ADAT

PIODALAN SAAT NYEPI TETAP DILAKSANAKAN


Denpasar (ANTARA News) - Bagi umat Hindu, kegiatan ritual piodalan di tempat suci keluarga atau "merajan", bertepatan dengan Hari Suci Nyepi tahun baru saka 1934 pada Jumat 23 Maret, tetap dilaksanakan seperti biasa.

"Namun, hanya menggunakan sarana ritual tingkatan terkecil, dan sudah selesai sebelum matahari terbit," kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Bali I Gusti Ngurah Sudiana di Denpasar, Rabu.

Menurut dia, demikian pula kegiatan ritual tingkat desa adat (pekraman) yang bersamaan dengan hari suci Nyepi tetap dilaksanakan sebelum matahari terbit tanpa menggunakan api (dupa).

Selain itu, kata dia, tidak menggunakan instrumen gamelan gong maupun tembang-tembang kekidung dan warga sari serta kegiatan ritual itu tetap dipimpin pemangku, namun hanya dihadiri para penjuru (tokoh dan pengurus) desa adat.

Sedangkan umat lainnya dapat melakukan sembahyang dari tempat tinggalnya masing-masing.

Ngurah Sudiana menjelaskan, ketentuan PHDI terkait brata penyepian dapat disesuaikan dengan kondisi (dresta) yang berlaku, dengan ketentuan tidak banyak menyimpang dari pelaksanaan tapa brata penyepian.

PHDI mengeluarkan pedoman tentang pelaksanaan Hari Suci Nyepi hasil rapat pengurus majelis tertinggi umat Hindu tentang perayaan Hari Suci Nyepi tahun baru saka 1934.

Rangkaian pelaksanaan upacara Nyepi disesuaikan dengan tempat, waktu dan keadaan di suatu desa (desa kala patra), termasuk tradisi di masing-masing desa adat di daerah ini.

Umat Hindu pada hari suci itu melaksanakan tapa brata penyepian yang meliputi tidak menyalakan lampu atau api (Amati Geni), tidak melakukan kegiatan (Amati Karya), tidak bepergian (Amati Lelungan) serta tidak mengadakan rekreasi, bersenang-senang atau hura-hura (Amati Lelanguan). (I006/M008)

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2012

 

ELASTISITAS ADAT MASYARAKAT SAMOSIR

pusukbuhit - Peradaban yang dianut para leluhur kita secara turun temurun menjadi budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Interaksi social itu diwujudkan ke dalam adat sesuai dengan kondisi lingkungan soaial masyarakatnya. Kendati berada di perantauan, adat tetap diaplikasikan menurut referensi budaya asal.

Demikian Tahoma Luxer Sihaloho, SE memulai perbincangan dengan "pusukbuhit.com" belum lama ini.

Selanjutnya ia mengatakan bahwa bilamana dalam suatu keluarga terdapat suami isteri yang berasal dari lingkungan adat yang berbeda, maka dominan dipakai adalah adat dari pihak laki-laki. Namun bukan berarti mutlak. Kecenderungan itu hanya didasarkan pada status suami  sebagai kepala rumah tangga semata. Selanjutnya Sihaloho mengatakan dalam adat Batak ada hak dan kewajiban hokum yang mengendalikan adat  ini bersifat lisan dan dititahkan Raja BBiua (istilah seminar kenegerian) senantiasa diimplementasikan ke dalam kehidupan bermasyarakat. Kewajiban terhadap adat merupakan tuntutan social yang dating dari komunitas yang tentu mempunyai kepentingan terhadap adat, reutama pihak yang ingin memperoleh hak yang disebut dengan istilah parrajaon(hula-hula,tulang,bona ni ari, dan tulang rorobot), serta dongan sahuta (tetangga) sebagai saksi dalam pelaksanapengawasan hukumnya.

Namun masyarakat Samosir tetap toleransif terhadap hkum adat ini. Perlakuan data disamakan antara orang yang mangadati dengan yang mangalua.”Neang-neang do adat di parSamosir” adalahungkapan kekecewaan masyarakat Batak terhadap sikap masyarakat Samosir.

