CATATAN KECIL TENTANG PADAN


Kamis, 27 Januari 2011 | 06:39:37
Oleh Hendry Lumban Gaol
27 Januari 2011 jam 3:24

pusukbuhit - Salah satu keunikan dalam sistem kekerabatan adat Batak adalah padan. Padan, dalam bahasa Indonesia adalah sumpah. Berbagai macam hal yang mendasari padan ini terjadi. Faktor keturunan, faktor ekonomi, lingkungan dan lainnya. Padan antara marga-marga selalu dinasehatkan turun temurun dengan meceritakan kisah, asal muasal padan itu ada.

Kini, padan ini banyak dipolemikkan, khususnya oleh golongan muda. Polemik muncul karena dalam satu marga berbeda informasi tentang padan tersebut. Sebut saja, Marga A marpadan dengan marga B, dan ternyata di daerah lain Marga A tidak mengakui parpadanan dengan Marga B.

Marga-marga Batak, tidak ada yang berdiri sendiri. Selalu bersifat satu rumpun. Tentunya karena Marga diambil dari nama Orang ( nama leluhur jaman dahulu ). Ternyata, teguhnya rasa persaudaraan,--dongan sabutuha-- dalam kekerabatan adat Batak ini yang menjadi penyebabnya timbulnya silang pendapat tentang padan ini. Loh kok bisa?.

Contoh, parpadanan marga Marbun dengan beberapa marga, sebut saja marga Sihotang. Rasa saling menghormati, sesama Dongan Sabutuha menyebabkan marga-marga yang satu rumpun ikut terimbas. Di beberapa daerah, beberapa keturunan marga Naibaho mengaku marpadan dengan keturunan Marbun.

Hemat saya hal ini disebabkan teguhnya rasa persaudaraan antara Marga Naibaho dan Marga Sihotang yang nyatanya adalah marhahaanggi sebapak seibu. Ketika Marga Sihotang marpadan dengan Marga Marbun, maka untuk menghormati anggi partubu Naibaho ikut marpadan dengan Marbun.

Pengalaman, banyak marga Naibaho memanggil 'Appara" kepada Marga Lumban Gaol, mungkin di daerah mereka mengiyakan adanya parpadanan itu. Jujur, saya jadi bingung.

Parpadanan dengan marga Marbun dengan Marga Sihotang sampai ke rumpun yang lebih besar keturunan Raja Naipospos. Beberapa dongan tubu marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang mengakui marpadan dengan Marga Sihotang.

Atau mungkin ada cerita lain yang tidak pernah kudengar, asalmuasal parpadanan ini di daerah tertentu, sebut saja di Samosir?.

Di Humbang, keturunan Marga Naibaho ( plus Sitindaon ) dan Marbun saling memperistri dan tidak pernah dinasihatkan orang tua kalau kedua marga adalah saling marpadan.

Kasus lain, antara Marga Lumban Gaol dengan Marga Simamora.

Memang, Marga Purba selaku sulung keturunan Toga Simamora ada ikatan Parpadanan dengan si sulung dari Toga marbun yaitu Marga Lumban Batu. Ternyata, imbas parpadanan ini sampai kepada Anggi dari kedua marga di atas. Beberapa orang mengakui bahwa Lumban Gaol marpadan dengan Simamora AnakRaja/Debataraja dan Banjar Nahor marpadan dengan Simamora RajaNalu/Manalu.

Tak jarang, marga Simamora memanggil saya dengan sebutan Appara. Jujur, ini tidak bisa saya terima, sebab leluhur saya di generasi ke sepuluh adalah Boru Simamora. Apa mungkin mereka tidak tahu?.

Menurut saya, alasan parpadanan yang berimbas dari satu marga ke marga lain yang satu keturunan adalah karena tak ingin merusak tatanan partuturon yang sudah digariskan oleh leluhur orang Batak. Partuturon-lah norma bagi orang Batak dalam hidup bermasyarakat. Dan dari partuturonlah timbul adat Dalihan Na Tolu.

Contoh kasus, seandainya seorang marga Lumban Gaol memperistri boru NaiBaho, maka dimana posisi Marga Sihotang?. Dongan tubu atau Hula-hula?.

(molo naeng tabo hundulan, hula-hula ma dah hehehe....)

Atau, seandainya ada Marga Lumban Gaol menikah dengan boru Purba, maka bagaimana partuturonya dengan marga Lumban Batu?. Marampara dan marito? ( lucu ya...dibuat apparanya ibotonya)

Share |

Last Updated (Saturday, 16 April 2011 14:58)