PERCERAIAN BATAK TOBA

Oleh : Thomson Hutasoit


Perceraian (baca: parsirangon) perkawinan Suku Batak-Toba adalah suatu hal yang paling memilukan, serta memalukan karena pada prinsipnya Suku Batak-Toba tidak menginginkan terjadinya perceraian dalam rumah tangga. Perceraiandengan alasan apa pun akan menimbulkan penderitaan (baca: sitaonon) baik kepada pihak suami, istri maupun terhadap anak-anak sebagai buah kasih sayang dalam keluarga. Sehingga perceraian selalu dihindarkan setiap keluarga Batak-Toba. Prinsip perkawinan Suku Batak-Toba bahwa perkawinan adalah sebuah janji hidup yang suci dan sakral, sehingga pembentukan perkawinan (baca: parrumatanggaon) adalah sebuah ikatakan bersifat permanen yang harus dijaga dan dipertahankan hingga akhir khayat yang hanya bisa dipisahkan oleh kematian atau meninggal. Oleh sebab itu, bagi Batak-Toba perceraian (baca: parsirangon) adalah penderitaan (baca: Sitaonon) yang sangat berat karena tidak hanya berkaitan dengan suami-istri yang bersangkutan tetapi lebih luas daripada itu adalah menyangkut anak-anak dan keluarga secara keseluruhan didalam interakasi adat selanjutnya yang akan menyimpan persoalan sangat pelik dikemudian hari. Sehingga Suku Batak-Toba selalu berupaya untuk meghindarkan terjadinya perceraian perkawinan karena biar bagaimana pun perceraian itu merupakan aib (baca: hailaon) terhadap kedua belah pihak. Walau demikian, perceraian bisa saja terjadi akibat beberapa hal sebagai pemicu yang tidak dapat dihindarkan, karena, “ ndang adong timus ianggo so adong api. Na sorat do ombun umbahen na ro udan. Sada si jaringkat parsanggul jabi-jabi, sada parbingkas sada parbongkot, rap martahi-tahi”. Artinya, ada satu permasalahan krusial yang menjadi pemicu perceraiaan itu, misalnya karena perselingkungan (baca: marbabi jalang) baik dilakukan laki-laki maupun perempuan yang merupakan salah satu aib paling memalukan pada Batak-Toba. Selain daripada itu, ada pula akibat nasib malang (baca: soro ni ari) yakni keluarga tersebut tidak dikaruniai keturunan. Sementara bagi Suku Batak-Toba keturunan adalah hal paling fundamental. Dan oleh karena itu lah, komponis besar Nahum Situmorang menyatakan dalam lirik lagunya,” Anakhonki do hamoraon di au”. Ianakhon khususnya anak laki-laki adalah penerus silsilah atau Tarombo di dalam masyarakat Batak-Toba yang menganut sistem ikatan keturunan patrilineal. Ada umpasa Batak-Toba,” Marrongkap songot bagot, marsibar songon ambalang, gabe na marrongkap, tung na so jadi sirang”. Pengertian Marrongkap adalah mempunyai keturunan atau gabe (baca: maranak-marboru). Tetapi dalam perjalanan hidup manusia tidak semua keinginan atau cita-cita bisa tercapai. Karena itu lah ada ungkapan Batak-Toba menyatakan,”Ndada si manuk-manuk si bontar andora, ndada si todo turpuk si ahut lomo ni roha”. Artinya, tidak semua keinginan wajib terpenuhi di dalam kehidupan manusia. Karena, “ Tu ginjang ninna porda, tu toru pambarbaran. Tu ginjang ninna roha, patoruhon do sibaran”.