Selanjutnya ia menguraikan tentang beberapa hal di masyarakat seperti:

Mangalua. Mangalua (kawin lari) merupakan perkawinan tanpa proses adat sebagai dampak dari loemahnya kondisi ekonomi atau tidak adanya persetujuan dari keluarga, sehingga kawin lari ini merupakan suatu solusi cinta yang ditempuh pasangan muda-mudi kejenjang perkawinan tanpa dukungan orang tuanya.Proses mangalua hanya bersifat pangamai(perwakilan) saaaja, terutama dari pihak parboru (keluarga wanita) atau wali yang khusus diadopsi dar marga yang hadir hanya sebatas saksi mata bahwa boruna (putrinya) telah dirajahon(diresmikan) menjadi parumaen (menantu). Pemberitahuan pada orangtua wanita dapat dilakukan melalui perantara yang membawa oleh-oleh dari paranak(keluargapria) berupa bukti jambar tudu-tudu ni sipanganon.

Dari sisi adat, mangalua dianggap sebagai suatu aib (bukan dosa) yang dapat merendahkan martabat keluarga parboru. Bila hal ini terjadi, pihak keluarga wanita akan menuntut pertanggungjawaban paranak dengan serta- merta menjatuhkan vonis berupa :

1.      Tidak boleh datang ke rumah orangtua wanita sebelum adatnya dilaksanakan

2.      Tidak mendapat hak sebagaimana layaknya seorang menantu

Kemudian pada saat hendak melaksanakan kewajiban  adat harus dihukum denda. Itu sebabnya bila mangalua ada hukum tambahan yang disebut dengan istilah sibuha harbangan, Sipangihut-ihut, dan sisangke hujur. Ketiganya harus dipenuhi sebelum proses adat nagok atau adat  manuruk-nuruk dilaksanakan.

Kondisi Sosial. Wilayah Samosir adalah pulau berbukit gersang dan kering kerontang diakibatkan kemarau yang berkepanjangan. Kondisi ekonomi mempengaruhi kondisi sosial adat umumnya terjadi di wilayah ini.. Bahwa adat itu hanya dapat terlaksana berkat kerjasama keluarga yang disebut dengan istilah martodo-todo. Artinya semua keluarga turut ambil bagian membantu kewajiban adat terutama suhi ni ampang na opat.Perolehan ulos suhi juga diperluas seperti pamarai (menjadi amangtua atau amanguda), Sihunti Ampang (menjadi ibotona dan namboruna), hanya untuk mengikat kebersamaan. Sangat sulit dilakukan adat bila hanya mengandalkan kemampuan individu semata mengingat kemampuan ekonomi masyarakat Samosir sangat terbatas.

Adat sebagai tolok ukur peradaban sangat dilematis, sehingga timbul toleransi dimana manuruk-nuruk dapat dianggap sebagai adat. Ini disebut adat na gelleng yang bersifat elastic dimana adat hanya sekedar pemenuhan suhi ni ampang na opat. Artinya, boleh permanen dan dapat ditingkatkan bilamana kemudian mampu melaksanakan Adat Nagok. Tetapi prosesinya semakin singkat seperti adat Sibuha harbangan, Sipangihut-ihut, Sisangke Hujur, Paulak Une dan Maningkir Tangga tidak berlaku lagi karena sudah terlaksana sebelumnya. Kemudian panandaon ditiadakan melainkan hanya somba-somba.

Dalam menutup perbincangan Sihaloho mengatakan, masyarakat Samosir sangat sulit menerapkan hukum adat akibat teguhnya ikatan bathin dalam kerabat kekeluargaan. Bahkan perlakuan adat selalu diupayakan sama sebagaimana layaknya orang yang telah mangadati.”Unang manarita tondina “ merupakan suatu indikasi pembelaan orangtua terhadap anaknya. Yang menjadi suatu bahan pertimbangan adalah :

1. Apabila dilksanakan, mayoritas masyarakat yang tidak mendapat tempat dalam adat akan membentuk kelompok tersendiri, sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan dualism kelompok adat.

