presiden untuk kemudian menyatu menjadi kekuatan yang membahana dan kemampuan luar  biasa untuk memajukan negara. Bagaikan sebuah mesin, semua komponennya harus berpadu, diberikan pelumas yang sesuai serta dilakukan pemeliharaan berkala sehingga tidak satu komponenpun yang tertinggal dan tertinggalkan.

 

 

 

 

 

Gambar-1: Ekonomi Lidi dengan memberdayakan potensi daerah beserta semua kekayaan alam nasional.

 

 

Tradisi masyarakat Indonesia hendaklah dipergunakan sebagai inti utama dalam merancang sistim ekonomi nasional dengan tujuan:

  1. Mayoritas masyarakat pedesaan sudah hafal dan terbiasa dengan  tradisi lama, sehingga adaptasi akan lebih mudah untuk pemahaman serta lebih mudah dilaksanakannya.
  2. Tradisi yang sudah mengakar secara turun temurun sebagai budaya kuat masyarakat, sehingga dalam implementasi kebijakan baru dengan beralaskan sistim baru berdasarkan kebiasaan tersebut akan mudah dilaksanakan dan sederhana pula pengawasannya, sehingga ongkos pelatihan dan pelaksanaan tidak terlalu mahal lagi.

 

Sistim penguatan berdasarkan ikatan masyarakat bagaikan ikatan lidi akan memungkinkan pembentukan kelompok-kelompok untuk berkiprah pada salah satu bidang usaha atau bahkan pada salah satu  bidang tugas dari berbagai tugas pembangunan bangsa dan negera.  Pengalaman sejak lama, dalam membangun infrastruktur berupa jalan, maka buruh bangunan yang kebanyakan dari Jawa Tengah, sudah terlatih dan terbiasa dengan pekerjaan tersebut sehingga:

 

  1. pelatihan tidak terlalu memberatkan pemborong, hanya dengan memberikan sedikit contoh sudah bisa ditiru serta dilaksanakan.
  2. kerjasama antara kelompok yang satu dengan yang lain mudah kordinasinya karena mereka sudah pernah kerjasama dan sering bertukar bidang tugas, sehingga integrasinya dapat dilaksanakan dengan baik.

 

Konsep sistim ekonomi yang masih hangat diajukan dan dipromosikan era tahun 2009 oleh para calon presiden masih seputar ekonomi kerakyatan.

Ekonomi kerakyatan pada dasarnya hanyalah sebagai suatu istilah atau slogan belaka, seakan menempatkan rakyat sebagai kekuatan ekonominya, namun pada kenyataannya hal itu belum menyentuh bagian hakiki dari masyarakat sendiri. Bisa saja maksudnya menempatkan rakyat yang akan terobsessi menjadi pelaku dalam sistim ekonomi kerakyatan tersebut. Sejak puluhan tahun memang disinggung hal yang bertalian dengan pengusaha kecil dan menengah, namun masih perlu diamati betapa golongan ekonomi lemah semakin lemah saja karena tidak mampu memperoleh bantuan dana apabila memang dibutuhkan. Salah satu syarat yang sulit dipenuhi adalah jaminan pinjaman yang umumnya adalah barang bergerak atau barang tidak bergerak. Hal itu sangat tidak mungkin karena usaha kecil sering tidak memiliki jaminan tersebut, bahkan ada diantara mereka hanya mengontrak rumah dan menyewa lokasi dagangnya.

 

Sistim pembangunan dan metode ekonomi lidi membentuk kelompok dalam satu ikatan dan ikatan itulah yanag menjadi jaminan untuk memperoleh dana pinjaman. Artinya ekonomi lidi membentuk kelompok yang memiliki badan hukum yang dapat dipromosikan kepada pemerintah untuk ditetapkan sebagai institusi yang berbadan hukum dengan jaminan ijin dan legalitas pemerintah sendiri.

 

Tentu saja, sebagai institusi kelompok tersebut harus nyata  dilindungi pemerintah sehingga pemerintah sendiri akan menjadi acuan dan jaminan di kala golongan ekonomi lemah membutuhkan dana pinjaman. Pemerintah juga memberikan  contoh serta metode pengajuan dana agar penyandang dana (bank atau lembaga keuangan) mampu memahami apa yang dimaksudkan oleh usaha kecil dalam pengajuan pinjamannya. Bukan tidak mungkin pembauran dan implementasi sistim ekonomi yang multi sistim akan dilaksanakan demi membaurkan keadaan yang sudah jalan, setengah jalan dan yang akan jalan, yaitu:

 

  1. ekonomi pasar, sistim perekonomian yang mengandalkan kekuatan pasar disebut  dengan sistim ekonomi liberalisme.
  2. Ekonomi poros UMKM, dimana campur tangan pemerintah berlaku secara terbatas dengan poros UMKM.
  3. Ekonomi lidi dengan pembentukan lembaga yang mengatur dan menyemangati usaha baru dan mendukung usaha lama dengan membentuk kelompok usaha perdaerah, diikat oleh ketentuan dan campur tangan pemerintah, sehingga usaha baru dan usaha lama yang memang milik masyarakat luas dengan jaminan pemerintah dapat memperoleh dukungan dana dengan mudah serta terawasi dengan baik.