Artinya, semua orang berkeinginan mencapai keberhasilan, kesuksesan dan kesempurnaan (baca: singkop) tetapi yang menentukan adalah Tuhan Yang Maha Kuasa. Ai naung tarsurat do di gurat-gurat ni tangan, topak di parsambubuan nasib ni saluhut manisia di atas tano on. Artinya, sudah digariskan sang pencipta seluruh perjalanan hidup manusia di atas bumi ini. Perceraian perkawinan akibat tidak dikaruniai keturunan bisa karena si laki-laki tidak sempurna sebagai laki-laki (baca: ndang jolma) demikian sebaliknya perempuan tidak sempurna sebagai perempuan (baca: ndang marboras bortianna). Artinya, si laki-laki atau si perempuan tidak bisa berketurunan. Ketidakmampuan memberikan keturunan bagi Suku Batak-Toba adalah penderitaan berat (baca: Sitaonon bolak) yang tiada tara dan menjadi salah satu cikal-bakal perceraian dalam perkawinan (baca : parrumatanggaon).
Itu pula lah  sebabnya ada andung-andung,” Ndang tarrarikhon, bulusan ma ni rogohon. Ndang tartangishon, bulusan ma tinortorhon. Nan tuan di huta rea, ganup tongkin sosonggopon, bonsir na so margelleng, ima jadi sidangolon. Tinunjang panggaruan, angka bola panggongonan. Nunga au gabe anian, jala au gabe tudosan”. (Raja Patik Tampubolon, 1974). Andung-andung seperti inlah yang sering dilantunkan orang-orang yang tidak memiliki keturunan (baca: na so marrindang manang na so marianakhon).
Tetapi harus diingat bahwa, bukan hanya perempuan yang tidak bisa berketurunan termasuk juga laki-laki. Bila laki-laki yang tidak bisa berketurunan maka perempuan akan meninggalkan suaminya (baca: Mahilolong), sebaliknya bila perempuan yang tidak bisa berketurunan laki-laki akan menceraikan istrinya (baca: di Paulak). Jadi bila laki-laki yang tidak bisa berketurunan maka perempuan lah yang menceraikan suaminya, sebaliknya bila perempuan yang tidak bisa berketurunan maka laki-laki lah yang menceraikan istrinya. Jenis-jenis Perceraian Batak-Toba Dipaulak; yaitu perceraian dimana si istri diantarkan atau dikembalikan ke rumah orang tuanya ( baca: di Paulak) oleh si suami serta diceraikan. Bila istri Dipaulak ke rumah orang tuanya tentu dilandasi alasan-alasan yang jelas. Misalnya, tidak memiliki keturunan, selingkuh, dan menimbulkan aib bagi keluarga. Akan tetapi alasan paling sering adalah karena tidak memiliki keturunan (baca: Ndang Marrindang atau Marianakhon). Perempuan tak berketurunan disebut “Ndang marrongkap songon bagot, marsibar songon ambalang” sehingga diceraikan (baca: Dipaulak) ke rumah orang tuanya. Pada saat Paulakhon si perempuan (baca: istri) ke rumah orang tuanya selalu didampingi orang tua dan raja adat pihak keluarga si laki-laki demikian juga pihak perempuan. Karena Paulakhon juga merupakan salah satu jenis adat bagi Batak-Toba. Pada waktu Paulakhon istri dilaksanakan acara adat dan marhata sigabe-gabe antara si laki-laki dengan si perempuan, dengan demikian apabila si laki-laki maupun si perempuan  melangsungkan perkawinan kepada orang lain tidak ada masalah lagi ( baca: nunga sae). Biasanya, pada waktu acara adat Paulakhon pihak laki-laki memberikan pago-pago sirang (baca: uang), sedangkan pihak perempuan akan memberikan ulos tali-tali (baca: ulos paborhat mangoli) kepada mantan helanya. Dan kedua belah pihak menerima perceraian itu karena sidangolon (nasib sial) tidak memiliki keturunan sebagai pengikat tali kasih diantara suami-istri. Besarnya pago-pago