2. Elastisitas adat masyarakat Samosir adalah toleransi yang dianggap sebagai solusi menghadapi fenomena budaya.

Kini masyarakat Samosir mulai mampu melaksanakan kewajiban adat seiring dengan peningkatan ekonomi, namun budaya toleransi tetap ada. Sentimentil memang merupakan “Public character” dikalangan masyarakat. Demikian perbincangan dengan Tahoma Luxer Sihaloho SE  penasehat Silahisabungan sektor 48 Gedung Johor Medan. ( Lamsaut Panggabean)

 

ADAT BATAK MARBONGOT JABU

pusukbuhit - Dalam Kehidupan sosial masyarakat Batak Toba, pesta Marbongot jabu merupakan proses adat. Hajatan ini di hadiri keluarga dan handai tolan dari pihak suami maupun isteri. Disamping dongan tubu, tentu saja yang sangat diharapkan kehadiran parrajaon (tulang,bona tulang, bona niari,hula-hula dan tulang rorobot) yang berperan dalam peresmian, serta pargellengon  ( boru, bere/ibebere) yang akan bekerja melayani para tamu. Namun, permasalahan sering timbul dalam proses adat ini. Mungkin ini terjadi disebabkan ketidak mengertian kita atau keragu-raguan terhadap letak tudu-tudu ni sipanganon kepada siapa.

Pihak hula-hula dominan mengklaim dirinya yang layak na niambangan pada acara marbongot jabu. Itu dapat diterima, mengingat ibotona adalah tuan rumah yang sudah pasti turut berperan menentukan keberhasilan itu. Kemudian pihak tulang memprotes dan bersikukuh bahwa itu adalah haknya. Di sinilah kadang-kadang terjadi perbedaan yang tidak dapat dituntaskan. Apabila tidak ada persesuaian akan timbul kemelut dan mungkin bias berkepanjangan.

Suhut sebagai tuan rumah selayaknya mengerti dan bisa menjelaskan mana yang paling berkompeten dalam menghadapi tudu-tudu ni sipanganon. Pada dasarnya tulang atau hula-hula saling mempunyai hak. Tergantung pada daerah atau kebiasaan. Bukan berarti dapat seketika menyimpulkan yang lebih dominan pada saat prosesi. Kita harus mampu menarik benang-benang merah agar kedua belah pihak mklum, artinya, adat itu tidak terjadi begitu saja. Ada logika yang sifatnya kronologis.

Untuk menentukan siapa naniambangan ( layak menerima) kita harus kembali lagi ke masa lalu dimana proses adat manopot tulang ( permisi ke tulang) dilakukan suami tuan rumah ketika masih bujangan/belum berumah tangga. Sebenarnya proses adat itu dimulai dari ketika kita masih dalam kandungan. Sebelum lahir sampai dengan setelah meninggal. Seandainya kita belum dapat melaksanakan, orang tualah yang akan melakukan kewajiban adat anaknya. Namun, bila kita sudah  tidak mampu ( meninggal), si anak atau keturunan kita yang akan mewujudkannya. Bahkan saudara sepupu pun boleh merealisasikan. Proses inilah yang akan menentukan siapa yang lebih dominan.

Kebiasaan Batak Toba, bila  anak laki-laki terutama putra sulung akan merantau atau hendak menikah, lazimnya datang ke rumah  tulang meminta doa restu.  Orang tua beserta keluarga yang turut serta berkunjung akan membawa buah tangan berupa tudu-tudu ni sipanganon yang akan disajikan kepada tulang sesuai tradisi. Tulang merespons dengan menyediakan dekke na mokmok, berupa ikan batak atau ikan mas kehadapan bere dan keluarga. Kemudian memberikan doa restu. Namun prosesinya bisa berbeda. Ingat, lain lubuk lain ikannya, lain wilayah tentu lain kebiasaannya.