 

Mempersatukan ketiga sistim tersebut seperti disajikan di dalam gambar-2, memadukan kekuatan masing-masing menjadi tulang punggung ekonomi lidi tersebut. Dengan demikian sistim ekonomi lidi harus menghindarkan kelemahan dari setiap sistim sehingga apa yang dilaksanakan oleh masing-masing kelompok benar-benar suatu sistim yang dapat dilaksanakan dengan mudah, dikerjakan bersama-sama, diawasi secara bersama sehingga keberhasilan kelompok demi kelompok tertata dengan baik dan terawasi secara langsung. Kedepannya pelaksanaan ekonomi lidi diawasi oleh aparat dan perangkat organisasi pemerintahan demi menghindarkan adanya penyimpangan atau kesalahan operasional, sebelum segalanya terlambat.

 

Merekat ketiga sistim tersebut dalam konsep ekonomi lidi harus dilakukan oleh pemerintah pusat dengan kerjasama yang saling mendukung dengan aparat pemerintah daerah.

 

 

Gambar-2: Sistim ekonomi yang paling sesuai  bagi negara kepulauan Indonesia – suatu konsep yang memerlukan pengembangan dan penguatannya.

 

 

 

7. Alternatif baru – Ekonomi Lidi.

 

Memahami dua konsep yang sudah dilansir dan dipromosikan secara konsisten sejak masa orde baru, maka sistim baru yang disebut ekonomi lidi adalah konsep kebersamaan yang berlandaskan kekuatan daerah menurut potensinya masing-masing. Kalau ekonomi liberal yang berlandaskan pasar banyak berhasil walau tidak menggigit hingga masyarakat kecil, maka sistim UMKM yang dipromosikan beberapa dekade belakangan masih tersendat karena pola tersebut kurang memasyarakat, maka alternatif ekonomi lidi diharapkan dapat menjadi penguat pembanguan ekonomi nasional.

 

Konsep ekonomi lidi mempunyai kekuatan di dalam upaya memadukan keragaman  budaya nasional, yang mengikat kelompok tradisional tertentu dalam satu kekuatan tersendiri yang unik menurut potensi daerahnya masing-masing.

 

Tentu saja tetap dapat mengadopsi hal-hal dan faktor yang telah mengakar dan berproses selama ini menurut sistim liberal dan sistim atau poros UMKM. Kombinasinya dimungkinkan dengan adaptasi yang seimbang, dimana ikatan lidinya adalah pemerintah yang kuat dan yang berdaya guna. Ikatan itu lebih mengarah pada pemikiran dan rekayasa konseptual, sedang lidinya adalah daerah otonomi yang ada dengan segala keragaman potensinya. Memang untuk implementasinya dibutuhkan tim kuat di tingkat pemerintahan Pusat serta tim pelaksana yang tangguh di tingkat daerah menurut potensinya masing-masing.

 

Budaya warga adat Batak memiliki beberapa sikap dan sifat khusus yang memperkuat kelompoknya dalam menunjang pembangunan ekonomi nasional, dengan sistim ekonomi lidi bangsa dan negara Indonesia. Kekuatan dan sifat tersebut adalah  berupa:

 

  1. gotong royong
  2. kekeluargaan
  3. landasan kuat pada agama dan pendidikan
  4. mampu menjawab tantangan alam

 

Berdasarkan indikasi kekuatan tersebut maka pemerintah harus mengikatnya dengan ketentuan dan peraturan yang seirama dengan sikap tersebut. Landasan utamanya adalah potensi setiap daerah, yang diketahui ada pernbedaan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Ikatan pemerintah yang seiring dengan kekuatan tersebut antara lain adalah:

 

  1. mendorong pembentukan kelompok usaha kecil sejalan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat di Tapanuli, yaitu usaha pertanian dan perkebunan diselingi oleh usaha peternakan. Dapat didirikan usaha koperasi atau kelompok tani tertentu dengan ikatan yang diterapkan pemerintah dengan bantuan berupa:

 

  • permodalan
  • bimbingan lapangan
  • pengadaan pupuk dan penguatan jaringan pemasaran
  • penelitian dan penyuluhan
  • pengadaan stok dengan pola Perum Bulog (Bulog lokal).

 

  1. membaurkan potensi daerah dengan program nasional  melalui pemberdayaan otonomi daerah yang terkendali dan terencana secara nasional.

 

  1. Membangun prasarana daerah secara berantai dari satu daerah ke daerah lainnya, upaya mana akan mendekatkan hasil pertanian dan perkebunan ke lokasi pasar dan atau mendirikan sarana pasar lokal untuk menyerap hasil pertanian dan perkebunan daerah.