sirang ditentukan melalui kesepakatan, “ Aek godang tu aek laut, dos ni roha sibahen na saut” artinya tidak ada patokan atau ukuran baku, tergantung mufakat kedua belah pihak. Dengan demikian, sekalipun telah terjadi perceraian kedua belah pihak tidak akan menggangu hubungan kekerabatan karena perceraian merupakan kata sepakat dan telah diselesaikan dengan baik melalui hukum adat. Jadi Paulakhon adalah salah satu jenis perceraian Suku Batak-Toba yang disahkan melalui hukum adat, dan dilakukan dengan persetujuan para pihak secara baik-baik. Mahilolong (baca: perempuan minggat ke rumah orang tua tanpa diketahui suami), yaitu suatu jenis perceraian dimana perempuan menceraikan suaminya dengan alasan-alasan tertentu. Misalnya, si laki-laki tidak mampu memberikan keturunan, ataupun menyesal (baca: sumolsol bagi) atas keadaan serta status si laki-laki suaminya. “Ai  hu rimpu parhunikan, hape da pargadongan. Hu rimpu parulian, hape da hamagoan”. Di kira orang kaya tapi nyatanya orang miskin sehingga menyesal. Karena perempuan yang menceraikan suaminya, maka disini berlaku perumpamaan yang menyatakan,” Sidangka sidangkua, sidangka ni singgolom, Na sada gabe dua, na tolu gabe onom, utang ni si pahilolong”. Dan pada jenis perceraian seperti inilah berlaku kalimat,” Molo manunda anak, mago horbona, molo manunda boru, mago ibotona”. Artinya, karena perempuan lah yang menceraikan suaminya maka hula-hulanya akan membayar denda (baca: mardando) terhadap pihak laki-laki (suami). Penyelesaian perceraian seperti ini tetap dilakukan melalui hukum adat dan sampai saat ini masih dilakukan Bona Pasogit, walau di kota-kota atau perantauan telah dilakukan melalui peradilan umum. Dibolonghon (baca: si istri ditinggalkan si suami dalam jangka waktu tertentu), yaitu suatu perceraian gantung dimana si suami tidak seranjang dengan istrinya dalam jangka waktu tertentu, tetapi si suami tidak mau menceraikan istrinya secara sah. Si perempuan tidak boleh kawin dengan laki-laki lain karena belum bercerai secara resmi, sehingga apabila si perempuan kawin dengan laki-laki lain akan diperkarakan suaminya. Sehingga di dalam adat Batak_Toba disebut “ Parsaripeon na gaung-gaung”. Mate manang Monding (baca: meninggal), yaitu perceraian akibat kematian atau maninggal, baik laki-laki maupun perempuan. Dalam adat Batak perceraian (baca: parsirangon) demikian hanyalah perceraian badan saja, sementara hak pusaka, harta dan barang tidak ada pemisahan sama sekali. Artinya, bahwa pusaka, harta, barang suami-istri tetap utuh menjadi hak yang utuh dalam perkawinan tersebut. Karena sekalipun si suami telah meninggal, istrinya tetap berkedudukan atas nama suaminya secara sah, termasuk dalam memelihara anak-anaknya, pusaka, harta dan barang tanpa gangguan ataupun gugatan dari pihak mana pun, termasuk sanak keluarga yang meninggal (baca” suami atau istri). Sehingga perceraian karena meninggal hanyalah perceraian fisik semata karena si suami dengan istrinya tidak bisa makan secara bersama-sama ataupun hidup seranjang karena telah dipisahkan oleh kematian. Mangalangkup (baca: selingkuh), yaitu suatu perceraian karena mengawini yang tidak istrinya. Hukuman Pangalangkup dalam hukum adat Batak adalah,” Babi di eme na mate di gala-gala”. Artinya, bisa dibunuh tanpa ada keluarga yang keberatan. “Tu ruang ni bulu i surbuon, tu ruang ni batu i bulbulon”. Sehingga