Kitq dapat melihat ada 2 macam prosesi :

1. Manopot tulang

Kedatangan bere adalah kebahagiaan yang membawa keberuntungan bagi tulang dari segi adat. Biasanya acara manopot tulang dilakukan pada saat selesai panen. Rencana serta persiapan yang matang telah dil;akukan jauh sebelumnya mengingat kondisi ekonomi masyarakat saat itu kurang mendukung. Dibutuhkan waktu yang agak lama untuk menghimpun dana yang relative tidak sedikit. Tujuannya hanya memuaskan serta menyenangkan tulang beserta keluarga. Dapat diketahui, kondisi demikian sering dilakukan orang yang hendak merantau atau rencana menikahi gadis yang bukan pariban. Oleh-oleh tudu-tudu ni sipanganon tadi disertai dengan uang batu ni demban menurut nilai nominalnya harus angka genap., seperti contoh, 4 lembar uang pecahan seratus ribuan. Setelah keduanya diterima melalui proses, akan dilanjutkan dengan makan bersama. Selesai acara, bere atau keluarga juga membagikan uang sebagai pa situak na tonggi kepada keluarga dan tetangga yang diundang hadir satu persatu pada saat itu.

2. Parmisi tu tulang

Di sisi lain, kehadiran bere membawa keprihatinan pada tulang beserta keluarga. Walau pengaruh ekonomi tidak menghambat kewajiban adat, ikatan bathin akan mempengaruhi hati nurani. Kemiskinan yang dialami bere dapat mengugah perasaan tulang. Ini menjadi kebiasaan yang dapat kita jumpai di wilayah yang kondisi sumber daya alam (SDA) daerahnya sangat minim. i Keperluan modal merantau atau kebutuhan dana perkawinan yang sangat terbatas mengharuskan seluruh keluarga saling mendukung. Tidak terkecuali tulang, maka istilah yang mengatakan amak do rere, anak do bere, bukan sekedar isapan jempol.

Seperti biasa, kedatangan bere minta doa restu pada tulang membawa tudu-tudu ni sipanganon. Setelah selesai makan bersama, uang batu ni demban yang telah diterima tulang tadi akan dikembalikan kepada berenya setelah ditambah sang isteri (nantulang) sebagai uang bantuan pada bere. Biasanya tulang berkata: “ Bere, inilah bona ni unjutmu, biarpun sedikit, bersykurlah pada Tuhan,” ( bila rencana nikah), atau, “bere, inilah mula ni modal, biar sedikit, manfaatkanlah dengan baik. Ingat selalu pada Tuhan dan jangan lupa akan tulang (bila hendak merantau). Begitulah pengorbanan tulang merestui berenya. Kesulitan bere adalah kesulitan tulang dan keberhasilan  bere adalah merupakan keberhasilan tulang.

3.Penutup,

Dalam uraian di atas, maka kita dapat menentukan siapa na niambangan pada saat marbongot jabu. Apabila kondisinya seperti butir satu, maka hula-hula yang lebih dominan, sebab tulang telah menerima adat dari berenya. Namun, bila keadaanya mengenai butir  dua, mutlak menjadi hak tulang. Disamping belum menerima batu ni demban dan pasituak na tonggi, keberhasilan bere adalah bagian dari modal yang diberikan tulang. Di saat beginila tulang menikmat hasil jerih payahnya.( Lamsaut Panggabean)

 

 

 

 

 

JAMBAR DI PESTA BATAK

> pusukbuhit: Bonager Siallagan mengirim email sbb:

Mohon Sharing.
> Dalam adat Batak istilah Jambar sudah tidak asing lagi.
>
> Apakah sebutan Jambar di bawah ini benar adanya?
> Mohon Sharing, jika terdapat yang kurang.
>
> *Goar Ni Angka Jambar Juhut*
>
> *Namarmiak-miak (Pinahan Lobu)*
>
> 1. Namarngingi (parsanggulan, ulu, kepala bagian atas, tempat otak)
>
> 2. Osang (kepala bagian bawah, siloja-loja tingki manglu-ngalu)
>
> 3. Aliang-aliang (leher- biasana si seati do on tingki mangan)
>
> 4. Somba-somba (rusuk depan di potong melingkar, unang putus)
>
> 5. Soit (buhu-buhu dari kaki)
>
> 6. Ihur-ihur
>
>
*Sigagat duhut (Lombu/Horbo)***