 

Tentu saja daerah dan suku lainnya mempunyai budaya dan kebiasaan serta potensinya sendiri-sendiri, namun satu hal yang harus menjadi keputusan kedepannya adalah memberdayakan potensi wilayah dengan perpaduannya dalam budaya setempat. Kekayaan budaya nusantara adalah bagaikan keberadaan lidi yang lepas, satu demi satu tidak ada kekuatan apa-apa, tetapi dengan ikatan kuat yang adalah pemerintah dengan segala kekuatan dan kejujurannya, lidi lepas menyatu menjadi lidi yang bersatu dan menyatu sehingga berkekuatan serta berkemampuan menggeliatkan ekonomi nasional. .

 

Ketika keberadaan daerah dan budayanya mengemuka maka sesungguhnyalah budaya itu sebagai kekuatan nasional serta keberagamannya sebagai  landasan kuat untuk maju bersama dalam tatanan ekonomi lidi yang memerlukan ikatan agar menjadi kuat.

 

Keragaman potensi daerah secara tidak ter-register sudah dimaklumi serta diketahui sejak lama, antara lain:

 

No.

Nama Daerah

Potensi Daerah

01

Irian Jaya - Papua

Kayu dan tambang emas

02

Ambon

Ikan dan mutiara

03

Kalimantan Timur

Minyak dan batubara

04

Bangka Belitung

Timah

05

Batam dan Riau

Pasir dan minyak

06

Sumatera Utara

Perkebunan dan pertanian

07

Kalimantan Barat

Perkebunan

08

Sumatera Selatan

Pupuk dan batu bara

09

Pulau Jawa

Industri, padi dan tehnologi

10

Aceh

Pupuk

11

Bali

Pariwisata

12

Sulawesi

Tambang dan kopra

13

Nusa Tenggara

Tambang

14

Kalimantan (all)

Batubara dan kayu

15

Jambi

Perkebunan

 

Tabel-5.  Komposisi kekuatan daerah untuk diakui sebagai unit kelompok dalam ekonomi lidi, sebagai contoh.

 

Ikatannya adalah segala ketentuan perundangan yang berlaku dengan peraturan pelaksananya berupa keputusan rinci agar komponen daerah dapat dan mampu melaksanakan kebijaksanaan pemerintah tersebut.

Oleh sebab itu pemerintah harus kuat dan lagi harus memahami dan menguasai segala budaya nasional beserta keberagamannya dalam suku, agama, etnis serta adat istiadatnya. Bhineka Tunggal Ika adalah landasan dasar pemahaman tentang ekonomi lidi serta sebagai referensi akan pengembangannya.

 

Tentu saja perlu dilakukan pemetaan baru akan segala potensi yang ada, bukan sebatas propinsi melainkan jauh mengakar pada kabupaten dan kota. Keberadaan sumber alam menurut kota dan kabupaten dipergunakan sebagai landasan pembangunan daerah tersebut, ditata dengan baik dan direncanakan pemanfaatannya secara nasional. Kalkulasi hasil daerah dengan sistim bagi hasil antara daerah dan pusat dilakukan dengan prinsip keseimbangan. Bukan hanya sebatas hasilnya melainkan komponen pajak terkait dengan proses eksploitasi setempat beserta hasilnya dalam hitungan nilai – bukan sebatas volumenya semata.

 

Mengemuka sejak lama kebijaksanaan pemerintah atas produksi atau hasil setiap daerah  yang belum dioptimalkan, bukan sebatas undang-undangnya saja melainkan tahap implementasi kebijakan atas potensi tersebut. Bukankah misalnya Freeport masih menjadi salah satu kajian yang memerlukan evaluasi baru, baik tentang bagi hasilnya maupun tentang kepemilikan sahamnya. Keberadaan tambang emas di Irian Jaya tersebut yang peringkatnya di dunia sudah mensejajarkan diri pada peringkat utama, sangat penting posisinya bagi pertumbuhan pertambangan lainnya di kawasan nusantara Indonesia.

 

Walaupun potensi daerah adalah sepenuhnya untuk orientasi ekspor, namun ada baiknya komoditi tertentu mendapatkan kajian juga tentang alokasinya, apakah semuanya untuk konsumsi lokal atau orientasi ekspor saja, atau bahkan kombinasi dari keduanya.

 

Kearah ini pemerintah harus menaruh perhatian penuh, siapapun pemenang pemilu 2009, masalah dan pokok kajian ini sangat penting untuk masa depan bangsa dan negara. Mengamati tata  niaga serta ketentuan perundangan yang berlaku, termasuk peraturan daerah masing-masing, ada satu kerinduan dunia usaha untuk mengemas kepedulian pemerintah pusat secara nyata.