Pangalangkupon adalah aib paling memalukan di dalam adat Batak. Resiko Perceraian  Berketurunan Perceraian perkawinan yang memiliki berketurunan dalam adat Batak-Toba sangat krusial karena tidak hanya menyangkut terhadap diri suami-istri semata-mata. Melainkan terkait secara langsung pada anak-anak dikemudian hari, seperti mengawinkan anak dan pada saat meninggal suami-istri bersangkutan. Perceraian Suku Batak melalui putusan peradilan umum tidak mampu menyelesaikan permasalahan hukum adat Batak secara menyeluruh. Sehingga perceraian di depan peradilan umum tidak otomatis menyelesaikan permasalahan adat Batak. Misalnya, ketika seseorang mengawinkan anak (baca: laki-laki atau perempuan) dimana pada saat mengawinkan anak laki-laki orang tua mempelai laki-laki akan menerima Ulos Pansamot, dan ketika mengawinkan anak perempuan (baca: boru) akan menyerahkan Ulos Pansamot ataupun Ulos Hela. Demikian juga Tulang anak yang kawin akan memberikan Ulos Tulang kepada bere/ibeberenya sehingga sekalipun suami-istri telah bercerai jika sudah memiliki keturunan (baca: laki-laki, perempuan) maka dalam hubungan adat Batak masih tetap memiliki ikatan hukum adat satu sama lain.    Penulis sebagai praktisi adat kerap kali menemukan permasalahan seperti itu, dan pada saat-saat seperti itu pula lah sering terjadi kerancuan dan kekacauan menyelesaikan permasalahan adat yang diakibatkan perceraian perkawinan. Dan tidak mustahil pula suami-istri yang telah bercerai berdasarkan putusan peradilan umum duduk bersama menerima atau memberikan Ulos Pansamot atau Ulos Hela. Ini kan lucu dan aneh ! Olehkarena itu, Suku Batak-Toba harus menghindarkan perceraian apabila sudah memiliki keturunan karena masih memiliki pertautan di dalam adat pada saat perkawinan anak, maupun ketika suami-istri bersangkutan meninggal dunia. “ Ni langka tu jolo tinailihon tu pudi” artinya, harus memikirkan resiko dikemudian hari. Selain daripada itu, ketika si perempuan yang telah memiliki anak bercerai kemudian  kawin lagi dengan marga lain akan mengalami kesulitan pada saat mengawinkan anak maupun ketika si perempuan tersebut meninggal dunia. Posisi anak-anak menjadi sangat sulit. Karena tidak segampang pemutusan perceraian peradilan umum dengan hukum adat Batak yang begitu di putuskan maka selesai lah permasalahan perkawinan tersebut. Sedangkan dalam hukum adat Batak-Toba hubungan tidak akan pernah terputus kecuali tidak ada keturunan (baca: ndang Marrindang). Hubungan kekeluargaan dan kekerabatan Suku Batak-Toba akan tetap berlanjut apabila suami-istri telah dikaruniai keturunan, dan bagaimana pun tidak bisa putus hubungan adat selama ada keturunan yang merekat ikatan kekeluargaan. Sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang resiko yang ditimbulkan perceraian, tidak saja terkait pada diri suami-istri, tetapi lebih luas daripada itu terhadap diri anak-anak dikemudian hari. Perkawinan adalah lembaga yang sangat sakral, dihormati dan dijunjung tinggi di dalam adat Batak-Toba. Perkawinan adalah lembaga suci dan sakral.     Medan, 10 Juni 2011
Penulis: Direktur Eksekutif LSM Kajian Transparansi Kinerja Instansi Publik (ATRAKTIP), Anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) Provinsi Sumatera Utara, Penasehat Punguan Hutasoit, Boru, Bere Kota Medan, Wakil Sekretaris II Parsadaan Pomparan Toga Sihombing (Partogi) Kota Medan.    
Share |