>
> 1. Namarngingi (parsanggulan, ulu, kepala bagian atas, tempat otak)
>
> 2. Osang (kepala bagian bawah, siloja-loja tingki manglu-ngalu)
>
> 3. Tanggalan(aliang-aliang molo di pinahan lobu)
>
> 4. Panamboli/ungkapan
>
> 5. Somba-somba ima rusuk (rusuk galapang, i ma somba-somba na gok, rusuk na
> mardomu di jolo)
>
> 6. Buhu-buhu (soit molo pinahan lobu)
>
> 7. Ihur-ihur
>
> 8. Pohu (tanggo-tanggo, jagal)
>
Kemudian, perihal "Soit", berapakah jumlah soit yang sering diperbuat di
> pesta-pesta?
> Dan kemanakah masing-masing tujuan dari jambar Soit tersebut?
> Apakah lumrah/ wajar jika pihak boru meminta 10 Soit?
>
> Regards
> Bonagres SiallaganJA -

 

jika berkenan memberikan tanggapan, email  : This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

 

ADAT BATAK PADA PERNIKAHAN


“ jolo sinungkun ma marga asa binoto partuturon”. so,please tell me who you are.

Namun karena Adat Batak adalah bidang yang selalu saya tempatkan pada posisi kekerabatan yang penuh kasih maka saya akan mencoba memberikan masukan tentang hal yang terkait dengan Adat Batak, dengan terlebih dahulu mengatakan: “ Adat Batak tidak dipelajari secara literature dan tidak pula dikuliahkan di perguruna tinggi, tetapi diajarkan dalam tatanan Adat itu sendiri melalui partisipasi aktif dalam melaksanakannya”.

Inilah penjelasannya:

Manakah lebih tinggi nilainya, Pemberkatan Nikah atau Adat Istiadat?

Jawaban: Pemberkatan Nikah jauh melebihi nilai pernikahan Adat, tetapi makna dan intisarinya berbeda. Pernikahan melalui pemberkatan adalah janji antara kedua pasangan dengan Tuhan, dan pernikahan Adat adalah janji pasangan kepada dua pihak utama di bumi, yaitu:

Ø Marga suami, dan

Ø Marga isteri.

Pernikahan Adat sebagai jaminan kelanggengan rumah tangga Batak, karena pemberian sinamot dan ulos adalah doa dari para saksi tentang pengukuhan pernikahan dan mereka wajib untuk ikut memelihara kelangsungan serta kerukunan rumah tanga baru.

Ini lebih membumi, dibandingkan dengan pernikahan Gereja yang padat kekudusan dalam keimanan maka setiap pasangan harus memegang dua-duanya agar kesempurnaan pernikahan terlaksana menurut duniawi juga menurut surgawi.

Janji nikah yang mengantarkan pasangan pada ikatan pernikahan suami isteri yang tidak boleh diceraikan siapapun kecuali cerai mati, maka Adat lebih menekankan makna duniawi dari penikahan itu, sehingga disebutkan: Tubuan laklak tubuan sikkoru di rura Purbatua, tubuan anak ma hamu tubuan boru donganmuna sarimatua.

Berapakah minimal biaya standard yang harus dikeluarkan pihak pengantin (katakanlah Paranak), agar pesta dianggap sangap?

Biaya pernikahan yang harus dkeluarkan oleh pihak penganten pria adalah sejumlah :

v Sinamot yang disepakatiu pada sa’at marhusip dan marhata sinamot

v Biaya makan minum di kala marhusip

v Biaya makan minum di kala martuppol dan marria raja atau martonggo raja

v Biaya lain-lain yang jumlahnya tidak akan pernah standard.


Acuannya adalah :

ü Seberapa besarkah perhelatan yang akan dilaksanakan, karena pernikahan Adat cukup menghadirkan minimal:

o Suhut parboru dengan suhi ni ampang na opat dan sihal-sihal

o Suhut paranak dengan suhi ni ampang na opat serta sihal-sihal.