 

Setiap daerah harus mengajukan usul pengelolaan dan pengolahan potensi setempat dengan kajian eksploitasi dan bisnisnya, data dan informasi mana menjadi padu di dalam konsep ekonomi lidi nasional. Ikatan lidi itu adalah pemerintah pusat dengan konsep regulasinya yang juga berperan sebagai pengawas akhir dari setiap pergerakan dan pertumbuhan potensi setiap daerah. Hal ini juga sejalan dengan penciptaan lapangan kerja yang :

 

  1. menampung professi yang tercipta di tengah masyarakat daerah menurut jalur pendidikan yang dilalui oleh setiap warga negara.
  2. Mengembangkan mutu dan tingkat output setiap professi menjadi suatu standard nasional yang berlaku bagi setiap daerah
  3. Memperluas cakupan setiap potensi yang ada menjadi merata pada daerah lain selama kondisi serta komponennya ada serta tersedia setempat.
  4. Melipat gandakan hasil akhir setiap potensi daerah menjadi pertumbuhan yang cukup berarti untuk mendorong tingkat pertumbuhan nasional.
  5. Menuntun professi yang ada pada upaya pemberdayaan SDM setempat untuk menopang pertumbuhan dan peningkatan tenaga terdidik dan terlatih secara nasional.

 

Pada dasarnya potensi tersebutlah yang menjadi unit atau kelompok nusantara yang diikat sebagai ikatan lidi lokal, yang kelak diikat lagi secara nasional.

Ikatan itu kuat karena setiap komponen memang memperoleh kebebasan mengembangkan diri setempat yang tidak perlu melihat atau membandingkan dengan komponen lain di daerah lain karena masing-masing memiliki garis dan ikatan lidi yang berbeda. Bisa yang satu ikatannya pertambangan, yang lain perkebunan, yang lain perikanan dan sebagainya. Masing-masing berpotensi untuk dikembangkan dan pengembangan tersebut menjadi nyata sebagai komponen pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu syarat tambahan untuk keberhasilan ekonomi lidi adalah pembangunan infrastruktur yang merata di seluruh kepulauan nusantara. Jalan darat dan jalan udara membutuhkan pembenahan yang baik, agar tidak ada potensi daerah yang terisolir.

 

Bukan lagi rahasia umum bahwa hasil pertanian dan perkebunan daerah tertentu bisa saja membusuk dan mubajir karena tidak dapat diangkut tepat waktu ke daerah pemasarannya. Hal itu hanya karena infrastrukturnya tidak menunjang angkutan darat setempat, baik karena tidak ada sarananya maupun karena jalan darat tidak menunjang angkutan barang. Kelancaran angkutan.yang didukung oleh sarana jalan dan infrastruktur terkait (jalan , jembatan, listrik, telepon dan sarana pendukung) sangat berpotensi untuk menjamin keberhasilan sistim ekonomi lidi, yang terdiri dari beberapa komponen daerah menurut potensinya masing-masing.

 

Keberhasilan masing-masing ikatan (menurut potensi daerah) sangat mendukung keberhasilan ekonomi nasional, lihat gambar-3. Tidak dapat diabaikan satu komponenpun apabila pembangunan ekonomi nasional adalah orientasinya. Memang ada kebutuhan alokasi daya dan dana pada awalnya untuk membangun sistim ekonomi lidi tersebut. Namaun setelah rekayasa dan design nasionalnya sudah tercipta dengan baik, kedepannya sistim itu menjadi suatu kesatuan dengan kehidupan daerah, tanpa ada daya dan dana khusus untuk membangun serta melaksanakannya.

Itulah sebabnya konsep ini membutuhkan pemikiran dan menuntut suatu konsep awal yang baik sehingga para pihak terkait memahami betul kontribusi yang akan disumbangkan pada sistim tersebut. Ketika setiap daerah sudah mampu mengajukan konsep potensi daerahnya masing-masing, maka untuk kompilasinya memang membutuhkan daya dan dana di tingkat pusat, yang bertalian dengan konsep, pengawasan dan penyempurnaannya.  Di dalam ketiga kegiatan ini daerah memang sangat tergantung pada pusat. Namun dalam implementasinya otonomi daerah benar-benar berdaya guna.

 

 

 

Gambar-3: Pada sistim ekonomi lidi setiap komponen menurut potensinya masing-masing bertumbuh dan berkembang menurut rekayasa pusat yang menjadi satuan lidi dalam sistim ekonomi lidi nasional.

 

Walaupun sistim ekonomi lidi sangat berpotensi untuk berhasil dengan cara memanfaatkan potensi daerah, namun perlu digaris bawahi bahwa sistim apapun yang dilaksanakan salah satu kunci keberhasilannya adalah memberdayakan potensi daerah secara optimal, terencana dan terkordinasikan dengan baik. Perencanaan dilakukan dengan mencari keterpaduan antara daerah dengan pusat walaupun berbeda proses dan kegiatannya.

 

8. Efisiensi dan hubungannya dengan prestasi.

 

Dengan semakin nyata tantangan dan harapan yang berjarak jauh, maka pada dasarnya warga adat Batak sudah menyadari bahwa perjuangan hidup bukan semakin mudah melainkan semakin sulit. Memang efisiensi waktu dan efisiensi dana pada acara adat warga Batak adalah salah satu pokok bahasan belakangan karena pelaksanaan adat yang padat dengan pepatah dan petitih ala tetua adat masa lalu. Lagi pula tahapan adat itu sendiri bukanlah tahapan yang mudah untuk dihilangkan, walaupun sudah ada yang menggabungkan beberapa tahapan menjadi satu kegiatan terpadu.

 

Melihat pertumbuhan dan pertambahan jumlah penduduk ternyata di daerah Sumatera Utara, termasuk warga adat Batak, mempunyai persentase pertumbuhan yang cukup rendah. Menurut statistik sementara maka kenaikan itu hanya sekitar 3 % saja, berarti lonjakan penduduk bukanlah yang paling dominan memberikan keresahan tentang pemenuhan kebutuhan masyarakat adat Batak. Permasalahan lahan untuk diwariskan kepada keturunan para petani juga bukanlah hal yang meresahkan. Satu masalah yang dominan adalah masalah kesempatan berkarya dan bekerja. Sejak awalnya warga adat Batak memang terobsessi sebagai petani dan pekebun saja. Setelah mengenal pendidikan maka mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya mengarahkan pandang pada kepegawaian.

 

Mereka ingin menjadi PNS, walau sebahagian tetap berkiprah pada bidang kemiliteran dan kepolisian namun jumlahnya terbatas dengan beberapa kendala intern, yaitu dana dan backing. Tetapi masa lalu rintangan itu seakan dapat diatasi dengan kemampuan pribadi, baik kebugaran phisik maupun karena landasan ilmu pengetahuan yang dimiliki dan ditimbanya di kala sekolah. Salah satu kebanggan lama adalah warga adat  Batak sangat dikenal dengan ilmu pastinya, kala itu adalah ilmu ukur dan aljabar.

 

Kini dengan perkembangan baru, hampir merata dimana-mana justru unggulan ilmu ada dan dibawakan melalui bendera sekolah atau perguruannya masing-masing, seperti perguruan atau sekolah Penabur misalnya.

 

Kini pada waktu dan masa pembangunan bangsa dan negara yang berupaya menegakkan demokrasi nasional, terdapat berbagai bidang kegiatan baru bagi semua warga negara Indonesia. Partai politik yang jumlahnya 39 partai, menjadi salah satu  bidang baru yang diminati banyak orang. Dengan syarat harus eksis di semua propinsi dan kabupaten maka sekurangnya ada 500 kota atau daerah yang memerlukan kepengurusan partai. Apabila semua partai yang 39 tersebut memiliki kepengurusan di daerah yang jumlahnya 500, walau hanya jabatan ketua, sekretaris dan bendahara, maka pengurus partai di daerah harus ada tenaga kerja sekurangnya lima orang. Oleh sebab itu tempat baru yang tersedia adalah sebanyak 39 x 500 x 5 = 97.500 orang. Berapa diantaranya yang tersedia bagi warga adat Batak?

 

Tidak ada rumus atau ketentuannya. Namun melihat apa yang ada tahun 2009, hampir di semua propinsi ada pengurus partai yang ditempati oleh warga adat Batak. Memang dunia politik sangat digemari, karena disana semuanya bisa diatur atau ”aturable”.

 

Hanya saja dengan keadaan tahun 2009 aturan main partai sudah jelas dan ketentuan 2,5 % pemilih pada Pemilu 2009 adalah syarat untuk ikutan di DPR Senayan, sehingga dari 39 partai hanya 9 partai yang mampu melewati syarat minimum tersebut. Kemudian timbul harapan-harapan baru dengan kesempatan terbuka pada bidang politik ini, dimana posisi dan jabatan kenegaraan terbuka bagi mereka yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Oleh sebab itu kiprah warga adat Batak bukan hanya sebatas PNS tersebut itu, melainkan orientasi pada pencapaian ilmu dan pengetahuan yang terbaik, agar mampu bersaing dengan setiap warga negara yang mempunyai minat yang sama.

 

Oleh sebab itu kedepannya warga adat Batak mempunyai misi nyata bagi dirinya, kelompoknya dan bangsa serta negaranya, yang berpusat pada kematangan diri dalam ilmu dan pengetahuan sehingga siap bertugas dan mengabdi di bidang apa saja demi masa depan yang lebih baik. Patut dihargai juga bahwa semua warga adat Batak masih tetap konsisten akan pentingnya pendidikan. Mereka memang menempatkan pendidikan anak sebagai prioritas hidupnya.