ü Seberapa besarkah sinamot yang diminta oleh pihak parboru dan disetujui oleh pihak paranak

ü Apa saja yang akan diselenggarakan sebelum, pada sa’at dan sesudah pernikahan itu.

ü Lebih utama lagi, seberapa besarkah dana pernikahan yang disediakan. Karena pada prinsipnya, melaksanakan Adat Batak – tidak boleh melebihi kemampuan, tidak boleh meminjam ke bank untuk keperluan biaya pelaksanaan Adat Batak. Nilai rupiahnya silahkan menghitung sendiri.

Bagaimanakah pesta adat yang dapat dikategorikan sangap?

Pesta Adat yang dinyatakan sangap adalah pesta yang memberikan sejahtera bagi semua pihak, utamanya suhut paranak dan parboru serta para undangan terhormat.

Apakah nama jambar-jambar yang harus dipersiapkan pada saat pesta adat?

Sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis (sebagaimana adat itu awalnya juga tidak tertulis) bahwa parjambaran adalah menurut kebiasaan di mana pesta adat dilaksanakan, sidapot solup do na ro. Akan halnya dengan nama-nama dan pembagiannya sesungguhnya sudah banyak dituliskan di dalam berbagai buku adat Batak, dan saya menuliskannya di dalam dokumen terlampir.

Adapun nomor 1 hingga 5 dibawah ini:

1. Tahap pelaksanaan pernikahan- umumnya:

· Berkenalan atau pacaran

· Melapor kepada orang tua

· Rembukan orangtua kedua belah pihak (marhori-hori dingding)

· Patua hata

· Marhusip

· Martuppol

· Pamasu-masuoan pardongan saripeon

· Pelaksanaan adat Batak.

2. Yang harus dibicarakan pada saat "marhata sinamot"; semua hal yang bertalian dengan hak dan kewajiban kedua belah pihak paranak dan parboru, serta tahapan keterlibatan gereja dalam meengesahkan pernikahan menurut gereja.

3. Yang harus diperbuat pada saat "Ikatan Pranikah/ Martumpol"

Kedua calon yang akan menikah mengucapkan janjinya di depan warga dan pengurus serta pendeta gereja, bahwa adalah keputusannya sendiri untuk memilih calonnya sebagai pasangan hidupnya, dan akan ikhlas dan tulus menindaklanjutinya, bahkan harus tuntas dengan hubungan dengan siapapun.

Hal itu disaksikan para warga gereja, dan diwartakanm di dalam warta gereja, kalau-kalau ada pihak tertentu yang masih terikat janji dengan salah satu yang berjanji tersebut.

4. Yang harus diperbuat dan dipersiapkan pada saat "Pamasu-masuon". Menuntaskan janji partuppolon, menghadap altar gereja dengan merealisasikan janji melalui pemberkatan oleh pendeta atau petugas gereja, sebagai ikatan dan janji kudus .

5. Yang harus diperbuat dan dipersiapkan pada saat "Pesta Adat", menuntaskan janji nikah di depan para warga Adat, sehingga semua warga adayt terlibat untuk mendoakan janji kudus tersebut, dan lebih lagi keterligatan mereka dalam menjaga keutuhan pasangan baru tersebut, karena faktanya sejak awal: pernikahan adat adalah pernikahan marga-marga.

Satu hal yang harus diperhatikan, belajar Adat adalah seumur hidup, karena dinamika kehidupan modern pasti memberikan kontribusi pada pelaksanaan adat, karena manusia Adat akan mengadopsi modernisasi dalam kehidupannya sehingga berdampak pada pelaksanaan adat itu sendiri.

Semoga bermanfa’at. Camkanlah, belum pernah saya melihat pelaku adat Batak yang merana hidupnya, karena dia berbuat sesama umat manusia dan itu adalah salah satu misi Kristiani.

Syalom.

John B Pasaribu.

 

Last Updated (Wednesday, 23 November 2011 07:16)

 
More Articles...