 

Dengan kesempatan menjadi PNS atau karyawan swasta serta merintis usaha dan perusahaan kecil-kecilan, memang warga adat Batak semakin sedikit waktunya yang tersisa untuk menghadiri dan berpartisipasi pada adat Batak. Oleh sebab itu adalah wajar kalau mereka menuntut atau mendambakan suatu proses efisiensi waktu dan dana. Jawaban yang paling segera tiba adalah hal yang sudah dijelaskan pada bab sebelumnya, menata ulang acara dan upacara pernikahan dan upacara adat kematian.

 

Dua kegiatan adat ini padat dengan acara rutinitas yang memakan waktu cukup lama, sekaligus menuntut pengorbanan dana yang cukup banyak juga.

 

Pertanyaan juga datang dari berbagai pihak, karena kegiatan yang memerlukan dana tersebut tidak merata pada semua lapisan masyarakat adat Batak, terutama halangan karena tidak mempunyai sarana yang cukup untuk mengikuti acara dan upacara adat Batak tersebut. Mereka terkendala dalam dana dan waktu. Tingkat kemiskinan yang masih nyata memberikan pemahaman bahwa keinginan untuk hadir utuh dalam semua acara dan upacara adat Batak tetap tinggi, tetapi kemampuan keuangan dan kelonggaran waktu tidak mengijinkan. Bukan tidak ada esensinya di kala seminar adat Batak tahun 1995, pada saat perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke 50 tercetus ide dan tertuang suatu kesepakatan bahwa acara adat Batak dapat dilakukan pada malam hari. Kalau malam hari maka para karyawan akan bisa hadir dengan utuh tanpa halangan dari jam kerja, walau hal itu memang belum tersosialisasikan secara utuh.

 

Banyak tantangan dan halangan yang dijaga disana. Tempat acara dan upacara pesta pernikahan misalnya bukanlah tempat yang 100 % aman bagi mereka yang datang dan pulang dengan kenderaan umum, karena rentan dengan berbagai mara bahaya setempat.

 

Tentu saja, efisiensi tersebut semakin tinggi kemungkinannya terealisir apabila semua warga adat Batak mempunyai pendapatan diatas rata-rata. Karena kehadiran yang sebentar saja dalam acara dan upacara adat Batak sudah mempunyai makna keuangan, baik sebagai ungkapan suka maupun ucapan duka. Oleh sebab itulah maka kiprah baru warga adat Batak adalah masalah uang. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, rumah tangga masyarakat adat Batak juga sering terganggu apabila si suami tidak mampu memperoleh dana atau uang yang cukup, bahkan harus memenuhi sikap dan nuansa hidup perkotaan yang terkesan mewah dan diatas kehidupan rata-rata masyarakat sekitarnya.

 

Memang efisiensi bukan hanya mengurangi waktu untuk acara dan upacara melainkan menyentuh masalah kehidupan masyarakat juga dalam pemahaman bahwa hidup boros harus dihindarkan, dalam semua segi pergerakan kehidupan manusia. Tetapi jangan lupa  bahwa pertemuan diantara warga adat Batak dalam kaitannya untuk lepas rindu serta merekayasa serta merencanakan berbagai kepentingannya adalah suatu keharusan yang dalam hal efisiensi memerlukan persiapan yang lebih baik. Tetua adat serta yang menjadi ”suhut” dari kegiatan demikian harus mempunyai konsep yang matang untuk disodorkan kepada para hadirin. Konsep yang sudah disusun sebelumnya adalah bahan yang menjadi panduan dalam membahasnya. Kemudian proses pembahasan dan finalisasinya dapat berlangsung dengan cepat karena tidak dimulai dari awal lagi. Memang suatu ide tentang penyusunan konsep  sebelum acara pembahsan dilaksanakan tetap sebagai proses terbaik. Efisiensi yang hanya berorientasi pada penghematan waktu dan penghematan dana atau uang harus dijawab dengan cara dan upaya lainnya berupa tata cara lain untuk meningkatkan pendapatan serta mencari solusi keuangan melalui berabagai hal, antara lain:

 

  1. Menjadi warga negara yang terdidik dan terlatih adalah salah satu syarat untuk meningkatkan pendapatan sehingga dia mampu memberikan apa yang menjadi keharusan di kala mengikuti acara dan upacara adat.

 

  1. Hendaklah menggeluti bidang yang dipilih sebagai bidang yang harus berhasil baik sebagai PNS maupun sebagai karyawan swasta, mereka harus berhasil dan menjadi pemenang dalam setiap persaingan setempat.

 

  1. Ketika mengikuti ajang persaingan dalam bentuk apapun harus mampu menjadi pemenang karena dengan demikianlah maka professionalismenya nyata sebagai orang yang ahli

 

Dengan demikian penempatan dan pilihannya di tempat tertentu berhasil dengan baik, mampu untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik pula.

 

  1. Akan halnya dengan kesempatan dan kekhawatiran yang menjadi momok masa lalu karena adanya sistim backing dan sponsor harus dijawab dengan kemampuan bekerja dan berprestasi yang didukung oleh landasan pendidikan dan pelatihan yang tapat guna. Hal pendidikan dan pelatihan tersebut harus sesuai dengan bidang pengabdiannya.

 

  1. Profesi guru dan pengacara yang menonjol belakangan ini tetap dapat dipertahankan bahkan ditingkatkan karena bidang itu sangat sesuai bagi setiap warga adat Batak, karena ada bakat dan sebagai sifat bawaan dari pendahulunya.

 

  1. Ajaran dan arahan agama harus tetap dilaksanakan karena sejarah sudah membuktikan bahwa warga adat Batak sangat tinggi kesempatannya berhasil apabila menjalankan Firman Tuhan serta melaksanakan kasih sesamanya dengan baik.

 

  1. Kemahiran dalam berbagai bidang dan beragam jenis kegiatan umum masyarakat hendaklah menjadi kajian bagi setiap waga adat Batak, dengan pemahaman bahwa: apabila orang lain bisa, maka warga adat Batakpun pasti bisa, makanya belajarlah dan berlatihlah.

 

Tentu saja pesan efisiensi menjadi semakin penting bukan hanya untuk acara dan upacara adat Batak saja melainkan untuk seluruh jenis dan bidang kegiatan keseharian umat manusia di dunia ini, karena waktu yang tersedia hanya sebatas ketentuan Tuhan.

Ada 24 jam sehari, tujuh hari seminggu dan duabelas bulan setahun. Maka manfaatkanlah seefisien mungkin. Umur manusia akan berada pada tingkat rata-rata, sebagaimana dianggap usia yang berkenaan bagi Tuhan, tujuh puluh tahun dan kalau sampai delapan puluh tahun akan tiba pada kehidupan yang penuh perjuangan (hangaluton).

 

Maka nasehat untuk maju dalam keimanan dan berjalan menurut kemampuan serta mengabdi sesuai dengan bidang professi adalah halal hukumnya dan nyata dampaknya. Oleh sebab itu, marilah melihat gerakan efisiensi sebagai suatu langkah positif untuk kehidupan masa datang. Efisiensi bukan sebatas penghematan waktu dan uang saja, tetapi efisiensi juga menyangkut diri yang mementingkan hasil akhir diatas kata-kata dan ucapan semata.

 

Dengan prinsip demikian tentu semua akan menyambut efisiensi sebagai program bersama yang harus dilaksanakan serta diimani secara umum. Sejauh mana generasi muda akan menyerap makna dan arti hakiki dari efisiensi dimaksudkan akan kelihatan hasilnya nanti sekitar tahun 2050 yang akan datang.

 

Kearah itulah pandangan kita tertuju dan disanalah bukti efisiensi akan dinyatakan serta sa’at itu pulalah modernisasi kehidupan warga adat Batak menyatu dengan adat istiadatnya. Tentu dengan perkenaan Tuhan.

 

9. Peduli Budaya dan Adat Batak.

Sesungguhnya, diakui bahwa sangat banyak warga adat Batak yang peduli akan budaya dan adatnya. Terhitung sekitar 30  orang lebih warga adat Batak yang telah menuliskan dan mendokumentasikan buah pikiran dan menuntaskan kerinduannya akan adat dan Budaya itu di dalam berbagai Buku dan tulisan.

Adat dan Buaday Batak itu begitu uniknya sehingga satu saja tulisan tidaklah cukup untuk menggambarkan keunikan dan kesederhaanaannya, walaupun tetap dia,kui bahwa adat batak adalah tatanan tata krama kehidupan warganya yang cukup kompleks. Banyak diantara penulis yang menulisakn adat Batak dengan tetap mengacu kepada kehidupan beragamanya. Ada uraian nyata tentang hubungan diantara adat dan gama. Tulisan disajikan secara gamblang, ada uraian dan kupasan rinci tentang ubungan adat dan Firman Tuhan, ada yang disebut dengan judul : Adat dan Injil.

 

Permasalahan yang tetap tidak akan hilang adalah :” Adat bukan ilmu pengetahuan yang dapat dihafal dan dibaca di dalam berbagai buku serta dokumen adat, melainkan perlakuan dalam pelaksanaan adat itu sendiri. Ahli adat hampir tidak ada, tetapi pelaku adat cukup banyak dimana-mana. Bagi warga adat Batak bukan ahli adat yang dibutuhkan melainkan pelaku adat yang rendah hati dan mau melayani. Itulah sebabnya para tetua adat atau raja parhata bukan seorang yang berpenampilan professor melainkan seorang yang berpenampilan sederhana. Obsessinya adalah untuk melayani warga adat dengan penuh suka cita dan pelayanan itu adalah dari hati yang tulus, karena penuh kasih sesama.

 

Kata orang tua, janganlah belajar adat hanya dari pendengaran dan penglihatan saja, melainkan belajarlah dan berbuatlah dalam praktek karena itulah makna adat itu sendiri, bukan teori melainkan eksistensi diri. Mulailah dengan  langkah sederhana, yaitu hadir dalam acara dan upacara adat. Lanjutkan dengan berperan kecil-kecilan, memberikan kata-kata sambutan atau kata penghiburan atau menyampaikan sepatah dua patah kata simpati. Lanjutkan dengan penampilan yang mewakili kelompok tertentu dalam acara dan upacara adat tersebut. Petik dan ucapkan satu dua atau tiga umpasa, boleh dihafal boleh dibacakan, setelah dituliskan terlebih dahulu, karena ketahuilah: ala bisa karena biasa.

Melangkahlah pada acara lengkap, sebagai raja parhata atau utusan kelompok menyampaikan kata-kata mewakili kelompok tersebut, bisa sebagai kata jawaban atas pertanyaan dari kelompok atau pihak lain. Di kala ada acara ”masisungkunan” maka dalam posisi demikian jadilah sosok utuh pelaku adat, bukan hanya teori saja  Pelaku adat bukan hanya bakat melainkan suatu layanan dari hati, menempatkan semua orang sebagai warga yang layak dilayani, tanpa memikirkan kepentingan diri saewndiri.

 

Memang awalnya adalah kemauan dan keyakinan sebagai warga adat Batak, yang secara alami pantas dan layak sebagai pelaku bukan hanya pendengar atau situan na torop saja.

 

Hal itu akan tetap menjadi sikap dan keadaan warga adat Batak hingga masa datang. Menyadari posisi sebagai warga utuh dari masyarakat adat akan mendorong warga adat untuk melaksanakannya dengan sepenuh hati, dan hal itu memberikan peluang untuk berbuat lebih banyak lagi.

 

Dukungan masyarakat dan berkat Tuhan menyatu dan bersatu untuk menempatkan orang yang penuh kasih mampu dan dapat berbuat bagi adatnya untuk budayanya. Semuanya berhak dan seluruhnya mampu hanya saja terpulang kepada warga itu sendiri. Para warga adat batak perlu memberikan jawaban atas pertanyaan ini: ” Mengapa bukan saya ?? Kan saya juga warga utuh dan anggota penuh?”.

 

Ketika hal itu nanti menjadi kenyataan maka pewarisan adat dan budaya Batak yang sepenuhnya untuk suka cita warganya akan berlangsung dan berlanjut dengan turun temurun. Jutaan warga yang rindu akan identitas diri sebagai warga adat Batak akan melahirkan warga yang padat peduli sesama dengan kasih serta yag mau dan rela berkorban demi keteraturan warganya.

 

10. Identitas Batak adalah kebanggan.

 

Ada penulis buku bernama: Red Wolf, seorang pejuang dan seniman Indian, Native American dalam bukunya mengatakan: “The Native Indian passed their culture and tradition down from generation to generation from memory, not from a notepad or book. Therefore, if your Mother, Grandmother, Father or and father told you or your family that you are of Indian blood, you are Indian”. Tentu saja maksudnya adalah bahwa: “ Orang Indian mewariskan budaya dan tradisi mereka dari generasi ke generasi lewat ingatan, bukan lewat catatan dan buku, jadi jika ibu, nenek, ayah atau kakekmu mengatakan bahwa engkau berdarah Indian, maka engkau adalah Indian” (terjemahan bebas).

 

Kalau begitu kita juga bias berkata:” saya adalah orang Batak”. Akan konsekwensinya, segalanya adalah yang indah-indah saja, anatara lain:

 

  1. Kekeluargaan yang akrab dengan panggilan yang akrab juga
  2. Implementasi kasih sesama warga - padat makna yang saling mengasihi
  3. Persaudaraan yang kental, karena masing-masing mempunyai silsilahnya sendiri-sendiri
  4. Kekerabatan sesama warga adat dan budaya Batak memiliki posisi yang pasti sebagai: dongan tubu, boru atau hula-hula.
  5. Menjadi pelaku dari pepatah (umpasa Batak)  yang mengatakan: “masiamin-aminan songon lampak ni pisang dan masitungkol-tungkolan songon suhat di robean”. Artinya saling membantu serta saling menopang dalam persaudaraan yang demokratis.

 

Dan jangan lupa, orang Batak tidak perlu memperjuangkan identitasnya sebagai orang Batak, hanya membiasakannya saja, karena memang sejak lahirnya sudah orang Batak.

Maka dari sekarang marilah bersama-sama membiasakan diri dengan identitas Batak, bailk para orang-tua, generasi muda bahkan anak-anak sekalipun.

 

Ketahuilah kata pepatah lama yang nmengatakan:” ala bisa karena biasa”. Biasakanlkah memperkenalkan diri sebagai orang Batak, supaya pewarisannya juga bias berjalan dengan alami dan pasti. Tuhan memberkati. ***

 

Share |

Last Updated (Wednesday, 23 November 2011 07:23)